MIMBAR BEBAS INDONESIA |ditulis khusus buat fadjroel rachman aktivis 98|
Itulah zaman baru. Indonesia tak seperti dulu. Sekarang kita leluasa menyampaikan pendapat kita. Di kedai kopi kata-kata memuja, mengutuk tokoh politik, aparat penegak hukum ramai terdengar, meluncur tanpa sensor. Di rumah makan, mall dan terminal nama presiden disebut dengan enteng, ceroboh, sinis dan kasar yang di waktu lalu hal itu hanya bisa di lakukan di rumah dan sambil berbisik pula.
Di sosial media tidak ada hari tanpa pujian, hujatan dan makian. Dari segala penjuru negeri ini semua hanyut dalam gelora beropini dari yang paling elegan sampai paling brutal tersaji di sini. Para politisi, ahli hukum, ahli tatanegara, budayawan, akademisi semua ambil bagian dalam memberikan opini dan pendapat. Terkadang kita sampai bingung mana yang baik dan mana yang benar karena semua di sajikan dengan argumentasi intelektual yang memukau sesuai dengan keahlian yang terasah.
Yah… memang kita sadar bahwa kebenaran hakiki tidak bisa di dapat hanya dengan mendengarkan pendapat yang banyak itu. Tapi dengan banyaknya pendapat tentu itu akan memperkaya cakrawala berpikir kita. Banyak pendapat memberi ruang untuk melakukan seleksi secara sadar. Kebebasan menyatakan pendapat membuat ide salin bergesek satu sama lain dan saling berkompetisi. Ketidaksepahaman yang paling parah sekalipun itu masih bisa diambil maknanya. Saling membuka kelemahan dan kekurangan tanpa sengaja telah membawa kita ke dunia ide penuh gagasan. Satu kalimat yang layak kita renungkan adalah “seandainya kebenaran bisa ditemukan maka kebebasan menyatakan pendapat adalah sarananya”.
Tapi satu hal yang membuatku heran sekaligus sedih ketika menyaksikan mereka yang biasa melakukan kritikan tajam tanpa belas kasih, menghujat tanpa henti berharap yang di hujat tersakiti. Yang ketika twitternya di blokir beberapa jam saja langsung kebakaran jengot dan membombardir dengan cuitan yang sarat hinaan dengan mengutuk, mencemooh dan mengejek seakan sempurna tak bercacat cela. Ya… dia yang aku maksud adalah Fadjroel Rachman. Seorang aktivis 98 yang aku sangat kagumi tapi sedih karena hanya karena beda pendapat akun twitter ku di blokir olehnya. Hampir seharian dia selalu sisihkan kata atau kalimat yang terus mencemooh presiden kita padahal eksistensi pemerintah yang sah patutlah kita hormati. Dia memiliki nama depan seorang tokoh yang aku kagumi tapi perilakunya tak seperti itu. Dia pengkritik yang sinis tapi berlagak manis. Yang kerdil tapi banyak dalil. Tapi sayang dia hanyaa terbiasa mengkritik tapi tak mau di kritik? Begitu sombongnya orang ini. Arggg…. aku tak bisa lagi memujanya padahal di masa lalu di dunia twitter dia selalu menjadi tempat bertanya dan tempatku berbagi dan mengali informasi.
Mungkin bung Fadjroel perlu introspeksi dan berbenah diri secara jujur dan adil serta kembali menyelami arti dari perbedaan dalam menyatakan pendapat. “seandainya kebenaran bisa ditemukan maka kebebasan menyatakan pendapat adalah sarananya”. Salam untuk Muhammad Fadjroel Rachman. Salam kompasiana.
Sumber : http://ift.tt/ZulWaS