Suara Warga

Jokowi-Prabowo, ARB Bersatu Bangun Indonesia Raya

Artikel terkait : Jokowi-Prabowo, ARB Bersatu Bangun Indonesia Raya

1413590750582145572

Presiden terpilih Ir. H. Joko Widodo menjelang dilantik menjadi Presiden RI tanggal 20 Oktober 2014, melakukan blusukan politik yang lazim disebut safari politik atau silaturrahim dengan toko-tokoh politik.

Pertama, bertemu Aburizal Bakrie (ARB). Pertemuan Jokowi dengan ARB mendapat liputan media yang amat besar. Hasilnya sangat positif untuk meredakan ketegangan antara koalisi Merah-Putih dengan koalisi Indonesia Bangkit sebagai buntut dari pertarungan dalam pilpres, pemilihan pimpinan DPR dan pemilihan pimpinan MPR.

Kedua, bertemu Prabowo Subianto. Pertemuan Jokowi dengan Prabowo (17/10/2014) sangat diapresiasi publik karena sudah lama ditunggu-tunggu. Oleh karena sejak KPU mengumumkan hasil pemilihan Presiden 22 Juli 2014 kemudian digugat Prabowo-Hatta di MK dan akhirnya ditolak seluruh gugatan pada 22 Agustus 2014 oleh MK, maka berarti Jokowi-JK resmi sebagai Presiden terpilih dan Wakil Presiden terpilih. Publik menunggu kapan Prabowo mengucapkan selamat kepada Jokowi atas terpilihnya menjadi Presiden RI.

Alhamdulillah, empat hari menjelang pelantikan Jokowi-JK menjadi Presiden RI dan Wakil Presiden RI, dan bertepatan Prabowo berulang tahun yang ke 63, terjadi pertemuan bersejarah antara dua musuh bebuyutan dalam pemilihan Presiden RI tahun 2014.

Patut Disyukuri

Pertemuan antara Prabowo dengan Jokowi harus disyukuri karena memberi banyak manfaat. Pertama, meredakan ketegangan antara Prabowo dan Jokowi, serta antara para pendukung kedua tokoh tersebut.

Kedua, mengukuhkan persatuan dan kesatuan. Bersatunya pada tokoh, otomatis akan ikut memperkukuh persatuan dan kesatuan nasional, sebab akan memberi pengaruh dan sugesti pada masyarakat luas yang masih banyak berfaham paternalistik.

Ketiga, membangun tradisi baru, yang menang dalam pertarungan perebutan kekuasaan, bersilaturrahim kepada yang dikalahkan sehingga berlaku petuah dalam tradisi Jawa “menang tanpa ngasorake”(merendahkan).

Keempat, memelihara silaturrahim. Menang atau kalah dalam pertarungan perebutan kekuasaan adalah lumrah dalam hidup ini. Maka, jangan sampai karena pertarungan dalam pemilihan Presiden dan perebutan kekuasaan di semua tingkatan menyebabkan silaturrahim terputus. Jokowi memberi pelajaran kepada publik, pentingnya memelihara silaturrahim.

Kelima, tetap rendah hati, tidak lupa diri ketika menang. Jokowi menunjukkan pentingnya rendah hati dan tidak lupa diri ketika menang dalam perebutan kekuasaan apapun. Dalam tradisi kita, yang kalah datang menemui yang menang. Jokowi justeru datang menemui yang dikalahkannya dalam perebutan kekuatan melalui pemilihan Presiden RI.

Bersatu Bangun Indonesia Raya

14135910401644262705

Jokowi bertemu dengan ARB, Prabowo dan para tokoh lainnya, memberi optimisme kepada bangsa Indonesia pentingnya bersatu untuk membangun Indonesia Raya.

Bersatu tidak harus bergabung satu koalisi besar untuk mendukung pemerintahan seperti di masa pemerintahan Presiden SBY selama 10 tahun atau di masa Orde Baru dengan menciptakan partai yang besar sebagai single majority dengan mengerdilkan partai-partai politik lain.

Akan tetapi bersatu dalam visi dan misi untuk mewujudkan Indonesia Raya yang maju, adil dan sejahtera, namun tetap berada dan berperan di posisi masing-masing yaitu Jokowi-JK sebagai pemimpin pemerintahan yang menjalankan pemerintahan, dan Prabowo-ARB sebagai pemimpin yang mengontrol jalannya pemerintahan.

Kalau sistem semacam ini bisa dipertahankan, maka “check and balancies” antara pemerintah (executive) dengan parlemen (legislatif) akan berjalan baik.

Ada yang mengatakan, kalau parlemen dikuasai sepeunuhnya koalisi Merah-Putih, maka korupsi akan semakin merajalela di parlemen. Ini baru dugaan, belum pernah terjadi sebelumnya seperti sekarang, di mana parlemen dikuasai oleh koalisi bukan pendukung pemerintah (oposisi). Bisa tidak terjadi korupsi besar-besaran di parlemen karena mereka sangat hati-hati sebab tangan-tangan pemerintah melalui aparat penegak hukum dan intelejen, akan mematai-matai mereka sehingga tidak berani melakukan korupsi.

Yang sudah terbukti, parlemen dikuasai para pendukung pemerintah, sejak Orde Baru sampai di era Orde Reformasi terutama dalam 10 tahun pemerintahan Presiden SBY, korupsi dilakukan secara berjamaah.

Oleh karena itu, bersatunya para tokoh, diharapkan Indonesia Raya dapat dibangun bersama, melalui peran masing-masing di pemerintahan, di parlemen dan di partai politik masing-masing.

Allahu a’lam bisshawab




Sumber : http://ift.tt/1vGYioS

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz