DEMOKRASI YANG BAKU
`
DEMOKRASI YANG BAKU
Pemerintahan Jokowi, nama itu dewasa begitu kuat menggema di Republik Indonesia ini, mulai dari kaum urban hingga masyarakat yang ada di pelosok negeri sangat familiar dengan sosok bertubuh mungil yang bergaya agak nyeleneh, namun memiliki segudang gagasan dalam rangka membangun bangsa yang sudah lama larut dalam tidur panjang dengan mimpi kemiskinan, kesengsaraan, hingga kesenjangan sosial. Kita bisa bayangkan, siapa yang kenal nama Jokowi sepuluh tahun lalu? Berbeda dengan tokoh-tokoh bangsa ini yang populer dengan rekam jejak cukup panjang dalam dunia media tanah air. Sedangkan Jokowi hanyalah seorang pengusaha meubel di Solo dan baru bergelut dalam dunia politik, yang boleh dikatakan masih kemarin sore. Semua berawal ketika dirinya mampu membawa perubahan besar-besaran di Kota Solo, sehingga mendapat predikat sebagai satu wali kota terbaik di dunia. Satu gagasan yang dia buat saat memimpin Solo adalah ketika melakukan relokasi pedagang kaki lima yang sudah berjualan puluhan tahun di tempat yang sejatinya mengganggu ketertiban lalu lintas dan tidak sesuai dengan tata ruang Kota Solo saat itu.
Jokowi yang menyadari pedagang akan enggan untuk direlokasikan mengingat mereka sudah terlanjur nyaman berjualan di tempat itu, tidak serta merta menggunakan kekuatan Satpol PP untuk menggusur para pedagang, melainkan dengan inisiatif pendekatan kemanusiaan dengan mereka. Para pedagang yang jumlahnya ratusan tersebut diundang makan siang bersama di alun-alun Kota Solo hingga beberapa kali tanpa ada yang tahu apa maksud dan tujuan Jokowi mengundang mereka makan gratis secara rutin. Pada akhirnya para pedagang sendiri yang berinisiatif untuk menanyakan apa maksud dan tujuan Jokowi mengundang mereka makan secara terus menerus, dan Jokowi pun mengutarakan maksudnya terkait rencana relokasi yang akan ia lakukan terhadap para pedagang tersebut. Benar saja, cara yang dilakukan Jokowi itu berdampak efektif, karena para pedagang yang merasa berhutang budi dengan hati lapang memenuhi permintaan Jokowi dan mengangkat sendiri barang dagangan mereka ke tempat yang baru, tanpa ada kericuhan antara pedagang dan Satpol PP sebagaimana yang biasa terjadi di Indonesia.
Berkat gagasan brilian Jokowi yang kembali memimpin Solo untuk periode kedua, langsung dipinang untuk memimpin Ibu kota Jakarta pada Pilkada DKI 2012 lalu. Bersaing dengan lima pasang calon lainnya, Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahya Purnama yang di sapa sebagai (Ahok), lolos menuju putaran kedua untuk bersaing dengan mantan gubernur, Fauzi Bowo-Prijanto. Putaran kedua Pilkada DKI 2012 kerap dianalogikan orang dengan semut melawan gajah. Betapa tidak, Jokowi yang hanya diusung oleh PDIP dan Gerindra harus bersaing melawan Foke yang diusung oleh gabungan partai-partai besar seperti Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PKB, dan PPP. Prediksi sebagian kalangan yang menyatakan Jokowi akan kalah telak pada putaran kedua saat itu ternyata meleset. Pasangan Jokowi-Ahok berhasil memenangkan Pilkada DKI dan berhak untuk menjabat sebagai orang nomor 1 dan 2 di Ibu Kota periode 2012-2017.
Belum lagi masa jabatannya genap berusia dua tahun, Jokowi kembali dijagokan PDIP untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden tahun 2014. Meski sebagian kalangan menganggap keputusan PDIP untuk mengusung Jokowi pada Pilpres 2014 sebagai satu langkah yang keliru, karena akan menjadi blunder di mana calon yang mereka usung masih terhitung prematur untuk bersaing merebut kursi Republik Indonesia 1. Namun, ternyata Jokowi mampu mendongkrak suara PDIP pada Pileg 9 April 2014, sehingga partai berlambang Banteng Moncong Putih tersebut keluar sebagai pemenang pileg. Tidak berhenti sampai di situ, Jokowi yang bertarung pada Pilpres 2014 dan bersaing dengan Prabowo, mampu menang dengan perolehan 53,15% suara Nasional sesuai keputusan KPU pada 22 Juli 2014 lalu. Narasi singkat diatas seolah menggiring paradigma berpikir kita pada satu kesimpulan betapa mudahnya Jokowi merebut simpati masyarakat dengan waktu yang relatif singkat. Tentu apa yang dihasilkan Jokwi bukanlah sesuatu yang aneh mengingat ada banyak gebrakan besar yang dia lakukan sehingga masyarakat Indonesia memberikan amanat kepadanya untuk memimpin negara ini ke depan.
Melalui diskusi singkat dengan Sekretaris Pusham Unimed, Bapak Arief Wahyudi, saya memiliki catatan terkait hal apa yang membuat Jokowi begitu digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Beberapa gebrakan yang Jokowi lakukan selain proses relokasi PKL di Solo adalah, Jokowi mampu memupus stigma bahwa putra daerah memiliki kans lebih besar saat maju sebagai calon kepala daerah. Hal ini terbukti ketika beliau yang notabenenya adalah orang Solo dan berpasangan dengan Ahok orang Bangka Belitung, mampu mengungguli Foke yang merupakan putra asli betawi pada Pilkada DKI 2012.
Selain itu nuansa pencitraan yang selama ini selalu dilekatkan dengan Jokowi, ternyata juga tidak lepas dari satu gagasan besar yang mampu dia lakukan. Siapa tokoh besar yang tidak lepas dari pencitraan, Jokowi juga demikian tentunya. Yang membedakan adalah proses pencitraan yang selama ini dibangun oleh tokoh tanah air adalah satu contoh SBY, beliau mampu mengundang simpati publik karena berhasil memainkan peran sebagai kepala negara yang bertutur lembut, penuh kesabaran, dan berwajah tampan sehingga citra positif yang terbangun mutlak berasal dari dalam dirinya. Beda dengan Jokowi yang proses pencitraannya out in.
Konsep blusukan, pakaian sederhana, hingga tingkah yang agak nyeleneh dan tidak mengenal batasan dengan kaum proletar, tanpa dia sadari membangun citra positif dalam dirinya dan mengundang simpati masyarakat yang selama ini memang rindu dengan sosok ayom. Lebih lanjut, sadar atau tidak, Jokowi merupakan orang pertama yang mampu memenangkan Pilpres dengan status nonketua partai politik. Dengan begitu, Jokowi mampu menghapus stigma bahwa elit politik yang maju sebagai capres minimal harus memiliki kapasitas sebagai ketua partai. Bukan hal yang mustahil apabila pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu Megawati memaksakan kehendak untuk maju sebagai capres mengingat statusnya sebagai ketua PDIP, apalagi tidak ada calon yang memiliki peluang signifikan termasuk Prabowo saat itu. Namun, Megawati telah memperlihatkan sikap kedewasaan politiknya dengan menunjuk Jokowi yang dianggapnya lebih memiliki integritas dalam memimpin bangsa ini ke depan.
Hal lain yang mempu diciptakan Jokowi untuk merawat demokrasi yang sehat di Indonesia adalah perubahan paradigma konstituen. Jika selama ini calon presiden yang berinvestasi kepada rakyat agar memilih dirinya pada pilpres, namun Jokowi justru melakukan hal yang sebaliknya. Bak pilpres di AS saat Obama maju sebagai capres, rakyat sebagai pemangku kedaulatan negara justru beramai-ramai berinvestasi kepada calon presiden yang tentunya hal itu pertama kali terjadi di Indonesia. Inilah sekelumit gagasan-gagasan besar yang dapat kita petik dari cara menciptakan atmosfir demokrasi yang sehat ala Jokowi dan rakyat telah merasakan demokrasi sebagai suatu kegembiraan. Selamat datang era revolusi mental. Selamat bekerja semoga negeri ini bangkit dan maju.
Banda Aceh, 8 Oktober 2014
RAHMATSYAH
Sumber : http://ift.tt/1CTDVFM
DEMOKRASI YANG BAKU
Pemerintahan Jokowi, nama itu dewasa begitu kuat menggema di Republik Indonesia ini, mulai dari kaum urban hingga masyarakat yang ada di pelosok negeri sangat familiar dengan sosok bertubuh mungil yang bergaya agak nyeleneh, namun memiliki segudang gagasan dalam rangka membangun bangsa yang sudah lama larut dalam tidur panjang dengan mimpi kemiskinan, kesengsaraan, hingga kesenjangan sosial. Kita bisa bayangkan, siapa yang kenal nama Jokowi sepuluh tahun lalu? Berbeda dengan tokoh-tokoh bangsa ini yang populer dengan rekam jejak cukup panjang dalam dunia media tanah air. Sedangkan Jokowi hanyalah seorang pengusaha meubel di Solo dan baru bergelut dalam dunia politik, yang boleh dikatakan masih kemarin sore. Semua berawal ketika dirinya mampu membawa perubahan besar-besaran di Kota Solo, sehingga mendapat predikat sebagai satu wali kota terbaik di dunia. Satu gagasan yang dia buat saat memimpin Solo adalah ketika melakukan relokasi pedagang kaki lima yang sudah berjualan puluhan tahun di tempat yang sejatinya mengganggu ketertiban lalu lintas dan tidak sesuai dengan tata ruang Kota Solo saat itu.
Jokowi yang menyadari pedagang akan enggan untuk direlokasikan mengingat mereka sudah terlanjur nyaman berjualan di tempat itu, tidak serta merta menggunakan kekuatan Satpol PP untuk menggusur para pedagang, melainkan dengan inisiatif pendekatan kemanusiaan dengan mereka. Para pedagang yang jumlahnya ratusan tersebut diundang makan siang bersama di alun-alun Kota Solo hingga beberapa kali tanpa ada yang tahu apa maksud dan tujuan Jokowi mengundang mereka makan gratis secara rutin. Pada akhirnya para pedagang sendiri yang berinisiatif untuk menanyakan apa maksud dan tujuan Jokowi mengundang mereka makan secara terus menerus, dan Jokowi pun mengutarakan maksudnya terkait rencana relokasi yang akan ia lakukan terhadap para pedagang tersebut. Benar saja, cara yang dilakukan Jokowi itu berdampak efektif, karena para pedagang yang merasa berhutang budi dengan hati lapang memenuhi permintaan Jokowi dan mengangkat sendiri barang dagangan mereka ke tempat yang baru, tanpa ada kericuhan antara pedagang dan Satpol PP sebagaimana yang biasa terjadi di Indonesia.
Berkat gagasan brilian Jokowi yang kembali memimpin Solo untuk periode kedua, langsung dipinang untuk memimpin Ibu kota Jakarta pada Pilkada DKI 2012 lalu. Bersaing dengan lima pasang calon lainnya, Jokowi yang berpasangan dengan Basuki Tjahya Purnama yang di sapa sebagai (Ahok), lolos menuju putaran kedua untuk bersaing dengan mantan gubernur, Fauzi Bowo-Prijanto. Putaran kedua Pilkada DKI 2012 kerap dianalogikan orang dengan semut melawan gajah. Betapa tidak, Jokowi yang hanya diusung oleh PDIP dan Gerindra harus bersaing melawan Foke yang diusung oleh gabungan partai-partai besar seperti Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PKB, dan PPP. Prediksi sebagian kalangan yang menyatakan Jokowi akan kalah telak pada putaran kedua saat itu ternyata meleset. Pasangan Jokowi-Ahok berhasil memenangkan Pilkada DKI dan berhak untuk menjabat sebagai orang nomor 1 dan 2 di Ibu Kota periode 2012-2017.
Belum lagi masa jabatannya genap berusia dua tahun, Jokowi kembali dijagokan PDIP untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden tahun 2014. Meski sebagian kalangan menganggap keputusan PDIP untuk mengusung Jokowi pada Pilpres 2014 sebagai satu langkah yang keliru, karena akan menjadi blunder di mana calon yang mereka usung masih terhitung prematur untuk bersaing merebut kursi Republik Indonesia 1. Namun, ternyata Jokowi mampu mendongkrak suara PDIP pada Pileg 9 April 2014, sehingga partai berlambang Banteng Moncong Putih tersebut keluar sebagai pemenang pileg. Tidak berhenti sampai di situ, Jokowi yang bertarung pada Pilpres 2014 dan bersaing dengan Prabowo, mampu menang dengan perolehan 53,15% suara Nasional sesuai keputusan KPU pada 22 Juli 2014 lalu. Narasi singkat diatas seolah menggiring paradigma berpikir kita pada satu kesimpulan betapa mudahnya Jokowi merebut simpati masyarakat dengan waktu yang relatif singkat. Tentu apa yang dihasilkan Jokwi bukanlah sesuatu yang aneh mengingat ada banyak gebrakan besar yang dia lakukan sehingga masyarakat Indonesia memberikan amanat kepadanya untuk memimpin negara ini ke depan.
Melalui diskusi singkat dengan Sekretaris Pusham Unimed, Bapak Arief Wahyudi, saya memiliki catatan terkait hal apa yang membuat Jokowi begitu digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Beberapa gebrakan yang Jokowi lakukan selain proses relokasi PKL di Solo adalah, Jokowi mampu memupus stigma bahwa putra daerah memiliki kans lebih besar saat maju sebagai calon kepala daerah. Hal ini terbukti ketika beliau yang notabenenya adalah orang Solo dan berpasangan dengan Ahok orang Bangka Belitung, mampu mengungguli Foke yang merupakan putra asli betawi pada Pilkada DKI 2012.
Selain itu nuansa pencitraan yang selama ini selalu dilekatkan dengan Jokowi, ternyata juga tidak lepas dari satu gagasan besar yang mampu dia lakukan. Siapa tokoh besar yang tidak lepas dari pencitraan, Jokowi juga demikian tentunya. Yang membedakan adalah proses pencitraan yang selama ini dibangun oleh tokoh tanah air adalah satu contoh SBY, beliau mampu mengundang simpati publik karena berhasil memainkan peran sebagai kepala negara yang bertutur lembut, penuh kesabaran, dan berwajah tampan sehingga citra positif yang terbangun mutlak berasal dari dalam dirinya. Beda dengan Jokowi yang proses pencitraannya out in.
Konsep blusukan, pakaian sederhana, hingga tingkah yang agak nyeleneh dan tidak mengenal batasan dengan kaum proletar, tanpa dia sadari membangun citra positif dalam dirinya dan mengundang simpati masyarakat yang selama ini memang rindu dengan sosok ayom. Lebih lanjut, sadar atau tidak, Jokowi merupakan orang pertama yang mampu memenangkan Pilpres dengan status nonketua partai politik. Dengan begitu, Jokowi mampu menghapus stigma bahwa elit politik yang maju sebagai capres minimal harus memiliki kapasitas sebagai ketua partai. Bukan hal yang mustahil apabila pada Pilpres 9 Juli 2014 lalu Megawati memaksakan kehendak untuk maju sebagai capres mengingat statusnya sebagai ketua PDIP, apalagi tidak ada calon yang memiliki peluang signifikan termasuk Prabowo saat itu. Namun, Megawati telah memperlihatkan sikap kedewasaan politiknya dengan menunjuk Jokowi yang dianggapnya lebih memiliki integritas dalam memimpin bangsa ini ke depan.
Hal lain yang mempu diciptakan Jokowi untuk merawat demokrasi yang sehat di Indonesia adalah perubahan paradigma konstituen. Jika selama ini calon presiden yang berinvestasi kepada rakyat agar memilih dirinya pada pilpres, namun Jokowi justru melakukan hal yang sebaliknya. Bak pilpres di AS saat Obama maju sebagai capres, rakyat sebagai pemangku kedaulatan negara justru beramai-ramai berinvestasi kepada calon presiden yang tentunya hal itu pertama kali terjadi di Indonesia. Inilah sekelumit gagasan-gagasan besar yang dapat kita petik dari cara menciptakan atmosfir demokrasi yang sehat ala Jokowi dan rakyat telah merasakan demokrasi sebagai suatu kegembiraan. Selamat datang era revolusi mental. Selamat bekerja semoga negeri ini bangkit dan maju.
Banda Aceh, 8 Oktober 2014
RAHMATSYAH
Sumber : http://ift.tt/1CTDVFM