Transisi Kepemimpinan Indonesia
Ini adalah kali pertama, transisi kepemimpinan di Indonesia dilakukan dalam keadaan damai. Walaupun didalam prosesnya terdapat trik trik politik SBY.
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, SBY mengatakan hendaknya pemerintahan yang akan berakhir tidak membuat keputusan-keputusan penting. Hal ini yang dilanggarnya sendiri. Kita bisa lihat di akhir pemerintahan SBY, dia membuat beberapa keputusan penting diantaranya adalah UU Pikada DPRD dan terakhir adalah penentuan pimpinan KPK yang rencananya akan dilakukan menjelang pelantikan Presiden yang baru.
Kembali kepada transisi kepemimpinan Indonesia. Transisi dari Soekarno ke Soeharto bisa dikatakan transisi yang paling berdarah dan misteri. Berdarah karena adanya aksi G/30/S yang akhirnya mengorbankan jutaan jiwa melayang di kedua belah pihak, baik PKI maupun masyarakat sipil. Misteri, karena sampai saat ini tidak pernah ditemukan Supersemar Asli yang dijadikan dasar pergantian kepemimpinan tersebut, dan apa yang terjadi dibalik penanda-tanganan surat tersebut oleh Soekarno.
Transisi dari Soeharto ke BJ Habibie juga tidak kalah berdarahnya, dengan jatuhnya korban di kalangan mahasiswa yang ditembak oleh sniper entah suruhan siapa. Soeharto sendiri sampai wafatnya tidak hendak bertemu dengan BJ Habibie, dengan alasan yang hanya diketahui oleh Soeharto.
Transisi dari BJ Habibie sebagai presiden pengganti, kepada Abdurrahman Wahid juga tidak dapat dikatakan berjalan dengan damai. DIawali dengan ditolaknya pertanggung-jawaban BJ Habibie oleh MPR, berakhirlah kepemimpinan singkat BJ Habibie.
Abdurrahman Wahid yang naik ke tampuk kepemimpinan melalui lobby-lobby politik yang dilakukan oleh Poros Tengah nya Amien Rais, tidak berlangsung lama. Amien Rais yang menaikkan, dia pula yang menurunkan Abdurrahman Wahid dan posisinya digantikan oleh Megawati Soekarno Putri. Transisi dari Abdurrahman Wahid ke Megawati juga tidak berjalan dengan baik, karena Abdurrahman Wahid menganggap Megawati mengkhianatinya.
Megawati pun naik menjadi presiden kelima Republik Indonesia. Kepemimpinannya digantikan oleh SBY. Seperti Abdurrahman Wahid yang merasa dikhianati oleh Megawati. Megawati pun merasa dikhianati oleh SBY. SBY yang berulangkali ditanya apakah akan mencalonkan diri menjadi presiden, selalu menjawab tidak, ternyata diam diam mengambil alih pimpinan Partai Demokrat bentukan Sys NS dan maju menjadi calon Presiden dan berhasil mengalahkan Megawati. Sejak itulah Megawati tidak bertegur sapa dengan SBY.
Kali ini SBY, dengan segala trik politik dan pemanfaatan posisinya diwaktu yang sempit, berhasil menjadikan transisi kepemimpinan dari dirinya ketangan Presiden ketujuh, Joko Widodo, beberapa hari lagi, insya Allah berjalan mulus.
Kita semua sebagai rakyat Indonesia tentu berharap dan mendoakan yang terbaik bagi Presiden yang baru agar dapat membawa bangsa ini ke arah masa depan yang lebih baik. Semoga Allah melindungi kita semua.
Sumber : http://ift.tt/1DlJYDp
Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, SBY mengatakan hendaknya pemerintahan yang akan berakhir tidak membuat keputusan-keputusan penting. Hal ini yang dilanggarnya sendiri. Kita bisa lihat di akhir pemerintahan SBY, dia membuat beberapa keputusan penting diantaranya adalah UU Pikada DPRD dan terakhir adalah penentuan pimpinan KPK yang rencananya akan dilakukan menjelang pelantikan Presiden yang baru.
Kembali kepada transisi kepemimpinan Indonesia. Transisi dari Soekarno ke Soeharto bisa dikatakan transisi yang paling berdarah dan misteri. Berdarah karena adanya aksi G/30/S yang akhirnya mengorbankan jutaan jiwa melayang di kedua belah pihak, baik PKI maupun masyarakat sipil. Misteri, karena sampai saat ini tidak pernah ditemukan Supersemar Asli yang dijadikan dasar pergantian kepemimpinan tersebut, dan apa yang terjadi dibalik penanda-tanganan surat tersebut oleh Soekarno.
Transisi dari Soeharto ke BJ Habibie juga tidak kalah berdarahnya, dengan jatuhnya korban di kalangan mahasiswa yang ditembak oleh sniper entah suruhan siapa. Soeharto sendiri sampai wafatnya tidak hendak bertemu dengan BJ Habibie, dengan alasan yang hanya diketahui oleh Soeharto.
Transisi dari BJ Habibie sebagai presiden pengganti, kepada Abdurrahman Wahid juga tidak dapat dikatakan berjalan dengan damai. DIawali dengan ditolaknya pertanggung-jawaban BJ Habibie oleh MPR, berakhirlah kepemimpinan singkat BJ Habibie.
Abdurrahman Wahid yang naik ke tampuk kepemimpinan melalui lobby-lobby politik yang dilakukan oleh Poros Tengah nya Amien Rais, tidak berlangsung lama. Amien Rais yang menaikkan, dia pula yang menurunkan Abdurrahman Wahid dan posisinya digantikan oleh Megawati Soekarno Putri. Transisi dari Abdurrahman Wahid ke Megawati juga tidak berjalan dengan baik, karena Abdurrahman Wahid menganggap Megawati mengkhianatinya.
Megawati pun naik menjadi presiden kelima Republik Indonesia. Kepemimpinannya digantikan oleh SBY. Seperti Abdurrahman Wahid yang merasa dikhianati oleh Megawati. Megawati pun merasa dikhianati oleh SBY. SBY yang berulangkali ditanya apakah akan mencalonkan diri menjadi presiden, selalu menjawab tidak, ternyata diam diam mengambil alih pimpinan Partai Demokrat bentukan Sys NS dan maju menjadi calon Presiden dan berhasil mengalahkan Megawati. Sejak itulah Megawati tidak bertegur sapa dengan SBY.
Kali ini SBY, dengan segala trik politik dan pemanfaatan posisinya diwaktu yang sempit, berhasil menjadikan transisi kepemimpinan dari dirinya ketangan Presiden ketujuh, Joko Widodo, beberapa hari lagi, insya Allah berjalan mulus.
Kita semua sebagai rakyat Indonesia tentu berharap dan mendoakan yang terbaik bagi Presiden yang baru agar dapat membawa bangsa ini ke arah masa depan yang lebih baik. Semoga Allah melindungi kita semua.
Sumber : http://ift.tt/1DlJYDp