Tak ada budaya politik yang baik
Tak ada budaya politik di dunia ini yang baik, bahkan orang beragama yang kuat dan baik disaat ini ketika dia memasuki budaya politik pasti dia akan menjadi jahat atau pun menjadi tak peduli dengan perpedaan. Budaya politik disaat ini telah di salah artikan oleh banyak orang, yang dulunya orang berpolitik untuk membantu orang-orang yang tertindas dan orang yang di jadikan budak. Selain penyalahan arti ini, faktor yang menjadi kan budaya berpolitik menjadi sangat jahat dan sangat berbahaya adalah banyaknya kepentingan- kepentingan kelompok atau pun partai yang masuk di dalamnya. Bahkan kita dapat melihat bagaimana politik indonesia yang sangat kejam, kenapa saya dapat menilai seperti itu? Karna banyaknya korupsi, banyak kepentingsn umum yang di jatuhkan dan di ganti dengan kepentingan partai. Korupsi yang merupan bentuk kejahatan disini pun dikarnakan tak lain, banyak nya kader politik yang butuh makan namun dia tak punya kerjaan selain mengurusi partai yang dia anut, sehingga ketika seseorang menjadi pejabat akan memikirkan bagaimana saya dapat memberikan imbalan kepada partai saya, sehingga pemikiran untuk bagaimana mensejahterakan rakyat menjadi terabaikan. Dari kebiasaan yang seperti ini lah timbul kebudayaan baru, budaya materiel di dalam partai yaitu anggota partai yang menjadi bagian dalam pemerintahan harus memberikan uang yang digunakan sebagai penghidupan anggota lain.
Selain bukti yang saya jabarkan di atas tadi tentang jahatnya budaya politik ini, saya akan menunjukan bagaimana budaya politik tak mengerti perbedaan dan tak menghargai toleransi, bagaiamana tidak ketika kepentingan kelompok yang mempunyai anggota sangat besar dapat mengalahkan kelompok marjinal. Salah satu buktinya saya ambil bahwa politik di sini sangat jahat adalah UU yang mengatur pilkada dijadikan milik sepenuhnya anggota DPR yang dulunya merupakan milik rakyat, sedangkan ketika rakyat akan meminta tanggung jawab akan orang yang di pilih DPR rakyat akan kebinggungan, karena bahkan rakyat pun tak mengenal banyak anggota DPR. Rakyat pun tak banyak mengenal bagaimana sistem kerja yang dijalankan oleh anggota DPR yang merupakan wakil rakyat namun juga orang-orang yang membodohi rakyat dengan janji-janjinya. Bagaimana tidak anggota DPR yang seharunya memberikan ruang demokrasi yang sangat lebar dan harusnya di lebarkan sekarang malah di jadikan lebih ciut. Meskipun rakyat saat ini berdiam diri dan menahan diri tapi ketika pertahanan diri rakyat telah memuncak maka emosi rakyat akan menjadi murka, dan emosi rakyat ini pun di sertai dengan doa yang telah mereka kumpulkan bebarapa lama.
Norma apa yang telah dijadikan sebaigai dasar sehingga keputusan itu sampai di ambil, budaya politik dalam bentuk non metrial sangat telihat telah bergeser dan mengakibatkan budaya material juga ikut bergeser yang mulainya sangat mudah sekarang telah di bodohi. Yang seharusnya menjadikan negara makmur namun malah di salah artikan dan menjadikan anggota kelompoknya menjadi makmur. Dan yang semestinya Pancasila yang digunkan dasar budaya politiknya malah sekarang yang dijadikan dasar adalah partainya. Padahal Pancasila itu sendiri lahir terlebih dulu di bandingkan partai yang sangat abal-abal ini. Semoga apa yang menjadi bentuk ke egoisan orang-orang atau kelompok segera berhenti karena mereka sadar dan mengerti bagaiamana pentingnya rakyat bagi negara ini.
Sumber : http://ift.tt/108S3Nh
Selain bukti yang saya jabarkan di atas tadi tentang jahatnya budaya politik ini, saya akan menunjukan bagaimana budaya politik tak mengerti perbedaan dan tak menghargai toleransi, bagaiamana tidak ketika kepentingan kelompok yang mempunyai anggota sangat besar dapat mengalahkan kelompok marjinal. Salah satu buktinya saya ambil bahwa politik di sini sangat jahat adalah UU yang mengatur pilkada dijadikan milik sepenuhnya anggota DPR yang dulunya merupakan milik rakyat, sedangkan ketika rakyat akan meminta tanggung jawab akan orang yang di pilih DPR rakyat akan kebinggungan, karena bahkan rakyat pun tak mengenal banyak anggota DPR. Rakyat pun tak banyak mengenal bagaimana sistem kerja yang dijalankan oleh anggota DPR yang merupakan wakil rakyat namun juga orang-orang yang membodohi rakyat dengan janji-janjinya. Bagaimana tidak anggota DPR yang seharunya memberikan ruang demokrasi yang sangat lebar dan harusnya di lebarkan sekarang malah di jadikan lebih ciut. Meskipun rakyat saat ini berdiam diri dan menahan diri tapi ketika pertahanan diri rakyat telah memuncak maka emosi rakyat akan menjadi murka, dan emosi rakyat ini pun di sertai dengan doa yang telah mereka kumpulkan bebarapa lama.
Norma apa yang telah dijadikan sebaigai dasar sehingga keputusan itu sampai di ambil, budaya politik dalam bentuk non metrial sangat telihat telah bergeser dan mengakibatkan budaya material juga ikut bergeser yang mulainya sangat mudah sekarang telah di bodohi. Yang seharusnya menjadikan negara makmur namun malah di salah artikan dan menjadikan anggota kelompoknya menjadi makmur. Dan yang semestinya Pancasila yang digunkan dasar budaya politiknya malah sekarang yang dijadikan dasar adalah partainya. Padahal Pancasila itu sendiri lahir terlebih dulu di bandingkan partai yang sangat abal-abal ini. Semoga apa yang menjadi bentuk ke egoisan orang-orang atau kelompok segera berhenti karena mereka sadar dan mengerti bagaiamana pentingnya rakyat bagi negara ini.
Sumber : http://ift.tt/108S3Nh