Suara Warga

Kau yang Memulai Kau yang Mengakhiri”… Sebuah lagu buat Pak SBY

Artikel terkait : Kau yang Memulai Kau yang Mengakhiri”… Sebuah lagu buat Pak SBY

Cuplikan lagu dangdut yang cukup terkenal diera 80’an ini sangat cocok menggambarkan pembahasan UU pilkada yang sekarang menjadi perdebatan hangat di semua lapisan masyarakat. RUU ini inisiatornya adalah pemerintah sendiri dalam hal ini diwakilkan oleh menteri dalam negeri. Tetapi perlu diingat bahwa menteri daam negeri tentunya tidak bisa berbuat banyak dan melakukan apapun tanpa persetujuan ataupun sepengetahuan dari Presiden sebagai atasannya langsung. Terutama untuk masalah sepenting ini.

Maka mulai bergulirlah “lagu” tersebut dengan segala macam perdebatan mengenai RUU ini sampai pada puncaknya adalah aksi walk out anggota fraksi partai Demokrat dalam sidang paripurna pengambilan keputusan, mereka beralasan opsi yang ditawarkan hanya 2 Langsung atau tidak Langsung. Opsi yang ketiga Langsung dengan 10 syarat perbaikan tidak diakomodir.

Apa yang mau penulis ingin sampaikan adalah Sikap Preiden kita yang Notebene adalah Pemimpin Pemerintahan membawahi menteri dalam negeri, serta dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat yang membawahi fraksi deokrat di DPR. Seolah2 pada saat pengambilan keputusan walk out, tidak bisa berbuat apa2, seolah2 masyarakat dipertontonkan secara gamblang bagaimana manuver bawahan Presiden yang dalam dua periode dipilih langsung tersebut, seperti “melawan” apa yang telah dikatakan Presiden dalam wawancara beberapa hari sebelum berangkat ke luar negeri.

Rakyat tentunya tidak bodoh dalam melihat realitas politik, atau apapun itu yang dipertontonkan oleh para anggota dewan yang merasa perlu dihormati tersebut, sangat gampang memilih karena esensinya Cuma ada 2 pilihan langsung atau tidak langsung. Titik. Embel2 diluar itu seharusnya diminimalkan dulu, kalau memang dari hati yang terdalam susah menjatuhkan pilihan ke salah satu pilihan.

Ambil contoh begini : kita disuruh memilih liburan satunya ke Amerika satunya ke Eropa. Pilihannya ya dikasih 2 itu, tetapi tiba-tiba ada pihak yang mengusulkan saya mau ke eropa kalo singgah ke Ingris, Belanda dan Perancis. Kalau usul saya tidak dituruti saya ikut suara terbanyak, padahal dia tau suara terbanyak akan pergi ke Amerika. Tentunya logika sederhana adalah esensi adalah pilih pergi ke eropa dulu. Itu yang di golkan dulu, masalah negara mana yang mau dituju ya bisa dibicarakan. Sangat menggelikan dan seolah2 logika berfikir mereka telah tidak ada. Dimulut kemau ke Eropa tapi nurut suara terbanyak ke Eropa

Sekarang setelah semua pihak dan rakyat Indonesia bereaksi keras, Pak SBY mencari semua jalan untuk mengakhiri “lagu” ini dengan cantik. Semua celah seolah2 dicari, kegiatan mencari “celah” ini dipublikasikan semua ke media massa, berharap masyarakat dapat memaafkan “kekhilafan” yang telah dibuat. Dari mulai press konfress di Amerika, di Jepang, Di Halim dan terkahir di Hotel Sultan, Pak SBY berusaha “memperbaiki” keadaan ini.

Lepas dari itu semua kami selaku warga negara Indonesia hanya menuntut kejujuran dari para pemimpin negara ini. Kejujuran terhadap janji selama kampanye,, juga kejujuran terhadap diri anda sendiri yang disumpah untuk bekerja demi kemajuan bangsa dan negara ini. Pro Kontra Pilkada langsung maupun tidak langsung sudah dimulai dan sekarang sedang berlangsung… kami selaku warga negara menunggu Pak SbY untuk mengakhiri “lagu” ini dengan manis…..

Salam…




Sumber : http://ift.tt/1vrHS03

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz