Suara Warga

5 Persamaan Demokrasi dengan Genderuwo menurut Petruk

Artikel terkait : 5 Persamaan Demokrasi dengan Genderuwo menurut Petruk

14118901861968199740

Tengah malam Petruk buka internet buat liat hasil pertandingan sepakbola. Tak tahunya pikirannya dijejali berita soal demokrasi di media massa. Apakah kita akan memilih gubernur, bupati atau walikota secara langsung atau tidak. Di tengah kebingungan, Petruk pun melakukan semedi sambil cari wahyu di google. Setelah diresapi, wahyu itu mengisyaratkan adanya persamaan demokrasi dengan genderuwo.

1. Demokrtasi mirip dengan genderuwo dalam hal bahwa keduanya sama-sama mitos. Konon dengan demokrasi kita akan maju dan sejahtera, tapi negara-negara yang sering dianggap tidak sungguh-sungguh demokrastis malah justru lebih banyak yang maju dan sejahtera seperti China, Singapura, Rusia, Iran bahkan Inggris yang aristokratik itu. Sementara kita yang demokrastis masih banyak yang kena busung lapar, jadi gelandangan, dan mati di ranjang reyot karena tidak kuat bayar untuk berobat ke rumah sakit. Mirip-mirip genderuwo yang konon mau ngasih banyak rejeki setelah dikasih pisang ambon tapi ternyata cuma ngibulin orang miskin yang kehabisan akal.

2. Demokrasi sama dengan Genderuwo dalam hal keduanya sama-sama suka sajen. Sistem totaliter juga menyukai sajen, tapi demokrasilah yang bikin sajen jadi merata. Dengan demokrasi, sajen diberikan mulai pejabat tingkat pusat sampai kadus; baik pejabat negara, pengusaha, aktivis, sampai seniman dan tokoh agama, sajen dibagikan secara merata lewat demokrasi. Entah berapa duit negara dan swasta dibagikan lewat sistem ini. Atau jangan-jangan distribusi sajen yang bikin demokrasi bisa hidup sehingga orang-orang mau setia membela mati-matian.

3. Demokrasi juga sama dengan Genderuwo dalam hal keduanya sama-sama suka tumbal. Entah berapa anak muda jadi tumbal untuk terselenggaranya demokrasi. Dan entah berapa banyak negara dibom, diserang, diberangus, rakyatnya mati, dengan alasan tidak demokratis. Bedanya, kalau genderuwo hanya minta tumbal seekor ayam, demokrasi minta tumbal manusia, terutama aktivis yang kebanyakan baca buku samapai lupa melihat kenyataan.

4. Demokrasi sama dengan genderuwo dalam hal keduanya sama-sama pintu untuk membuka pasar. Bedanya, genderuwo membuka pasar setan, kalau demokrsai digunakan untuk membuka pasar bebas. Adalah berkat demokrasi peran negara jadi terbatas sehingga pasar bisa bergerak dengan leluasa, dan tentu saja pemenangnya adalah kaum kaya yang lebih punya banyak modal, dan terutama lagi perusahaan asing yang ingin menguasai alam kita dan menjadikan rakyat kita jadi bangsa konsumen kelas babu. Jadi ingat para mahasiswa 98 yang berkoar-koar melawan Soeharto, betapa mereka sebenarnya cuma peluru dan tumbal yang digunakan oleh para kapitalis global untuk membuka pintu ekonomi liberal di republik ini. Meski demikian, bukan berarti Petruk suka dengan Orde Baru: sekedar tidak naïf biar tidak mudah diprovokasi para aktivis heroik dan megalomaniak yang ingin jadiin Petruk sebagai tumbal dari agenda politiknya.

5. Demokrasi sama dengan genderuwo dalam hal keduanya sama-sama makhluk halus yang tidak begitu jelas wujud dan manfaatnya. Layaknya makhluk halus, demokrasi ada banyak sekali macamnya, tapi mana yang sejati tidak pernah disepakati. China, Iran dan Suriah sering diserang oleh Amerika karena dianggap tidak demokratis, meski sudah melakukan Pemilu. Sementara Saudi dibiarkan saja, meski jarang melakukan pemilu. Ah, jadi ingat kata Plato: Demokrasi adalah cara memilih pemimpin pakai lotere. Jadi, kalau pemilihnya penjudi kelas teri, pemimpin yang dipilih tidak jauh dari situ. Jangan harap yang dipilih seorang pemimpin yang bijaksana. Namanya juga sistem politik mirip lelembut alias makhluk halus!

Setelah membaca secara seksama wahyu tersebut, yaitu persamaan demokrasi dengan genderuwo, sekarang Petruk menjadi sadar bahwa demokrasi tidak perlu dibela mati-matian dengan mengerahkan banyak sajen, tumbal, pikiran dan apalagi keyakinan. Cukup diikuti semampunya saja, sambil menghitung kemungkinannya. Kalau demokrasi bikin wayang kulit laris, Petruk akan mendukung semampunya, karena bikin dia jadi sering pentas. Tapi kalau demokrasi cuma bikin orang banyak bicara atas nama kebebasan sampai wayang tidak laku lagi, ya mending gak usah ikut-ikutan kecuali saat pilihan lurah, daripada dimakan genderuwo yang menyeramkan itu….

Sumber Jogja Review




Sumber : http://ift.tt/YugmEe

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz