Suara Warga

Kabinet Menteri Ala "Tukang Kayu"

Artikel terkait : Kabinet Menteri Ala "Tukang Kayu"

Sisa-sisa berita pemilu ternyata masih hangat untuk di santap. Bahkan masih bersambung ke episode berikutnya. Mulai dari episode gugatan MK sampai ke episode gossip pengisi kursi panas calon menteri kabinet Jokowi - JK. Sementara Pak De Jokowi – JK malah masih sabar dan santai menunggu hasil putusan MK. Di belahan dunia maya, khususnya di Kompasiana porsi berita seputar trend pemilu sudah mulai berkurang porsinya. Mungkin karena lama-kelamaan rakyat kecil juga sudah mulai bosan sendiri mengikuti episode demi episode seputar pemilu. Termasuk saya, sudah mulai bosan dan mulai mikir lagi bagaimana memperbaharui misi dan strategi mencari rezeki mempertahankan agar asap dapur dirumah tetap mengepul.

Kalau saya sendiri tidak terlalu ngotot ikut-ikutan memikirkan soal gugatan kubu Prabowo – Hatta Rajasa ke MK. Ikut-ikutan galau memikirkan gugatan itu membuat saya jadi paranoid takut lama-lama malah berubah jadi pemikir ulung. Sementara istri di rumah lebih menuntut saya jadi pencari duit ulung. Saya merasa yakin gugatan ke MK itu hanya buang-buang energi saja, sia-sia dan tidak akan merubah kenyataan. Saya bersyukur dan merasa ge-er sendiri karena kadang-kadang merasa hanya saya dan istri saja yang otaknya masih waras mendukung Jokowi di kampung halaman. Wong jangankan di kampung , seisi satu kota saya bisa dikatakan pendukung capres no. 1 semua, kisaran quick count ndableg ala saya 80% milik suara Prabowo semua. Cuma saya, istri dan penjual nasi goreng disamping warung saya saja yang memilih Jokowi – JK. Tokh pada kenyataannya di hari keputusan final real count KPU secara nasional capres pilihan saya yang akan di daulat menjadi RI 1 ke-7 berikutnya.

Sekarang di media online trend kursi panas calon menteri juga mulai panas dibicarakan semua netizen. Kadang asik juga sih baca-baca artikel yang berbau gosok-menggosok soal siapa nama-nama calon menteri. Lucu juga membaca komentar-komentar netizen yang phobia terhadap perkiraan nama-nama calon menteri versi dunia maya. Kalau dijabarkan secara visual mungkin wajah komentator-komentator itu sudah ringsek pucat pasi seperti orang yang ketakutan melihat setan. Atau mungkin juga mereka hanya akting kata-kata berharap masih bisa memprovokasi dan menakut-nakuti rakyat kecil pendukung Pak De Jokowi. Mereka masih mengumpulkan sisa-sisa tenaga menjatuhkan Pak De Jokowi – JK. Mbok sisa tenaganya dipergunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. “Life goes on” gitu-loh. Rakyat kecil sudah mulai pada sibuk semua memikirkan nasib mereka esok hari. Semua sudah mulai kembali bekerja dan berkarya.

Siapa-pun calon menterinya itu urusan Jokowi – JK. Tidak mungkinlah Jokowi asal main ceplok telor saja dalam memilih calon-calon menteri. Gaya provokasi menghasut dan mengorek-ngorek kesalahan orang lain yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan saya pikir itu bukan budaya asli bangsa Indonesia. Pasti itu budaya bangsa sinetronesia sejuta episode. Lihat saja sepenggal episode setiap sinetron di televisi swasta disana bisa ditemukan tokoh-tokoh yang mewakili ikon seperti Fadly Zon dan Fahri Hamzah, sebenarnya cikal bakal kampanye negatif dan kampanye hitam tehniknya sudah populer duluan di dalam sinetron-sinetron televisi swasta. Siapa-pun calon menteri-nya percuma! Karena Pak De Jokowi seorang “Tukang Kayu”. Seorang “Tukang Kayu” juga mirip dengan “Pekerja Seni”. Misalnya, saat membuat kursi seorang tukang kayu akan melakukan kontrol berlapis dilapagan mulai dari awal pengerjaan sampai finishing dan menikmati hasilnya dengan secangkir kopi.

Kontrol dilapangan mulai dari pemilihan kualitas dan jenis kayu, mengukur kelayakan kadar air pada kayu, kayunya masih muda atau tua, ada cacatnya atau tidak, pemilihan tenaga pengrajin dan supplier yang berpengalaman, melakukan kontrol berlapis mulai dari pengerjaan kursi di pengrajin atau supplier, melakukan pengecekan kekuatan kontruksi, juga tidak ketinggalan melakukan pengecekan pada sentuhan seni pada objek yang sedang dikerjakan. Setelah kursi selesai di pengrajin jangan harap langsung bisa lolos Quality Control langsung bisa dijual ke buyer. Kursi harus dikirim lagi ke gudang pusat untuk di kontrol lagi, tidak tanggung-tanggung kadang harus melalui 3 kali proses pengawasan kualitas lagi. Jika ternyata kursi tersebut tidak lolos Quality Control dipastikan batal dijual kepada buyer. Bisa dibilang semua pengawasan dan pengerjaan 90% dilakukan di lapangan. Paling yang 10% hanya pekerjaan kantor seputar urusan karyawan, kontrak dan keuangan.

Ini sudah menjadi kelebihan alamiah seorang Jokowi, ada filosofi “Tukang Kayu” mengalir dalam darahnya dan setiap ilmu yang beliau serap selama menjadi “Tukang Kayu” dapat dijadikan prinsip universal yang bisa di implementasikan dalam kehidupan nyata. Jadi bukan menutup kemungkinan siapa-pun menterinya tidak akan bisa lepas dari pantauan mata Jokowi yang terbiasa detail dalam setiap perkerjaannya. Memang menteri itu bukan sebuah kursi dan objek seni, tapi jika ditemukan ada menteri yang re-ject track record dan minim prestasi jangan harap bisa dijadikan partner kerja Jokowi. Gosok – menggosok siapa nama calon menteri yang punya lampu wasiat tetap Jokowi. Salam hangat.




Sumber : http://ift.tt/1nVwMiS

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz