RUU Pilkada, Gajah, dan Tuhan
Saya orang bodoh. Kuliah Sastra Inggris yang tanpa matematika saja enam tahun. Jika tidak menyontek adalah prestasi yang layak dibanggakan, itulah satu-satunya kebanggaan saya di bidang akademis, setidaknya selepas SMP.
Saya betul bodoh. IPK tidak sampai 3. Tepatnya, 2,72. Saya gagal mendapatkan nilai standar minimal tes CPNS itu gara-gara satu nilai D, untuk mata kuliah Syntax yang saya ulang lima kali, dengan dosen berbeda dari generasi berbeda, mulai dari dosen “berpengalaman”, teman angkatan sendiri, sampai akhirnya adik kelas saya.
Sesal kemudian tak berguna atau apa pun namanya. Karena sudah merasa terlambat masuk dunia kerja, saya akhirnya nekat mengajukan skripsi tanpa memperbaiki nilai D itu. Saya pun mengalami sulitnya dapat kerja. Setiap melamar secara online, saya sering “gagal” memencet tombol “submit” karena IPK saya di bawah standar perusahaan itu.
Saya, yang bodoh ini, sempat mengeluh. Mungkin, kalau dukungan orang tua kepada saya sebesar dukungan orang tua teman-teman saya, saya tak perlu kuliah sambil kerja, sehingga bisa fokus kuliah karena semua kebutuhan terpenuhi. Jika begitu, saya mungkin bisa lulus lebih cepat dengan nilai lebih baik. Baru belakangan saya menyadari, perjalanan hidup saya lebih bernilai dari angka di atas kertas. Pepatah Latin mengatakan, “Non scholæ sed vitæ discimus.” Kita belajar bukan untuk nilai, tetapi untuk hidup.
Singkat cerita, saya dapat kerja, gara-gara tiga orang tua, Pandapotan Simorangkir (almarhum) Sabar Subekti, dan Agus Baharudin. Karena sadar saya bodoh dan sulit cari kerja, saya berusaha bekerja sebaik mungkin dan sejujur mungkin. Kata ibu saya - sebetulnya juga di buku saku Pramuka juga ada - kejujuran itu mata uang yang berlaku di mana-mana.
Itu terbukti benar, karena banyak orang mengeluarkan uang banyak dan atau mendapatkan uang banyak untuk membeli atau menggadaikan kejujurannya. Hehehe. Tentu saja, bukan konsep kejujuran seperti ini yang dimaksud ibu saya. “Apesnya”, kejujuran yang diajarkan ibu saya itu sudah teramat sangat langka (akan lebih mengerikan lagi jika ditafsirkan kata “langka” dengan tata bahasa Banyumasan).
Karena bodoh juga, saya tak mau berpikir dan bicara banyak-banyak soal (politik) negeri ini. Saya tak tahu, apalagi paham, kenapa UUD 1945 harus diacak-acak. Menurut saya, yang bodoh ini, isinya tambah banyak, tetapi semakin sedikit saja yang paham artinya. Pancasila yang tak berubah saja banyak yang tidak hafal, apalagi mengamalkan.
Tapi, meski bodoh, saya tahu bahwa negara ini adalah negara demokrasi dan sepengetahuan saya, demokrasi ada di tangan rakyat. Gara-gara pengetahuan yang sedikit ini juga, saya emosi juga melihat orang-orang ribut soal pemilihan kepala daerah langsung dan tak langsung.
Emosi saya yang bodoh ini cukup besar untuk membuat - meminjam diksi Hercule Poirot - sel-sel kelabu saya bergerak lebih cepat dari biasanya. Hasilnya, saya hanya mengernyitkan dahi. Saya heran, orang-orang hanya mengeluh, menggerutu, dan mencaci, ketika RUU Pilkada disahkan menjadi UU Pilkada oleh DPR pada 27 September 2014. Ada kekhawatiran, UU tersebut akan menguntungkan kelompok tertentu dan membahayakan pemerintahan baru.
Betul, dengan UU tersebut, keramaian pesta demokrasi seperti terjadi dalam beberapa tahun terakhir akan berkurang. Namun, menurut saya yang bodoh ini, UU tersebut tidak mengurangi kedaulatan rakyat. Hanya memang, dengan UU tersebut, rakyat perlu berpikir lebih keras, lebih cerdas, dan tentu saja jual mahal, ketika “musim” pemilihan apa pun tiba.
Menurut saya, yang bodoh ini, dalam konsep demokrasi, suara akan selalu ada di tangan rakyat. Rakyat bisa bersuara sebelum, ketika, dan setelah roda pemerintahan baru berjalan. Dengan begitu, kekhawatiran hanya merendahkan dan mempermalukan diri sendiri, karena orang yang kita nilai membahayakan itu sesungguhnya lahir dari rahim kita sendiri, rakyat.
Jika suatu hari orang yang diberikan mandat berkhianat, rakyat punya hak untuk mengambil kembali suara yang telah mereka titipkan dan tidak menyerah kepada uang. Jangan pikirkan bagaimana mekanisme atau apa pun namanya, karena selalu ada pengecualian dalam dunia manusia.
Sudah hukumnya, yang kaya menindas, yang miskin berontak. Sudah hukumnya yang kaya memeras, yang miskin merampas. Sudah hukumnya yang kaya menghukum si miskin, yang miskin menghakimi si kaya. Jika begitu, ikuti saja dulu apa mau “mereka”, seperti kebijakan PT KAI soal tiket harian berjaminan.
Awalnya, tak ada tiket harian berjaminan. Karena terus-menerus menanggung ongkos cetak tiket yang tak kembali, PT KAI menghimbau masyarakat mengembalikan tiket. Karena himbauan itu tidak dipatuhi, PT KAI mengeluarkan win-win solution dengan mengeluarkan tiket harian berjaminan.
Dengan THB, PT KAI tak akan rugi jika masyarakat ingin “mengoleksi” tiket. Masyarakat juga bisa mengoleksi karena telah membayar di muka ongkos cetaknya. Ya, kurang lebih begitu….
Ada ujar-ujaran yang mengatakan, hanya orang-orang yang siap mati akan siap untuk hidup. Kalau ibu saya bilang, Indonesia tak maju-maju (sejahtera) karena orang takut mati dan takut miskin. Kita menumpuk harta sampai lupa bahwa tetangga kita belum makan.
Kita hanya berpikir soal rumah sendiri, mobil sendiri, keluarga dan diri sendiri. Kita tetap duduk anteng di kursi KRL Commuter Line, meski wajah kita tepat berada di depan perut seorang nenek yang berdiri dengan menaruh tangan pada tas punggung orang lain untuk menjaga keseimbangan.
Kita melewati orang yang jatuh di jalan karena khawatir terlambat ke sekolah atau ke kantor. Beberapa kali, saya mendapati anak-anak muda, generasi dan calon pemimpin bangsa ini, tak mengurangi tekanan pada pedal dan tuas gas kendaraan mereka ketika melewati genangan di dekat halte yang penuh sesak orang berteduh.
Mungkin, jika hidup seperti itu, kita bisa mendapatkan nilai IPK tinggi, lulus cepat, dan berpenghasilan tinggi, dan punya segalanya pada usia muda, tetapi tak akan pernah melahirkan “primus inter pares” dan akan selamanya khawatir dan merendahkan diri sendiri.
Oportunis (jika kata pengkhianat terlalu tajam) akan selalu ada di antara kita, tapi khawatir saja tidak pernah cukup. Bukankah orang-orang tua dulu mengajarkan, sebelum mencari semut di seberang sana, kita perlu lebih dulu memastikan pandangan kita tak terhalang oleh gajah?
Soal semut dan gajah, ada cerita tentang orang yang melihat ada begitu banyak masalah di sekitarnya dan berkata mengadu kepada Tuhan, “Tuhan, ada begitu banyak masalah di dunia. Kenapa engkau berpangku tangan?” Dan, Tuhan menjawab, “Saya sudah melakukan sesuatu. Saya menciptakan kamu.”
Sumber : http://ift.tt/1E5XCf1
Saya betul bodoh. IPK tidak sampai 3. Tepatnya, 2,72. Saya gagal mendapatkan nilai standar minimal tes CPNS itu gara-gara satu nilai D, untuk mata kuliah Syntax yang saya ulang lima kali, dengan dosen berbeda dari generasi berbeda, mulai dari dosen “berpengalaman”, teman angkatan sendiri, sampai akhirnya adik kelas saya.
Sesal kemudian tak berguna atau apa pun namanya. Karena sudah merasa terlambat masuk dunia kerja, saya akhirnya nekat mengajukan skripsi tanpa memperbaiki nilai D itu. Saya pun mengalami sulitnya dapat kerja. Setiap melamar secara online, saya sering “gagal” memencet tombol “submit” karena IPK saya di bawah standar perusahaan itu.
Saya, yang bodoh ini, sempat mengeluh. Mungkin, kalau dukungan orang tua kepada saya sebesar dukungan orang tua teman-teman saya, saya tak perlu kuliah sambil kerja, sehingga bisa fokus kuliah karena semua kebutuhan terpenuhi. Jika begitu, saya mungkin bisa lulus lebih cepat dengan nilai lebih baik. Baru belakangan saya menyadari, perjalanan hidup saya lebih bernilai dari angka di atas kertas. Pepatah Latin mengatakan, “Non scholæ sed vitæ discimus.” Kita belajar bukan untuk nilai, tetapi untuk hidup.
Singkat cerita, saya dapat kerja, gara-gara tiga orang tua, Pandapotan Simorangkir (almarhum) Sabar Subekti, dan Agus Baharudin. Karena sadar saya bodoh dan sulit cari kerja, saya berusaha bekerja sebaik mungkin dan sejujur mungkin. Kata ibu saya - sebetulnya juga di buku saku Pramuka juga ada - kejujuran itu mata uang yang berlaku di mana-mana.
Itu terbukti benar, karena banyak orang mengeluarkan uang banyak dan atau mendapatkan uang banyak untuk membeli atau menggadaikan kejujurannya. Hehehe. Tentu saja, bukan konsep kejujuran seperti ini yang dimaksud ibu saya. “Apesnya”, kejujuran yang diajarkan ibu saya itu sudah teramat sangat langka (akan lebih mengerikan lagi jika ditafsirkan kata “langka” dengan tata bahasa Banyumasan).
Karena bodoh juga, saya tak mau berpikir dan bicara banyak-banyak soal (politik) negeri ini. Saya tak tahu, apalagi paham, kenapa UUD 1945 harus diacak-acak. Menurut saya, yang bodoh ini, isinya tambah banyak, tetapi semakin sedikit saja yang paham artinya. Pancasila yang tak berubah saja banyak yang tidak hafal, apalagi mengamalkan.
Tapi, meski bodoh, saya tahu bahwa negara ini adalah negara demokrasi dan sepengetahuan saya, demokrasi ada di tangan rakyat. Gara-gara pengetahuan yang sedikit ini juga, saya emosi juga melihat orang-orang ribut soal pemilihan kepala daerah langsung dan tak langsung.
Emosi saya yang bodoh ini cukup besar untuk membuat - meminjam diksi Hercule Poirot - sel-sel kelabu saya bergerak lebih cepat dari biasanya. Hasilnya, saya hanya mengernyitkan dahi. Saya heran, orang-orang hanya mengeluh, menggerutu, dan mencaci, ketika RUU Pilkada disahkan menjadi UU Pilkada oleh DPR pada 27 September 2014. Ada kekhawatiran, UU tersebut akan menguntungkan kelompok tertentu dan membahayakan pemerintahan baru.
Betul, dengan UU tersebut, keramaian pesta demokrasi seperti terjadi dalam beberapa tahun terakhir akan berkurang. Namun, menurut saya yang bodoh ini, UU tersebut tidak mengurangi kedaulatan rakyat. Hanya memang, dengan UU tersebut, rakyat perlu berpikir lebih keras, lebih cerdas, dan tentu saja jual mahal, ketika “musim” pemilihan apa pun tiba.
Menurut saya, yang bodoh ini, dalam konsep demokrasi, suara akan selalu ada di tangan rakyat. Rakyat bisa bersuara sebelum, ketika, dan setelah roda pemerintahan baru berjalan. Dengan begitu, kekhawatiran hanya merendahkan dan mempermalukan diri sendiri, karena orang yang kita nilai membahayakan itu sesungguhnya lahir dari rahim kita sendiri, rakyat.
Jika suatu hari orang yang diberikan mandat berkhianat, rakyat punya hak untuk mengambil kembali suara yang telah mereka titipkan dan tidak menyerah kepada uang. Jangan pikirkan bagaimana mekanisme atau apa pun namanya, karena selalu ada pengecualian dalam dunia manusia.
Sudah hukumnya, yang kaya menindas, yang miskin berontak. Sudah hukumnya yang kaya memeras, yang miskin merampas. Sudah hukumnya yang kaya menghukum si miskin, yang miskin menghakimi si kaya. Jika begitu, ikuti saja dulu apa mau “mereka”, seperti kebijakan PT KAI soal tiket harian berjaminan.
Awalnya, tak ada tiket harian berjaminan. Karena terus-menerus menanggung ongkos cetak tiket yang tak kembali, PT KAI menghimbau masyarakat mengembalikan tiket. Karena himbauan itu tidak dipatuhi, PT KAI mengeluarkan win-win solution dengan mengeluarkan tiket harian berjaminan.
Dengan THB, PT KAI tak akan rugi jika masyarakat ingin “mengoleksi” tiket. Masyarakat juga bisa mengoleksi karena telah membayar di muka ongkos cetaknya. Ya, kurang lebih begitu….
Ada ujar-ujaran yang mengatakan, hanya orang-orang yang siap mati akan siap untuk hidup. Kalau ibu saya bilang, Indonesia tak maju-maju (sejahtera) karena orang takut mati dan takut miskin. Kita menumpuk harta sampai lupa bahwa tetangga kita belum makan.
Kita hanya berpikir soal rumah sendiri, mobil sendiri, keluarga dan diri sendiri. Kita tetap duduk anteng di kursi KRL Commuter Line, meski wajah kita tepat berada di depan perut seorang nenek yang berdiri dengan menaruh tangan pada tas punggung orang lain untuk menjaga keseimbangan.
Kita melewati orang yang jatuh di jalan karena khawatir terlambat ke sekolah atau ke kantor. Beberapa kali, saya mendapati anak-anak muda, generasi dan calon pemimpin bangsa ini, tak mengurangi tekanan pada pedal dan tuas gas kendaraan mereka ketika melewati genangan di dekat halte yang penuh sesak orang berteduh.
Mungkin, jika hidup seperti itu, kita bisa mendapatkan nilai IPK tinggi, lulus cepat, dan berpenghasilan tinggi, dan punya segalanya pada usia muda, tetapi tak akan pernah melahirkan “primus inter pares” dan akan selamanya khawatir dan merendahkan diri sendiri.
Oportunis (jika kata pengkhianat terlalu tajam) akan selalu ada di antara kita, tapi khawatir saja tidak pernah cukup. Bukankah orang-orang tua dulu mengajarkan, sebelum mencari semut di seberang sana, kita perlu lebih dulu memastikan pandangan kita tak terhalang oleh gajah?
Soal semut dan gajah, ada cerita tentang orang yang melihat ada begitu banyak masalah di sekitarnya dan berkata mengadu kepada Tuhan, “Tuhan, ada begitu banyak masalah di dunia. Kenapa engkau berpangku tangan?” Dan, Tuhan menjawab, “Saya sudah melakukan sesuatu. Saya menciptakan kamu.”
Sumber : http://ift.tt/1E5XCf1