SYINDROME POLITIK
SYINDROME POLITIK
Pertarungan politik telah berakhir, namun suasananya masih terasa hingga saat ini, ada yang yang tiba-tiba menjadi analis politik dadakan, ada yang dengan gampangnya terprovokasi media yang sebenarnya media itu sendiri adalah bentukan para pelaku polotik yang tujuannya juga adalah memancing isu dan menebarkan kebencian terhadap lawan politiknya sendiri, dan ada juga yang mendukung jagoannya dengan cara yg berlebihan, hingga tidak kenal saudara, teman, keluarga, bahkan hubungan kekerabatan rela untuk terputus apabila mereka berbeda pandangan politik dari dirinya, ironis memang, apa sampai sebegitu kejamnya politik di Negeri ini ?, apa tiada lagi sisi kedamaian di yang dulu begitu melekat pada Bangsa ini ?. benarlah kalo pepatah lama mengatakan “Hati-hati dengan politik, karena dengannya saudara bisa jadi musuh, keluarga bisa jadi menjauh”.
Ternyata tidak cukup sampai berakhir disitu. Hingar bingar politik kini terus berlanjut memaksa rakyat untuk terus melanjutkan peperangannya. Dari mulai isu yang remeh temeh sampai dengan isu yang saat ini sedang hangat yaitu UU pilkada saat ini. “wahai Politisi…! Kami Cuma Rakyat kecil yang harus sibuk mencari sesuap nasi dan masih ingin terus berkumpul dengan Saudara handai taulan…jangan Kalian terus provokasi Kami…cukuplah kalian libatkan kami dengan euforia kemenangan bangsa ini dan dengan prestasi yang Kalian buat, bukan yang kalian habisi sendiri Bangsa ini dengan korupsi”
Teruntuk Saudaraku sebangsa dan setanah air, marilah sejenak kita merenung, dimanakah kita memposisikan diri kita dalam membangun Negeri ini. sebagai Subyek ataukah sebagai obyek yang selalu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya demi kemauan sang pengembala. Jangan mudah mencemooh orang lain, menghargailah walau beda selera. Jangan terlalu fanatik dengan kelompok. Pertanyaannya adalah kapan kita gampang terhasut dan terprovokasi ?, ketika kita tidak berfikir bisa berfikir jernih, kapan kita tidak bisa berikir jernih, ketika kita sudah menjadi partisan kelompok tertentu.
Situasi politik memang mempengaruhi suatu bangsa dan rakyatnya, namun masa depan seseorang itu harus diperjuangkan dengan tangan-tangannya sendiri bukan dengan tangan orang lain apalagi para politisi. Jadi jangan beranggapan masa depan kita tergantung politik, nonsense itu semua…jangan terlau kagetan dengan isu-isu politik, jangan juga terlalu serius apalagi reaksioner dalam menanggapinya. Dunia politik itu biasa “Tiada kawan atau lawan yang abadi” hari ini mungkin dia musuh kita,besok belom tentu. Jadilah rakyat yang bijaksana, rakyat yang dewasa dalam mencermati, menanggapi dan bertindak dalam isu-isu yang membuat resah dinegeri ini. Jangan sebaliknya terlalu naif dan posesif seperti orang yang baru mengenal dunia politik lalu terkena virus yang namanya SYINDROME POLITIK.
Sumber : http://ift.tt/YEXjXN
Pertarungan politik telah berakhir, namun suasananya masih terasa hingga saat ini, ada yang yang tiba-tiba menjadi analis politik dadakan, ada yang dengan gampangnya terprovokasi media yang sebenarnya media itu sendiri adalah bentukan para pelaku polotik yang tujuannya juga adalah memancing isu dan menebarkan kebencian terhadap lawan politiknya sendiri, dan ada juga yang mendukung jagoannya dengan cara yg berlebihan, hingga tidak kenal saudara, teman, keluarga, bahkan hubungan kekerabatan rela untuk terputus apabila mereka berbeda pandangan politik dari dirinya, ironis memang, apa sampai sebegitu kejamnya politik di Negeri ini ?, apa tiada lagi sisi kedamaian di yang dulu begitu melekat pada Bangsa ini ?. benarlah kalo pepatah lama mengatakan “Hati-hati dengan politik, karena dengannya saudara bisa jadi musuh, keluarga bisa jadi menjauh”.
Ternyata tidak cukup sampai berakhir disitu. Hingar bingar politik kini terus berlanjut memaksa rakyat untuk terus melanjutkan peperangannya. Dari mulai isu yang remeh temeh sampai dengan isu yang saat ini sedang hangat yaitu UU pilkada saat ini. “wahai Politisi…! Kami Cuma Rakyat kecil yang harus sibuk mencari sesuap nasi dan masih ingin terus berkumpul dengan Saudara handai taulan…jangan Kalian terus provokasi Kami…cukuplah kalian libatkan kami dengan euforia kemenangan bangsa ini dan dengan prestasi yang Kalian buat, bukan yang kalian habisi sendiri Bangsa ini dengan korupsi”
Teruntuk Saudaraku sebangsa dan setanah air, marilah sejenak kita merenung, dimanakah kita memposisikan diri kita dalam membangun Negeri ini. sebagai Subyek ataukah sebagai obyek yang selalu seperti kerbau yang dicucuk hidungnya demi kemauan sang pengembala. Jangan mudah mencemooh orang lain, menghargailah walau beda selera. Jangan terlalu fanatik dengan kelompok. Pertanyaannya adalah kapan kita gampang terhasut dan terprovokasi ?, ketika kita tidak berfikir bisa berfikir jernih, kapan kita tidak bisa berikir jernih, ketika kita sudah menjadi partisan kelompok tertentu.
Situasi politik memang mempengaruhi suatu bangsa dan rakyatnya, namun masa depan seseorang itu harus diperjuangkan dengan tangan-tangannya sendiri bukan dengan tangan orang lain apalagi para politisi. Jadi jangan beranggapan masa depan kita tergantung politik, nonsense itu semua…jangan terlau kagetan dengan isu-isu politik, jangan juga terlalu serius apalagi reaksioner dalam menanggapinya. Dunia politik itu biasa “Tiada kawan atau lawan yang abadi” hari ini mungkin dia musuh kita,besok belom tentu. Jadilah rakyat yang bijaksana, rakyat yang dewasa dalam mencermati, menanggapi dan bertindak dalam isu-isu yang membuat resah dinegeri ini. Jangan sebaliknya terlalu naif dan posesif seperti orang yang baru mengenal dunia politik lalu terkena virus yang namanya SYINDROME POLITIK.
Sumber : http://ift.tt/YEXjXN