"Turbulensi Logika" Sang Mantan Jenderal
Sinyal kuat kekalahan Prabowo dalam pilpres 2014 benar-benar membuat bangunan logikanya terlihat goyah dan kehilangan keseimbangan. Akibatnya sangat fatal. Sang mantan jenderal ini mengalami “turbulensi logika” yang cukup heboh. Hal ini terindikasi dari berbagai pernyataan dan tindakannya yang semakin tidak beraturan dan cenderung menjauh dari logika sehat.
Indikasi Pertama, terkait dengan hasil quick count pilpres 2014. Prabowo mengecam keras kubu Jokowi-JK yang telah mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hasil quick count dari tujuh lembaga survey kredibel. Namun sungguh kontradiksi dengan ucapannya, eks Pangkostrad ini ternyata juga mendeklarasikan kemenangannya - dengan cara melakukan sujud syukur - berdasarkan hasil quick count dari empat lembaga survey abal-abal yang tiga diantaranya digalang oleh pemilik TV One, Abu Rizal Bakrie (ARB).
Akibatnya terjadilah “krisis kepercayaan” terhadap hasil quick count secara keseluruhan. Manuver lembaga survey abal-abal yang dilancarkan kubu capres/cawapres no urut 1 terbukti sangat efektif dalam menciptakan “krisis kepercayaan” terhadap hasil quick count di kalangan masyarakat awam. Untuk menengahinya sebagian pihak menyarankan untuk menunggu hasil resmi penghitungan KPU pada tanggal 22 Juli 2014. Dan Prabowo pun kembali menyatakan kesiapannya untuk menerima apapun hasil penghitungan KPU.
Indikasi Kedua, menjelang pengumuman hasil pilpres 2014 yang diumumkan KPU. Menyadari bahwa dirinya akan kalah, dan dengan “komporan” orang-orang disekelilingnya, mantan Danjen Kopassus ini menyatakan menarik diri dari proses pilpres 2014. Padahal berulang kali ia menyatakan siap menang dan siap kalah. Namun ternyata mantan jenderal itu mengingkari pernyataannya sendiri.
Indikasi Ketiga, terkait gugatannya ke Mahkamah Konstitusi. Tanpa didukung data yang valid dan kuat, terlihat betapa absurdnya gugatan PHPU sang mantan jenderal. Apalagi ditambah dengan berbagai pernyataannya seperti “tersakiti” atau menyamakan pemilu di Indonesia seperti pemilu di Korut yang makin menaikkan “dosis absurditas” gugatannya. Dan hal ini makin diperparah dengan berbagai ungkapan para pendukungnya seperti “titisan Allah” atau “mendesak Allah”.
Dalam dunia aerodinamika, kemunculan turbulensi sangat membahayakan penerbangan pesawat terbang. Turbulensi dapat mengacaukan dan menjatuhkan pesawat terbang. Bagaimana dengan “turbulensi logika” sang mantan jenderal, “pesawat” siapa yang akan terkena bahaya? Apakah “pesawat kita bersama”, NKRI, yang akan terkena bahaya? Saya kira bagi NKRI bahayanya tidak akan terlalu signifikan. Justru yang paling terkena dampak paling signifikan dari “turbulensi logika” sang mantan jenderal adalah “pesawat” capres/ cawapres no urut 1. Dampak ini bisa dibilang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Mudah dipahami bila “pesawat” capres/cawapres no urut 1 akan jatuh dan nyungsep secara memalukan.
Sumber : http://ift.tt/1sQqS3h
Indikasi Pertama, terkait dengan hasil quick count pilpres 2014. Prabowo mengecam keras kubu Jokowi-JK yang telah mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hasil quick count dari tujuh lembaga survey kredibel. Namun sungguh kontradiksi dengan ucapannya, eks Pangkostrad ini ternyata juga mendeklarasikan kemenangannya - dengan cara melakukan sujud syukur - berdasarkan hasil quick count dari empat lembaga survey abal-abal yang tiga diantaranya digalang oleh pemilik TV One, Abu Rizal Bakrie (ARB).
Akibatnya terjadilah “krisis kepercayaan” terhadap hasil quick count secara keseluruhan. Manuver lembaga survey abal-abal yang dilancarkan kubu capres/cawapres no urut 1 terbukti sangat efektif dalam menciptakan “krisis kepercayaan” terhadap hasil quick count di kalangan masyarakat awam. Untuk menengahinya sebagian pihak menyarankan untuk menunggu hasil resmi penghitungan KPU pada tanggal 22 Juli 2014. Dan Prabowo pun kembali menyatakan kesiapannya untuk menerima apapun hasil penghitungan KPU.
Indikasi Kedua, menjelang pengumuman hasil pilpres 2014 yang diumumkan KPU. Menyadari bahwa dirinya akan kalah, dan dengan “komporan” orang-orang disekelilingnya, mantan Danjen Kopassus ini menyatakan menarik diri dari proses pilpres 2014. Padahal berulang kali ia menyatakan siap menang dan siap kalah. Namun ternyata mantan jenderal itu mengingkari pernyataannya sendiri.
Indikasi Ketiga, terkait gugatannya ke Mahkamah Konstitusi. Tanpa didukung data yang valid dan kuat, terlihat betapa absurdnya gugatan PHPU sang mantan jenderal. Apalagi ditambah dengan berbagai pernyataannya seperti “tersakiti” atau menyamakan pemilu di Indonesia seperti pemilu di Korut yang makin menaikkan “dosis absurditas” gugatannya. Dan hal ini makin diperparah dengan berbagai ungkapan para pendukungnya seperti “titisan Allah” atau “mendesak Allah”.
Dalam dunia aerodinamika, kemunculan turbulensi sangat membahayakan penerbangan pesawat terbang. Turbulensi dapat mengacaukan dan menjatuhkan pesawat terbang. Bagaimana dengan “turbulensi logika” sang mantan jenderal, “pesawat” siapa yang akan terkena bahaya? Apakah “pesawat kita bersama”, NKRI, yang akan terkena bahaya? Saya kira bagi NKRI bahayanya tidak akan terlalu signifikan. Justru yang paling terkena dampak paling signifikan dari “turbulensi logika” sang mantan jenderal adalah “pesawat” capres/ cawapres no urut 1. Dampak ini bisa dibilang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Mudah dipahami bila “pesawat” capres/cawapres no urut 1 akan jatuh dan nyungsep secara memalukan.
Sumber : http://ift.tt/1sQqS3h