Suara Warga

ISIS Sebuah Proyek

Artikel terkait : ISIS Sebuah Proyek

Berbagai kalangan informasi yang kita diterima, sebagian orang melihat maraknya pemberitaan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sebagai upaya pengalihan isu perang Palestina dengan zionis Israel atau pemilihan presiden di Indonesia. Ada juga yang melihat gerakan ini lebih kepada konflik antar mazhab yang berkembang di Irak, yaitu mazhab Sunni dan Syiah. Alangkah baiknya bila semua tema-tema tersebut harus dibicarakan pada tempatnya masing-masing. Tentu saja kita bukan menafikan derita masyarakat Palestina hingga kini jumlah syuhada hampir mecapai 2.000 jiwa dan korban luka-luka sudah melebihi 8.000 orang. Musuh rakyat Palestina sudah jelas, yaitu zionis Israel selaku pencuri tanah air Palestina. Tapi yang memiriskan hati adalah musuh Islam yang mengatasnamakan Islam tapi menyembelih, menembak, membunuh umat Islam sendiri dan agama-agama lainnya di bawah takbir “Allahu Akbar” atau di bawah bendera hitam “Laa Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah”.

Mereka melakukannya dengan bangga karena menilai sebagai satu-satunya jalan untuk memurnikan agama atau kembali masa-masa kejayaan Islam. Tidak hanya itu, mereka juga menghancurkan tempat-tempat suci umat Islam seperti kuburan para nabi dan aulia karena ditafsirkannya sebagai perbuatan syirik. Menangkap para wanita untuk dijual sebagai budak di pasar khusus, membunuh ulama atau siapa saja yang bertentangan dengan tafsir mereka tentang agama islam yang di anutnya. Ini adalah kekejaman dan kekejian kemanusiaan paling memilukan pada abad modern sekarang ini yang terjadi di kawasan Timur Tengah, terutama di negara Suriah dan Irak. Karena itu, kami melihat penting untuk membahas persoalan ini agar umat muslim mendapat tambahan informasi sebagai benteng diri dalam menghadapi kebringasan kelompok ini. Gerakan berbahaya ini harus dipahami oleh umat Islam agar masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat Indonesia dan para muslimin lainnya, tidak masuk dalam perangkapnya.

Untuk melihat lebih jauh, masalah ini bisa ditinjau dari dua sisi:

Pertama, soal kepentingan Amerika Serikat dan Eropa untuk melanggengkan keberadaan zionis Israel sebagai sekutu utama mereka di Timur Tengah, dan; Kedua, masalah tafsir ajaran Islam yang kaku, sehingga Islam yang dipahaminya sajalah yang benar, sementara cara pemahaman lain dianggap salah, sesat, kafir dan harus dibunuh. Mereka inilah yang lebih dikenal sebagai kelompok takfiri, karena mengkafirkan siapa saja yang berseberangan dengan pemahamannya. Ini bukan rahasia lagi, tujuan utama politik Amerika Serikat di Timur Tengah adalah untuk menguasai minyak, menjaga pasar agar senjatanya terjual dan menjaga agar zionis Israel tetap hidup langgeng tanpa hambatan dan gangguan. Amerika Serikat meyakini bahwa satu-satunya ‘penyakit’ yang mengganggu politiknya di Timur Tengah untuk keberlangsungan hidup Israel adalah Negara Islam Iran. Karenanya Amerika Serikat berusaha sekuat tenaga dengan bermacam cara untuk menghilangkan ‘penyakit’ ini di jazirah Arab.

Amerika Serikat awalnya berusaha menghilangkan penyakit itu secara militer dengan cara menguasai negara-negara tetangga Iran seperti agresinya di Irak dan Afghanistan selaku dua negara yang berbatasan dengan Iran. Namun usaha yang telah menghilangkan ribuan nyawa rakyat Irak dan Afghanistan ini tidak berhasil untuk menyerang Negara Islam Iran dengan cara-cara militer. Kini, selain ditambah dengan sanksi-sanksi dan embargo internasional karena tuduhan menciptakan bom nuklir, Amerika Serikat mulai berpikir untuk menghancurkan negara-negara pendukung Iran atau negara yang didukung oleh Iran. Itulah negara-negara anti-Israel yang bertetangga dengan Israel, yaitu pemerintahan Suriah, gerakan Hizbullah di Libanon dan gerakan-gerakan perlawanan di Palestina.

Terlepas dari kelompok yang dididik dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat, masalah kedua adalah persoalan tafsir ajaran agama Islam oleh kelompok-kelompok Islam yang kaku. Ini merupakan penyakit lama dalam dunia pemikiran Islam. Pemikiran ini mulai bahaya nyata ketika beralih dari hanya pemikiran kepada gerakan bersenjata. Mereka itulah kelompok-kelompok bersenjata takfiri yang mengkafirkan siapa saja yang berseberangan dengan pemahamannya tentang Islam. Tidak hanya mengkafirkan, mereka juga menyembelih, menembak dan membunuh manusia dengan cara-cara biadab yang jauh dari ajaran murni Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin). ISIS dalam media-media bahasa Arab lebih dikenal dengan sebutan DAIS (Daulah Islamiyah Iraq wa Syam) merupakan satu kelompok yang lebih muncul ke permukaan dari puluhan kelompok-kelompok bersenjata yang masuk ke Suriah untuk menggulingkan Presiden Bashar Assad. Orang-orang dalam kelompok ini datang ke Suriah melalui Turki dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Sebagian besar umat muslim yang datang kesana karena dimotivasi oleh fatwa ulama tertentu yang menyerukan jihad di Suriah. Fatwa-fatwa ini berseliweran di media internet dan beberapa televisi berbahasa Arab. Sehingga dengannya ribuan muslim lebih dari 80 negara datang ke Suriah untuk `berjihad’. Berikutnya gerakan ini mendapat sambutan dari kelompok-kelompok takfiri bersenjata di Irak yang didukung dengan teritorial dua negara yang berbatasan langsung. Anehnya, tidak satu pun ada fatwa jihad ke Palestina yang terzalimi sejak puluhan tahun. Memang sebagian orang lugu yang terlibat dalam kelompok ISIS atau yang bersepahaman dengan kelompok itu bisa jadi diiming-imingi dengan tujuan baik. Misalnya, ingin mendirikan Islam yang ‘murni’, seperti yang dipahaminya berdasarkan fatwa-fatwa, mendirikan khilafah atau propaganda media informasi yang ditelan mentah-mentah tanpa benteng agama dan akal yang kokoh.

Salah satu alasan adalah propaganda fitnah media yang menyebutkan bahwa presiden Suriah Bashar Assad bekerja sama dengan Iran yang berpaham Syiah untuk membunuh ribuan orang muslim Sunni di Suriah. Informasi itu ditelan mentah-mentah, sehingga banyak orang tergerak untuk berjihad. Bila membaca media-media berbahasa Arab, jelas bahwa konflik yang tejadi di Irak maupun Suriah selama ini, tidak ada kaitan sama sekali dengan mazhab. Sayangnya, media-media kita banyak mengambil berita dari media-media barat yang berkemungkinan memperkeruh suasana. Di Irak sendiri, penduduknya yang mayoritas bermazhab Sunni dan Syiah, selama puluhan hidup damai secara berdampingan, termasuk dengan agama-agama minoritas seperti Masihi dan Idzidiyah. Ketika kelompok ISIS telah menguasai beberapa wilayah mayoritas Sunni, Masihi dan Izidiyah, para marjak taklid selaku ulama terbesar Syiah di Irak mengeluarkan fatwa untuk berjihad melawan kelompok ini.

Seruan jihad yang dikeluarkan oleh ulama-ulama Sunni Irak untuk membela tanah air dari rongrongan kelompok ISIS ini. Letak kuburan para Nabi yang dihancurkan, para ulama yang dibunuh justru di wilayah-wilayah yang mayoritas Sunni, termasuk di Suriah seperti pembunuhan keji ulama besar Dr Mohammad Said Ramadhan Al Bhuti dalam serangan bom bunuh diri di Masjid Iman di Mazraa, Damaskus. Yang menjadi korban kekejaman mereka bukan hanya Syiah, tapi juga Sunni, maupun agama-agama minoritas seperti Masihi dan Izidiyah. Jadi, berkesimpulan konflik tersebut merupakan konflik antara Sunni dan Syiah. Kita patut berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia karena bergerak cepat meredam gerakan ini, sehingga bisa dilakukan antisipasi dengan cepat. Nama ISIS bisa saja hilang di dunia ini atau berganti dengan mana-nama lainnya. Namun cara pandang agama yang kekerasan bisa saja merasuki pemikiran muslimin di berbagai belahan dunia, termasuk masyarakat Aceh dan Indonesia.

Kita perlu melakukan antisipasi dengan bermacam cara dan berkelanjutan. Salah satu solusi yang menjanjikan adalah kembali ke jalan akal sehat. Akal merupakan hujjah batin yang diberikan Allah kepada manusia, selain hujjah lahir seperti diutusnya para Nabi dan diturunkan kitab suci al-qur’an. Dengan akal inilah manusia mampu menilai sesuatu itu benar dan salah, atau baik dan buruk. Dengan akal jugalah mampu berargumentasi dengan dalil-dalil yang kokoh, tanpa mengikuti kemasyhuran, riwayat-riwayat lemah, termasuk berbagai informasi yang diterima. Akal sehat ini bisa dijadikan timbangan berpikir benar dan dimiliki oleh semua manusia. Sehingga dengan kita memiliki benteng berpikir kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh fatwa, ajaran, pemahaman dan informasi-informasi yang lemah. Karena hakikat sebuah informasi ini bisa mengandung benar dan salah, maka seseorang bisa jadi menyimpulkan sesuatu dengan salah atau benar berdasarkan informasi tersebut. Di sinilah banyak orang beragama, orang awam dan lugu yang menjadi korban, karena menghukumi atau menyimpulkan sesuatu itu berdasarkan informasi-informasi yang salah.





Banda Aceh, 15 Agustus 2014

RAHMATSYAH




Sumber : http://ift.tt/1oxUzqk

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz