Suara Warga

SBY DAN DANA 11,3 MILIAR UNTUK HUT RI KE-69 DI ISTANA

Artikel terkait : SBY DAN DANA 11,3 MILIAR UNTUK HUT RI KE-69 DI ISTANA

Hari ini, tanggal 17 Agustus 2014, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-69. Segenap rakyat pantas bersyukur atas bertambahnya usia bangsa Indonesia. Ungkapan syukur dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan. Untuk melaksanakan berbagai kegiatan tersebut, maka dibutuhkan dana. Berapa dana yang dibutuhkan tergantung pada bentuk kegiatan yang hendak dilakukan.

Tahun ini, SBY mengalokasikan anggaran sebesar 11,3 miliar untuk kegiatan perayaan (upacara) kemerdekaan di istana. Anggaran ini terlampau besar. Tentu perayaan pun akan sangat mewah dan meriah. Tetapi perayaan kemerdekaan yang mewah dan meriah bertolak-belakang dengan situasi rakyat Indonesia saat ini, yang sebagian besar masih hidup dalam garis kemiskinan. Istana seakan mengabaikan dan melupakan jutaan rakyatnya yang hidup di gubuk-gubuk, di tepi pantai, sungai dan rawa serta di atas bukit dan gunung yang jauh dari sarana rumah layak huni, air bersih, listrik, jalan dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Rakyat Indonesia masih membutuhkan banyak dana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Semestinya, dana tersebut dipergunakan untuk kepentingan rakyat, ketimbang dipakai untuk kemewahan perayaan kemerdekaan yang hanya berlangsung beberapa jam saja. Lagi pula, yang hadir dalam perayaan di istana adalah para pejabat, yang setiap hari hidup mewah dan bergelimang uang serta harta kekayaan. Sementara rakyat kecil hanya bisa menyaksikannya dari layar TV atau radio. Bagi rakyat yang tidak punya TV dan radio, apa lagi surat kabar, mereka tidak tahu-menahu tentang kemewahan para pejabatnya di istana negara saat perayaan kemerdekaan Indonesia ke-69.

SBY selalu memiliki filosofi hidup sederhana, santun dan bermartabat, tetapi dalam praktek hampir kurang tampak. SBY boleh beretorika, bicara sangat terstruktur dan logis. Tetapi SBY perlu ingat bahwa rakyat tidak membutuhkan retorika. Rakyat membutuhkan kerja nyata.

Cerita tentang dana perayaan kemerdekaan tahun ini yang mencapai 11,3 miliar menyisahkan tanda tanya di benak: “Apa esensi dan hakikat dari perayaan kemerdekaan Indonesia tahun ini?” Apakah karena perayaan kali ini, merupakan kali terakhir SBY menjadi inspektur upacara di istana? Ataukah ada motivasi lainnya? Hanya SBY dan para pembantunya yang tahu! Sementara rakyat yang bayar pajak untuk negara dibiarkan tetap membisu.

SBY harus sadari bahwa dana 11,3 miliar itu uang rakyat. Rakyat bayar pajar. Bahkan rakyat miskin di kampung-kampung terpencil pun bayar pajak. Pedagang sayur, ikan, nelayan, petani bayar pajak untuk kesejahteraan bersama rakyat. Bukan dipakai untuk perayaan mewah di istana negara. SBY mestinya malu saat merayakan kemerdekaan dengan sangat mewah, sementara rakyat hidup sangat menderita.

Sebagai salah satu wajib pajak, saya kecewa dan tidak simpati terhadap sikap SBY yang menghamburkan uang rakyat untuk kemewahan perayaan kemerdekaan di istana. Kemewahan istana pada perayaan kemerdekaan kali ini tidak ada bedanya dengan mengambil uang rakyat untuk kesenangan pejabat negara! Saya tidak benci pada perayaan mewah, saya hanya merasa bahwa sikap SBY yang menghamburkan uang rakyat untuk kemewahan perayaan di istana itu kurang tepat dan tidak sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia yang masih hidup dalam garis kemiskinan.

Perayaan kemerdekaan di istana bisa dilakukan dengan sederhana, tanpa mengurangi makna kemerdekaan. Dan harus diingat bahwa perayaan kemerdekaan Indonesia, tidak identik dengan kemewahan. Demikian halnya, tidak bisa diredusir hanya sampai pada upacara yang mewah, mega dan meriah. Sebab esensi dan hakikat perayaan kemerdekaan adalah mengenang, merefleksikan dan menyiapkan strategi untuk bangsa Indonesia pada masa yang akan datang. Bukan sebaliknya hanya duduk manis di atas tribun kehormatan dan menikmati jalannya upacara dan melupakan rakyat kecil yang sedang menderita.



Akhirnya, kami rakyat kecil di kampung-kampung terpencil mau bertanya:

SBY di manakah hati nuranimu untuk kami masyarakat kecil yang sedang menderita?

SBY di manakah hati nuranimu untuk kami pasien miskin yang tidak bisa datang ke Puskesmas untuk berobat karena tidak punya uang?

SBY di manakah hati nuranimu untuk kami anak-anak pedalaman yang tidak bisa sekolah karena tidak ada fasilitas pendidikan?

Kami rakyat kecil dan sederhana akan selalu ingat dalam kenangan penderitaan kami, bahwa SBY pintar beretorika tentang kesederhaan, kesantunan, dan bermartabat, tetapi dalam praktek tidak kami alami.

Selamat merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-69. Tuhan memberkati.



Abepura, 17 Agustus 2014




Sumber : http://ift.tt/1v2oMh9

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz