Suara Warga

Menelusuri Pelacur Amerika Latin di Indonesia

Artikel terkait : Menelusuri Pelacur Amerika Latin di Indonesia

1418531600566183404 Ilustrasi pelacur Amerika Latin (REUTERS)



Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Bali sudah ada Pekerja Seks Komersial atau PSK asing.

Kalau bagi penikmat syahwat pelacur dari Cina atau Cungkok sudah tersebar di Jakarta maupun kota besar lainnya.

Dalam satu tahun terakhir, Jakarta maupun kota-kota yang menyediakan wisata syahwat ada juga pelacur dari Amerika Latin seperti Brasil, Columbia, bahkan Argentina.

Beberapa waktu lalu, media memberitakan beberapa pelacur dari Maroko Afrika Utara pun di Puncak berhasil digerebek oleh aparat kepolisian. Pelacur Maroko ini pun sudah lama menempati di villa bahkan ada yang di rumah penduduk. Baca di sini.

Penulis mendapatkan informasi, beberapa tempat hiburan malam di Jakarta menyediakan wanita dari Amerika Latin. Adapun para pelanggannya biasanya turis arab, turis Singapura maupun warga Indonesia sendiri.

Bisnis esek-esek di Jakarta sepertinya dibiarkan oleh aparat kepolisian, padahal sudah jelas bahwa hotel maupun kafe di kawasan Mangga Besar menyediakan para pelacur.

Pelacur Amerika Latin

Menemui pelacur asal Amerika Latin tidak terlalu sulit. Mereka sangat mudah bergaul dengan Indonesia.

Penulis pun berhasil mengajak ngobrol dengan pelacur dari Brasil atas bantuan teman yang bekerja di tempat hiburan di sekitar Mangga Besar Jakarta Utara.

Sebut saja, Orlianda Vieira. Wajahnya memperlihatkan campuran antara eropa dan amerika seperti khas wanita Brasil. Rambutnya pun pirang dan sedikit keriting.

Viera ini sudah satu tahun di Indonesia dan menjalani sebagai pelacur. Ia mengaku kehidupan di Jakarta tak ubahnya seperti di rumahnya sendiri karena cuacanya tropis seperti di Brasil.

Ia mengakui berumur 21 tahun, dan menjalani profesinya itu karena ingin mendapatkan uang. Selama ini persaingan pelacur di Brasil cukup tinggi dan tidak ada jaminan keamanan.

Lanjut wanita yang saat menumui penulis memakai kaos putih ketat dan hotpants itu mengakui bayaran di Indonesia sangat tinggi.

Ia pun bisa mengirim uang ke negaranya untuk keluarganya Rp6 jutaan.

Selain itu, perempuan yang sudah lancar berbahasa Indonesia itu mengatakan, sebelum di Jakarta, ia bekerja sebagai pelacur di Bali. “Di Bali sangat senang, banyak turis asing tetapi uangnya gak terlalu banyak,” ujarnya.

Penulis pun menanyakan, terkait teman-teman Viera maupun wanita lainnya yang berprofesi sebagai pelacur.

Viera menawarkan untuk memperkenalkan temannya dari Argentian. Penasaran penulis semakin bertambah untuk mengorek sepak terjang perempuan Argentian berprosesi sebagai pelacur.

Jemari lentik Viera menekan smartphone produk Amerika Serikat memberitahu kepada temannya ada seseorang yang ingin ngobrol. Ia pun meminta penulis untuk menunggu 30 menit.

Benar, sekitar 30 menit, datang wanita bule dengan celana legging dan kos ketat. Ia menyebut namanya Gabriela.

Terlihat wajahnya mirip orang eropa. Matanya pun kebiruan, rambutnya pirang.

Saat Gabriela dan Viera bertemu mereka pun berpelukan seperti teman akrab. Penulis pun dihadapan kedua cewek cantik yang berprofesi sebagai pelacur.

Gabriela ini bahasanya Indonesia tidak begitu lancar, tetapi paham orang Indonesia berbicara.

Wanita yang mengakui berumur 22 tahun ini mengakui sebagai model di Jakarta tetapi bisa juga menjadi wanita penjaja cinta.

Ia pun memperlihatkan dengan smartphonenya foto-foto saat berlenggak lenggok di catwalk memamperkan sebuah produk pakaian.

Selain itu, ia pun menjadi SPG untuk beberapa produk termasuk otomotif.

Mengakui menjadi pelacur, padahal ada profesi model maupun SPG, Gabriela mengatakan, “Itu hanya kerja sampingan saja.”

Itulah sekelumit penelusuran pelacur dari Amerika Latin yang beroperasi di Indonesia.




Sumber : http://ift.tt/1qLqPIE

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz