Tragedi di Kuburan Selawe
Fotografer: D.Prasetya
KUBURAN SELAWE: Tempat Pembantaian Massal Lebih dari 25 Orang yang dikubur dalam Satu Lubang di Perbatasan Desa Dori dan Wotsogo, Kec. Jatirogo, Tuban, Jawa Timur Pada Tahun 1966
Mengungkap tragedi enam puluh lima itu seperti kita sedang membuka luka lama yang sulit dilupakan. Tragedi itu telah membawa traumatik yang luar biasa bagi para korban. Sehingga hampir semua rakyat Indonesia mengalami penyakit jiwa akibar tragedi kemanusiaan yang belum ada tandingnya dalam perjalanan sejarah negeri ini. Tahun 1965 adalah sejarah paling kelam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Pada tahun itu semua orang saling mencurigai dan dengan mudah orang akan membabat habis jika masing masing pihak dituduh sebagai anggota PKI. Rentetan tragedi itu terus terjadi setelah peristiwa apa yang disebut pemberontakan G 30 S itu. Peristiwa itu membawa memori buruk bagi para korban karena klaim kebenaran sepihak yang dikuasai orde baru.
Orang Indonesia setelah peristiwa itu seperti orang bisu karena dibungkam oleh rezim penguasa. Dan jika mereka ada yang berfikir kritis maka dengan mudahnya pemerintah orba akan menuduhnya sebagai anggota partai terlarang. Dan yang lebih ironis lagi pemerintahan orba mengklaim dirinya sebagai orang yang paling benar dan memonopoli kebenaran dan rakyat yaang mengkritiknya akan dihabisi. Dosa-dosa orba terus berlumuran hingga anak cucu yang tak tahu apa-apa mengalami siksaan batin yang seumur-umur karena mereka yang dianggap anaknya yang orang tuanya dituduh anggota PKI tak bisa mendaftarkan sebagai pegawai negeri, tak boleh masuk tentara atau polisi dan berbagai hukuman yang sangat melanggar besar HAM dan sangat biadab.
Tragedi enam lima itu hingga sekarang banyak bukti sejarah yang belum terlacak atau memang senagaja masih ditutup-tutupi karena para penjagal waktu itu kawatir boroknya terungkap. Salah satu saksi bisu tragedi besar itu adalah pembantaian terhadap sebanyak dua puluh lima orang yang dikubur hidup-hidup di tanah gundukan yang ada di sekitar perbatasan antara Desa Dori dan Wotsogo di Kecamatan Jatirogo, Tuban, Jawa Timur. Karena itu tanah gundukan itu disebut Kuburan Selawe oleh masyarakat sekitar. Penulis menulusuri tempat itu dan memang benar ada tanah gundukan yang menurut orang sekitar pada tahun 1966 di situ menjadi tempat pembantaian orang-orang yang dituduh simpatisan PKI dan mereka sebenarnya adalah orang-orang yang belum tentu berdosa namun dibantai oleh orang yang berpakaian polisi dan tentara waktu itu. Bahkan menurut penuturan saksi DS yang tak mau disebut namanya, setiap orang yang akan dimasukkan lubang itu terlebih dahulu tangannya diikat dan disiksa kemudian dijejer di dekat lubang itu lalu diberondong dengan senapan oleh orang yang berpakaian tentara dan polisi. Bahkan menurut DS ada anggota keluarganya yang masuk dalam lubang itu dan ketika terjadi penguburan di lubang itu sebenarnya anggota keluarganya tersebut masih hidup. Kemudian dari dalam lubang itu sebut saja orang yang masih hidup itu bernama TS (Taslim) tiba-tiba ia berteriak dari dalam sumur itu bahwa ia masih hidup. Kemudian orang-orang yang berpakaian aparat itu menembaki dari atas hingga suara orang yang berteriak itu tak terdengar lagi.
“Sangat biadab kala itu! Orang-orang ketakutan dan tak berani. mengungkap atas tragedi di Kuburan Selawe itu! Bahkan ketika seseorang akan memberi tanda di gundukan itu ada orang lain yang sengaja menghilangkan tanda itu bahkan yang semula ada gundukan menjadi diratakan agar tidak kelihatan hingga sekarang!” ujar DS saat penulis wawancarai.
Saksi bisu di Kuburan Selawe itu seharusnya kembali kita ungkap di era reformasi ini. Anggota HAM seharusnya menelisik ke sana sebagai bukti atas sebuah kebiadaban dan tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di tempat itu. Dan tak ada salahnya jika KOMNAS HAM mencoba untuk membongkar Kuburan Selawe sebagai bukti sejarah bahwa di situ pernah ada pelanggaran berat HAM.
Fakta sejarah di Kuburan Selawe itu bisa dijadikan referensi dan tugu peringatan bahwa orang yang belum tentu mengalami kesalahan telah dibantai di Kuburan Selawe puluhan tahun lalu.
“Ini bisa menjadi peringatan dan catatan sejarah bagi generasi selanjutnya atas kebiadaban rezim Soeharto” ujarnya dengan muka sedih.
“Karena itu semoga suatu saat ada pemerintah yang berani mengungkap kebenaran sejarah yang lebih adil. Bangsa ini perlu adanya revolusi mental agar akibat tragedi yang terus membawa luka dan mimpi buruk bangsa ini yang terjadi lebih dari puluhan tahun itu hingga saat sekarang masih terus menyisakan traumatik dan menggerogoti mental bangsa besar ini!” tambahnya. (Penulis/reporter: Darju Prasetya )
Sumber : http://ift.tt/1nQgMRn