Suara Warga

DPR Terbelah, Apa yang Bisa Diharapkan?

Artikel terkait : DPR Terbelah, Apa yang Bisa Diharapkan?

DPR Terbelah, Apa yang Bisa Diharapkan?

( Oleh : Majawati Oen )

Menyaksikan rapat paripurna DPR periode 2014 - 2019 untuk pertama kalinya pada hari pelantikan untuk menentukan ketua DPR yang berlangsung hingga dini hari itu membuat saya dan mungkin juga para penonton televisi terperangah. Bagaimana tidak? Anggota DPR sudah mementaskan lakon sebagai anggota DPR pilihan rakyat di hari pertamanya yang benar-benar masih gres dengan sikap dan kelakuan yang tidak layak disandang oleh mereka. Benar-benar gagal di hari pertama.

DPR Gagal di Hari Pertama

Penonton pasti terperangah dengan apa yang telah mereka tampilkan di sidang paripurna itu. Rasanya tak percaya, wakil rakyat yang telah terpilih itu akan menjadi kampungan, liar, saling menyela dan hujan interupsi terjadi sepanjang masa sidang. Pimpinan sidang yang kewalahan menakhodai sidang paripurna karena setiap mulut ingin bicara dan didengarkan pendapatnya lebih dahulu. Ketika tak bisa didengar suaranya, majulah mereka berbondong-bondong. Untuk disuruh kembali duduk saja, susahnya minta ampun. Bahkan ada yang mendekati pimpinan sidang dan tanpa malu-malu membisiki lalu memijit-mijit bahunya. Apa tidak sadar tingkahnya itu disaksikan melalui televisi? Belum lagi ada yang berusaha merangsek ke meja pimpinan dalam jumlah besar hingga harus dihalau oleh pasukan pengamanan. Saling tunjuk, memelototi dan tampak menantang lawan bicaranya. Sungguh-sungguh pemandangan yang membuat rakyat terperanjat, kaget, malu, kecewa sampai pesimis!

Citra Bangsa Indonesia Tercoreng

Apa betul bangsa Indonesia itu cinta damai, masyarakatnya santun dan ramah tamah? Apa betul bangsa Indonesia menjunjung demokrasi dan menyelesaikan masalah secara musyawarah dan mufakat? Penampilan para anggota DPR pada sidang paripurna pertama itu sangat jauh dari cinta damai, santun, ramah tamah, menjunjung demokrasi dan mengatasi masalah secara musyawarah dan mufakat. Penampilan para anggota DPR ini sudah menunjukkan arogansi yang negatif. Apa betul mereka berbuat seperti itu untuk menjadi wakil rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat, membela kepentingan rakyat? Lho…. nanti kalau rakyat juga bersikap seperti itu, ya jangan disalahkan! Kan memang sudah ada contohnya. Menyelesaikan masalah dengan secara keras, adu otot, adu keras suara dan bergaya preman. Kalau nanti mau membuat peraturan yang menggusur rakyat atau menerapkan aturan yang tidak pro rakyat lalu didemo dan dibalas dengan teriakan-teriakan yang senada dengan yang kemarin para anggota dewan suarakan di sidang. Tentunya juga jangan asal menyalahkan, apalagi mengeluarkan statement seolah-olah rakyat tidak bisa diatur, tidak bisa taat aturan. Tontonan atas sikap anggota DPR kemarin itu terekam dihati penontonnya yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat. Bukan hanya masyarakat Indonesia, tetapi juga pemirsa di luar negeri. Sekali lagi jangan mengeluh, apalagi menyalahkan rakyat kalau sikap itu juga akan mereka lakukan dengan berbagai modifikasinya. Anggota DPR adalah wakil rakyat yang dipilih untuk bisa menyalurkan suara rakyat, mengayomi rakyat mennyejahterakan rakyat, menggerakkan rakyat ke arah pembaharuan yang lebih baik. Suara mereka sangat menentukan bagaimana nasib rakyat dan bangsa ini ke depannya melalui undang-undang yang mereka buat dan pengawasan pada kerja pemerintahan. Nyatanya…. ?

Apa DPR Bisa Diandalkan?

Fakta buruk yang terjadi kemarin, sungguh-sungguh mengecewakan dan memalukan. Siapapun yang melihat jalannya sidang paripurna kemarin menaruh respek negatif pada anggota dewan. Gagal di hari pertama, apa iya masih diharapkan untuk 5 tahun ke depan? Untuk memilih ketua saja sampai seriuh itu, sesulit itu, serunyam itu. Kalah dengan pemilihan ketua kelas di sekolah. Mengapa bisa sampai begitu? Karena ada sistem yang salah dalam perpolitikan di Indonesia. Dimulai dari sistem koalisi antar partai. Dengan adanya sistem koalisi, para legislator menjadi tidak lagi mewakili rakyat ketika duduk di Senayan. Mereka hanya loyal pada partainya masing-masing. Mereka tak lagi perlu repot-repot memikirkan kepentingan rakyat, tetapi bagaimana partainya bisa menang memenuhi kuorum. Orang-orang pandai pun terjungkal dengan sistem ini, berani berkoar-koar demi membela partainya. Benar atau salah? Tergantung skenario dari para elite partai tersebut. Kalau sudah begini kepentingan bangsa dan negara tak lagi diutamakan. Mereka seperti dicuci otak, bersikukuh membela kemenangan partainya. Logika berpikir pun menjadi jungkir balik. Bersolidaritas lebih penting daripada kebenaran. Kubu-kubuan dijadikan acuan pembelaan. Apa jadinya….. ? Pada akhirnya rakyat dikorbankan, masa depan bangsa dan negara dipertaruhkan untuk menuruti ego dari segelintir orang saja. Apa iya mereka rela negara ini hancur karena mereka terseret ulah beberapa orang yang mereka agungkan sebagai petinggi partai? Tidakkah lebih arif berani beda dan mendengar hati nurani sendiri serta melakukan tindakan yang lebih membanggakan sebagai anggota DPR yang benar-benar mewakili rakyat?

Pemandangan yang lain adalah ketika sebagian anggota DPR juga sekedar menjadi “penonton” sidang paripurna yang ruwet itu. Mereka memang bercengkrama, tetapi tidak meyakinkan bahwa saat itu sedang membahas persoalan yang sedang terjadi. Dari gesturnya tampak sekali mereka sekedar ngobrol mengisi waktu. Sebagian lagi asyik dengan gadgetnya, sebagian lagi sekedar duduk menunggu dalam kelelahan karena sampai dini hari. Wah….wah….

Berani Beda Perlu Dijadikan Budaya

Ada juga yang berani beda, mereka ngotot tidak mau mengikuti arus yang akan menggelicirkan. Mereka berani karena hati nurani mereka berontak. Jumlahnya tak banyak, lebih banyak yang mengikuti arus kuat untuk sependapat dan mendukung ketentuan partai. Ada pula yang cari aman, bermain politik dengan berdiri di dua kubu. Akhirnya jadi bulan-bulanan masyarakat luas, bahkan mendunia. Kalau sudah menyebar begitu apa iya semudah menghapus tulisan yang salah? Harga diri akhirnya yang dipertaruhkan.

Saya pribadi sangat kecewa. Buat apa saat pileg kemarin repot-repot meluangkan waktu mencoblos ke TPS kalau akhirnya mereka sebenarnya adalah wakil partai, bukan wakil rakyat! Terbukti mereka mati-matian berusaha untuk bisa mencapai kemenangan melalui jumlah suara yang mencapai kuorum. Para fraksi juga mati-matian mempertahankan pandangannya masing-masing, kalau tidak sesuai lalu “walk out”. Lho… apa memang begitu gampangnya mencari jalan keluar masalah? Melenggang keluar dan meninggalkan masalah di dalam. Lobi-lobi tidak ada hasilnya meskipun berjam-jam, sampai diundur lagi dan lagi. Yang jelas pasti ada yang salah dalam mekanisme persidangan di DPR. Sudah harus ada pembenahan ke depannya, atau rapat paripurna akan selalu bersuasana seperti pasar yang semrawut dan saling sahut-menyahut, lalu walk out. Lalu pilihan terakhir adalah voting. Menang kalah lagi….!

Mekanisme Penyelesaian Masalah DPR Perlu Inovasi

Dari sejak beberapa sidang paripurna DPR sebelumnya pun suasana ini selalu terjadi di DPR, seharusnya para pakar hukum tata negara dan semua komponen petinggi negara sadar akan kelemahan ini dan tidak terus-terusan membiarkan keadaan ini terus berlangsung. Efek buruknya sangat besar, karena dalam kondisi sidang yang semrawut seperti itu akan menghasilkan sebuah kebijakan yang tidak tepat, rendah kebermanfaatannya dan dukungan terbatas. Apalagi kalau kebijakan itu diambil dengan cara voting yang diikuti sebagian wakil rakyat walk out. Akan ada resiko kebijakan itu tidak mendapat dukungan, diganjal dan tidak memberi manfaat serta tidak berdampak pada perubahan ke arah kebaikan bagi bangsa dan negara.

Semestinya para pemimpin dan elite partai politik menyadari kekeliruan ini. Mereka ada karena dikehendaki rakyat, Tanggalkan ego dan mulailah membuka hati dan wawasan berpikir untuk bisa memberi sumbangsih bagi bangsa dan negara dengan memikirkan dan menelurkan kebijakan-kebijakan yang bisa menyejahterakan rakyat. Cantik dan cerdaslah dalam memainkan politik! Sudah saatnya tidak lagi mengedepankan menang kalah, balas dendam, dan tinggalkan solidaritas pada partai bila jelas-jelas kebijakan partai itu salah dan akan merugikan rakyat serta bukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Saya yakin, sebagai manusia bisa membedakan benar dan salah. Berani beda untuk kebenaran justru mendapat simpati dari masyarakat luas.

Semoga para pemimpin dan elite partai politik segera sadar dan menjadi dewasa dalam berpolitik. Tak ada gunanya saling menunjuk salah, tetapi mari berangkulan membangun Indonesia. Bersikap rendah hati dan bijaksana, mau bekerja sama untuk saling melengkapi dan memberi sumbangsih kepada negeri kita tercinta ini. Jadilah teladan dalam sikap dan kebijakan, sehingga rakyat menjunjung wakilnya, percaya dan bisa patuh pada aturan yang dibuat DPR.

Sudah terbukti akibat ulah mereka nilai rupiah langsung anjlok, harga saham juga turun. Ekonomi yang dibangun dengan susah payah dan harus dijaga kestabilannya diporakporandakan oleh kejadian sidang paripurna di hari pertama yang hanya untuk urusan menetapkan ketua DPR saja. Hasilnya jajaran pimpinan DPR adalah wajah-wajah yang akhirnya juga diragukan kredibilitasnya. Runyam bukan?

Jokowi Presiden yang Optimis dan Menyambut Tantangan

Di tengah suasana panas di kalangan legislatif, masih ada secercah harapan ketika kemarin malam saya melihat Jokowi berbicara kepada wartawan bahwa dia tak ragu menghadapi hasil sidang paripurna DPR yang para pemimpinnya dikuasai oleh koalisi merah putih. Jokowi akan membuat kebijakan yang baik dan berguna bagi masyarakat Indonesia sehingga harapannya kebijakan itu didukung pula oleh DPR dan tak ada alasan untuk menolaknya. Salut dengan keoptimisan Jokowi, yang menyikapi situasi yang dianggap kurang menguntungkannya dengan semangat dan ketulusan. Jokowi adalah tokoh fenomenal yang terpilih sebagai presiden dengan dukungan besar dari rakyat.

Inilah keunggulan Jokowi yang bisa diandalkan :

1. Entah disadari atau tidak olehnya, Jokowi adalah tokoh yang dapat menggerakkan rakyat.

2. Jokowi harus selalu berkomunikasi efektif dengan rakyat, mampu mengajak rakyat mendukung kebijakan-kebijakan yang diambilnya untuk membenahi bangsa dan negara.

3. Jokowi harus bisa menjelaskan persoalan yang dihadapi bangsa dan membuat rakyat mengerti dan mau mendukung langkah pemerintah.

4. Presiden akan didukung rakyat kalau bisa merangkul rakyat melalui komunikasi yang menyentuh hati rakyat.

Semoga kekuatan ini selalu dipakai olehnya dalam memimpin Indonesia dengan teladan kesahajaan dan ketulusan yang memukau rakyat. Apabila Jokowi bisa mempertahankan kemampuannya dalam mendapat dukungan besar rakyat dan dapat menggerakkan rakyat, kekuatan ada di garda depan. Oleh sebab itu, mari kita kawal pemerintahan. Rakyat jangan acuh tak acuh, dengan kondisi seperti ini DPR tidak terlalu bisa diandalkan karena hanya berpijak pada hitungan suara saja melalui voting. Musyawarah untuk mufakat makin sulit menjadi jalan keluar mengatasi perbedaan dan permasalahan di DPR.

Semoga di awal pemerintahan baru, bangsa Indonesia diberkati dan dalam bimbingan Tuhan serta sanggup mengatasi persoalan-persoalan pelik yang sedang terjadi.








Sumber : http://ift.tt/1yBiBWY

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz