Ahok Mundur Dari Gerindra, Konspirasi dengan Jokowi?
Ahok tiba-tiba keluar dari partai Gerindra. Kita semua tahu alasannya. Namun mari menginternalisasi alasan tersebut. Apakah hanya karena perbedaan pendapat? Bukankah perbedaan pendapat dalam politik itu biasa? Ingatan kita masih menyimpan tiga orang politisi partai Golkar yang terancam tak bisa dilantik sebagai anggota DPR periode lima tahun ke depan karena sikap politik mereka yang mendukung Jokowi – JK pada pilpres lalu. Mereka tidak mengundurkan diri. Tetapi diundurkan. Artinya, ketiga orang tersebut bisa saja tidak diundurkan kalau petinggi partai beringin mau menerima alasan perbedaan pendapat. Selain kasus ini, ada juga peristiwa perbedaan pendapat antar sesama anggota partai yang menghiasi media informasi beberapa tahun terakhir. Misalnya sikap politisi PKB, Lily Wahid dkk yang kerap berbeda pendapat ddi DPR. Maksud saya, terlalu sederhana seseorang mundur dari keanggotaan partai hanya karena berbeda pendapat. Lalu?
Saya duga ada faktor lain dan faktor itu begitu kuat hingga mampu mempengaruhi komitmen politik Ahok. Faktor tersebut mestilah hal yang sesuai dengan jiwa dan karakteristik politik Ahok. Dalam sepak terjangnya, Ahok banyak memperjuangkan kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Inilah karakter politik Ahok. Dan hanya ini pula yang mampu mempengaruhi komitmen Ahok dalam berpolitik. Selain itu, tidak ada! Sebab bahkan nyawanya sendiri pun tak dipedulikannya asalkan yang dilakukannya demi kepentingan orang banyak. Artinya, bagi Ahok, kepentingan rakyat itulah yang utama. Sebagaimana yang sering ia katakan bahwa ia ada dalam politik untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Lalu siapa yang menghembuskan pengaruh terhadap Ahok?
Siapa lagi? Siapa teman dekat Ahok selama lebih dari dua tahun terakhir? Hanya Jokowi. Mungkinkah Jokowi berada di balik pengunduran diri Ahok dari Gerindra? Bisa! Ahok beberapa kali mengatakan, Jakarta akan lebih baik bila Jokowi menjadi presiden. Pernyataan ini mengindikasikan ada konspirasi terselubung antara Jokowi dengan Ahok. Dan konspirasi tersebut dimulai dari Jokowi harus menjadi presiden. Kita tahu, rencana kedua orang ini berhasil. Jokowi telah terpilih sebagai presiden. Saatnya memainkan rencana berikutnya, Ahok mundur dari partai Gerindra. Mengapa hal ini penting? Sebab Gerindra merupakan partai politik yang mengusung rival Jokowi dalam pilpres lalu dan partai yang dimotori oleh Prabowo ini telah berjanji untuk meneruskan perjuangan mereka secara politik. Sebagai anggota partai, tentu Ahok harus tunduk pada aturan dan kebijakan partai. Bila hal itu betul-betul terjadi, komunikasi antara Jokowi dan Ahok dalam upaya membangun Jakarta akan menemui banyak hambatan. Sebab Ahok tak bisa mengabaikan begitu saja kebijakan partainya. Ini kan kontra produktif dengan komitmen kedua orang hebat ini untuk membangun Jakarta dari Merdeka dan Balai Kota. Padahal, komunikasi politik yang effektif merupakan komunikasi yang dibangun dengan rasa nyaman. Solusinya, Ahok harus mundur. Gayung bersambut. Isu pilkada tak langsung yang didukung Gerindra tak sejalan dengan pemikiran Ahok. Inilah timing-nya.
Sumber : http://ift.tt/1y3Lbjr