Uang: PKS Hancur (Bag. 2)
Banyak yang mengkritik BBM naik, jadilah banyak yang mengutuk Government (Pemerintah). Banyak artikel yang menjadi kategori terpopuler adalah tentang BBM naik, mulai dari Republika, Tempo, Liputan6, BBC Indonesia, Merdeka, Tribun, Kompas, serta ANTARA. Boleh menduga, orang banyak pun ikut melongok menonotn tv.
Lihat sejarahnya! [hikmah dari History of Money Changer, Hitchcock, 2006]
Negara berutang ke Bankir, kemudian bikin tambah banyak utang karena riba, kemudian Si Bankir menawarkan utang lagi dengan jaminan pajak yang diambil dari rakyat. Ini awal pajak berlaku, rakyat bayar pajak atau penjara. Tentu banyak yang memilih bayar pajak.
Kemudian bunga tidak pernah terbayarkan, utang tambah lagi. Ini lah penipuan. Duit bunga tidak beredar di rakyat. Hanya beredar di otak rakyat. Ini lah penipuan.
Kenapa pemerintah tambah utang, sebab akal-akalan Bankir saja. Bankir yang bikin perang tersulut, Bankir yang bikin ketegangan. Bankir yang bikin macam-macam, bikin problem. Memang tidak semua problem karena Bankir, namun hampir semua problem merupakan diferensiasi dari problem awal yang dibikin Bankir.
Duit? Kenapa bisa diizinkan berkembang biak? Bukankah tidak logis? Bukankah seharusnya yang berkembang biak itu adalah produk? Ya bukan duit.
Kemudian makin jadi utang. Makin jadi pajak [atas rakyat] naik. Makin naik pula harga barang/jasa. Kabarnya nilai rupiah tiap tahun turun 10%. Kayaknya memang benar. Dulu tahun 97-an permen satunya seharga 25 rupiah, sekarang tiga seharga 500 rupiah. sebagaimana pula BBM makin naik harganya.
Ringkasnya: karena duit berkembang biak, duit pun turun nilainya. Pangkal problemnya ada di “riba”. Riba dilarang logika apalagi agama.
Jadi jangan mengutuk Pemerintah, tapi kutuk diri kita sendiri karena ridho dengan sistem riba atau karena tidak mau tahu sejarah duit.
Untuk sementara kita ikut main aturan yang ada, kemudian diam-diam membalikkan, ke sistem non-riba! Jangan ke mana-mana bahasannya: monopoli BBM lah, ekspor BBM lah, produksi BBM lah, modal pemberdayaan lah, distribusi tersendatlah, dan lah lah lainnya. Bahas aja riba itu!
Jangan tanya saya solusinya? Anda sendiri sebenarnya tahu bukan? Paling tidak, dimulai dari evaluasi kognitif (pengetahuan). Itu saja butuh waktu lama. Bertahun-tahun kali.
Piz brade, siste…
Read more:
http://ift.tt/1BZtHnV
http://ift.tt/1BZtHnZ
http://ift.tt/1qmQYLe
http://ift.tt/1l0QG7c
http://ift.tt/1tKEA7q
http://ift.tt/1BZtJfw
http://ift.tt/1BYvWHY
http://ift.tt/YU0efU
http://ift.tt/1vhtGKa
http://ift.tt/1qJ4vcn
http://ift.tt/1BZtHEn
http://ift.tt/1BZtHEn
http://ift.tt/1zxJS7K
Bersambung…
Sumber : http://ift.tt/1BZtHEo
Lihat sejarahnya! [hikmah dari History of Money Changer, Hitchcock, 2006]
Negara berutang ke Bankir, kemudian bikin tambah banyak utang karena riba, kemudian Si Bankir menawarkan utang lagi dengan jaminan pajak yang diambil dari rakyat. Ini awal pajak berlaku, rakyat bayar pajak atau penjara. Tentu banyak yang memilih bayar pajak.
Kemudian bunga tidak pernah terbayarkan, utang tambah lagi. Ini lah penipuan. Duit bunga tidak beredar di rakyat. Hanya beredar di otak rakyat. Ini lah penipuan.
Kenapa pemerintah tambah utang, sebab akal-akalan Bankir saja. Bankir yang bikin perang tersulut, Bankir yang bikin ketegangan. Bankir yang bikin macam-macam, bikin problem. Memang tidak semua problem karena Bankir, namun hampir semua problem merupakan diferensiasi dari problem awal yang dibikin Bankir.
Duit? Kenapa bisa diizinkan berkembang biak? Bukankah tidak logis? Bukankah seharusnya yang berkembang biak itu adalah produk? Ya bukan duit.
Kemudian makin jadi utang. Makin jadi pajak [atas rakyat] naik. Makin naik pula harga barang/jasa. Kabarnya nilai rupiah tiap tahun turun 10%. Kayaknya memang benar. Dulu tahun 97-an permen satunya seharga 25 rupiah, sekarang tiga seharga 500 rupiah. sebagaimana pula BBM makin naik harganya.
Ringkasnya: karena duit berkembang biak, duit pun turun nilainya. Pangkal problemnya ada di “riba”. Riba dilarang logika apalagi agama.
Jadi jangan mengutuk Pemerintah, tapi kutuk diri kita sendiri karena ridho dengan sistem riba atau karena tidak mau tahu sejarah duit.
Untuk sementara kita ikut main aturan yang ada, kemudian diam-diam membalikkan, ke sistem non-riba! Jangan ke mana-mana bahasannya: monopoli BBM lah, ekspor BBM lah, produksi BBM lah, modal pemberdayaan lah, distribusi tersendatlah, dan lah lah lainnya. Bahas aja riba itu!
Jangan tanya saya solusinya? Anda sendiri sebenarnya tahu bukan? Paling tidak, dimulai dari evaluasi kognitif (pengetahuan). Itu saja butuh waktu lama. Bertahun-tahun kali.
Piz brade, siste…
Read more:
http://ift.tt/1BZtHnV
http://ift.tt/1BZtHnZ
http://ift.tt/1qmQYLe
http://ift.tt/1l0QG7c
http://ift.tt/1tKEA7q
http://ift.tt/1BZtJfw
http://ift.tt/1BYvWHY
http://ift.tt/YU0efU
http://ift.tt/1vhtGKa
http://ift.tt/1qJ4vcn
http://ift.tt/1BZtHEn
http://ift.tt/1BZtHEn
http://ift.tt/1zxJS7K
Bersambung…
Sumber : http://ift.tt/1BZtHEo