Nabi, SBY, dan Kelemahan Demokrasi
Sudah berapa tahun kita, sebagai bangsa, berdemokrasi?
Anggap saja sudah 69 tahun, yaitu sejak kita merdeka.
Setelah rentang waktu selama itu, masihkah wajar jika dikatakan bahwa kita masih belajar berdemokrasi?
Orang sial manakah yang sudah belajar sesuatu yang sederhana selama 69 tahun, tapi tak juga mampu mengerti?
Atau jangan-jangan itu cuma retorika mereka yang tak mau mengakui bahwa demokrasi itu bukanlah sesuatu yang sempurna.
Demokrasi, sebagai sebuah hasil olah pikir anak manusia, pasti tak akan luput dari kelemahan. Begitu juga halnya dengan komunis, sosialis, oligarkhi, aristokrasi, totaliter, monarkhi, dan sejenisnya.
Ketidak sempurnaan itu adalah wajar dan manusiawi sekali, karena memang manusia ini tidak ada yang sempurna.
Secara kebetulan, demokrasi memiliki satu hal yang merupakan kelebihan sekali gus kelemahannya. Kelebihan demokrasi adalah sistimnya melibatkan semua pihak saat mengambil keputusan yang sangat penting, yakni memilih pemimpin. Sehingga rakyat merasa mereka punya andil, mereka diikutsertakan, diuwongke, kata orang Jawa.
Kekurangannya sendiri adalah : semua pihak, yang bodoh dan yang pandai, yang mengerti dan yang tidak, yang tahu dan yang tak tahu, ikut dilibatkan melakukan satu hal yang sama juga, yakni memilih pemimpin. Sistim satu orang satu suara, membuat orang bodoh, orang sakit, orang yang tak peduli, orang jahil, orang buta akal, orang tak berilmu, jadi ikut menentukan nasib bangsa, setidaknya untuk satu periode tertentu.
Bagaimanakah dalil akalnya, ada banyak orang yang tak tahu apa-apa, tak kenal siapa-siapa, tak punya wawasan kebangsaaan, tak menguasai ilmu kepemimpinan, tak mengetahui program dan visi misi calon, namun diberi hak untuk memilih pemimpin?
Dengan apa mereka memilih?
Apakah dengan hati nurani?
Hati nurani yang bagaimanakah yang mampu menuntun orang yang tak tahu menahu tentang sesuatu?
Apakah mereka akan memilih pemimpinnya dengan akal sehat?
Akal sehat yang bagaimanakah yang akan berbicara, jika ilmu tidak ada di dalam dada?
Coba tanyakan kepada abang becak, kuli bangunan, tukang butut, pedagang asongan, anak sekolah kelas 12, para babu, pencopet atau maling pisang dan lainnya, apakah dulu mereka mengerti program dan visi misi Jokowi dan Prabowo? Mampukah mereka membandingkannya lalu mengambil keputusan?
Jangan-jangan mereka hanya termakan iklan, terbuai pencitraan, atau korban hasutan pers.
Saat dimana masih banyak di antara kita yang cara mencoblos saja pun tak tahu, sungguh saat itu demokrasi belum layak untuk diterapkan.
Lalu, bagaimanakah keadaan demokrasi kita dewasa ini?
Sudahkah demokrasi mampu menghadirkan satu orang saja “Pemimpin”?
Apakah Soerkarno adalah seorang pemimpin, ketika Hatta mengundurkan diri dan Sutan Syahrir serta banyak kawan seperjuangan lainnya mati sengsara dipenjarakan oleh seorang Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Panglima Tertinggi dan Presiden Seumur Hidup?
Apakah Suharto adalah seorang pemimpin, saat jutaan orang yang tak tak terlibat langsung G30S/PKI, dikumpulkan lalu digorok lehernya, dan mayatnya bertimbun memenuhi sungai-sungai?
Apakah Abdurrahman Wahid adalah seorang pemimpin, ketika dekritnya tak laku karena tak punya dasar sama sekali?
Apakah Megawati adalah seorang pemimpin, padahal saat ia berkuasa, terjadilah kasus korupsi terbesar sepanjang sejarah bangsa, dan sampai kini pelakunya hilang raib tak tentu rimba? Siapa yang memerintahkan Jaksa Agung mengeluarkan SP3 itu?
Apakah SBY adalah seorang pemimpin, senyampang berbuat tegas saja pun ia tak pernah berani? Jika saja ia tegas depan belakang, memilih setuju atau tidak setuju, maka siapakah yang berani mengejeknya? Cuma orang tak waras yang mengejek ketegasan sebuah pilihan.
Jika saja SBY tegas berteriak : “Gue pilih pilkada tak langsung, masalah buat loe!”, maka paling juga Jokowi loper yang gigit dua jari, tak punya alasan untuk menghujat apalagi mengejek.
***
Lalu, jika demokrasi bukanlah pilihan terbaik, apa pilihan yang terbaik?
Nabi kalian pernah membahasnya atau tidak?
Kalau pernah, dia bilang apa?
Kalian saja yang ngeyel ikutan orang Yunani, padahal mereka bukanlah apa-apa kalian.
Sumber : http://ift.tt/1npjOvY
Anggap saja sudah 69 tahun, yaitu sejak kita merdeka.
Setelah rentang waktu selama itu, masihkah wajar jika dikatakan bahwa kita masih belajar berdemokrasi?
Orang sial manakah yang sudah belajar sesuatu yang sederhana selama 69 tahun, tapi tak juga mampu mengerti?
Atau jangan-jangan itu cuma retorika mereka yang tak mau mengakui bahwa demokrasi itu bukanlah sesuatu yang sempurna.
Demokrasi, sebagai sebuah hasil olah pikir anak manusia, pasti tak akan luput dari kelemahan. Begitu juga halnya dengan komunis, sosialis, oligarkhi, aristokrasi, totaliter, monarkhi, dan sejenisnya.
Ketidak sempurnaan itu adalah wajar dan manusiawi sekali, karena memang manusia ini tidak ada yang sempurna.
Secara kebetulan, demokrasi memiliki satu hal yang merupakan kelebihan sekali gus kelemahannya. Kelebihan demokrasi adalah sistimnya melibatkan semua pihak saat mengambil keputusan yang sangat penting, yakni memilih pemimpin. Sehingga rakyat merasa mereka punya andil, mereka diikutsertakan, diuwongke, kata orang Jawa.
Kekurangannya sendiri adalah : semua pihak, yang bodoh dan yang pandai, yang mengerti dan yang tidak, yang tahu dan yang tak tahu, ikut dilibatkan melakukan satu hal yang sama juga, yakni memilih pemimpin. Sistim satu orang satu suara, membuat orang bodoh, orang sakit, orang yang tak peduli, orang jahil, orang buta akal, orang tak berilmu, jadi ikut menentukan nasib bangsa, setidaknya untuk satu periode tertentu.
Bagaimanakah dalil akalnya, ada banyak orang yang tak tahu apa-apa, tak kenal siapa-siapa, tak punya wawasan kebangsaaan, tak menguasai ilmu kepemimpinan, tak mengetahui program dan visi misi calon, namun diberi hak untuk memilih pemimpin?
Dengan apa mereka memilih?
Apakah dengan hati nurani?
Hati nurani yang bagaimanakah yang mampu menuntun orang yang tak tahu menahu tentang sesuatu?
Apakah mereka akan memilih pemimpinnya dengan akal sehat?
Akal sehat yang bagaimanakah yang akan berbicara, jika ilmu tidak ada di dalam dada?
Coba tanyakan kepada abang becak, kuli bangunan, tukang butut, pedagang asongan, anak sekolah kelas 12, para babu, pencopet atau maling pisang dan lainnya, apakah dulu mereka mengerti program dan visi misi Jokowi dan Prabowo? Mampukah mereka membandingkannya lalu mengambil keputusan?
Jangan-jangan mereka hanya termakan iklan, terbuai pencitraan, atau korban hasutan pers.
Saat dimana masih banyak di antara kita yang cara mencoblos saja pun tak tahu, sungguh saat itu demokrasi belum layak untuk diterapkan.
Lalu, bagaimanakah keadaan demokrasi kita dewasa ini?
Sudahkah demokrasi mampu menghadirkan satu orang saja “Pemimpin”?
Apakah Soerkarno adalah seorang pemimpin, ketika Hatta mengundurkan diri dan Sutan Syahrir serta banyak kawan seperjuangan lainnya mati sengsara dipenjarakan oleh seorang Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat, Panglima Tertinggi dan Presiden Seumur Hidup?
Apakah Suharto adalah seorang pemimpin, saat jutaan orang yang tak tak terlibat langsung G30S/PKI, dikumpulkan lalu digorok lehernya, dan mayatnya bertimbun memenuhi sungai-sungai?
Apakah Abdurrahman Wahid adalah seorang pemimpin, ketika dekritnya tak laku karena tak punya dasar sama sekali?
Apakah Megawati adalah seorang pemimpin, padahal saat ia berkuasa, terjadilah kasus korupsi terbesar sepanjang sejarah bangsa, dan sampai kini pelakunya hilang raib tak tentu rimba? Siapa yang memerintahkan Jaksa Agung mengeluarkan SP3 itu?
Apakah SBY adalah seorang pemimpin, senyampang berbuat tegas saja pun ia tak pernah berani? Jika saja ia tegas depan belakang, memilih setuju atau tidak setuju, maka siapakah yang berani mengejeknya? Cuma orang tak waras yang mengejek ketegasan sebuah pilihan.
Jika saja SBY tegas berteriak : “Gue pilih pilkada tak langsung, masalah buat loe!”, maka paling juga Jokowi loper yang gigit dua jari, tak punya alasan untuk menghujat apalagi mengejek.
***
Lalu, jika demokrasi bukanlah pilihan terbaik, apa pilihan yang terbaik?
Nabi kalian pernah membahasnya atau tidak?
Kalau pernah, dia bilang apa?
Kalian saja yang ngeyel ikutan orang Yunani, padahal mereka bukanlah apa-apa kalian.
Sumber : http://ift.tt/1npjOvY