Suara Warga

Beda Bung Jokowi, Beda Pula Bung Karno

Artikel terkait : Beda Bung Jokowi, Beda Pula Bung Karno

1418866861202093556Gambar kreasi dari sumber yang jelas.

Beda Bung Karno beda pula Bung Jokowi,

Indonesia memang sebuah Negara besar, dengan kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah, ditunjang jumlah penduduk pada kisaran 250 juta orang.Bila kemudian Pasca Reformasi Indonesia bermetaporpuse menjadi Negara Demokrasi bahkan meraih prestai sebagai salah satu Negara paling Demokratis di Dunia.

Tapi rakyat dapat apa ?

Pemilu paling Demokratis di Indonesia th.1955

Bung Karno pernah mencoba dengan PEMILU paling berhasil dan paling Demokratis yang pernah ada di negeri ini. Pemilu yang diikuti oleh hampir semua yang punya hak pilih, Pemilu yang dilaksanakan dengan jujur tanpa money politik dan tanpa intimidasi.

Tapi hasilnya apa ?

Anggota Konstituante pilihan rakyat tidak bisa berbuat apa-apa, itulah mengapa pada tanggal 5 Juli 1959, Bung Karno mengajak kembali pada UUD 45 mengajak kembali pada UUD 45 yang dijiawai sebuah gentlemens agreement, kembali pada cita-cita kemerdekaan. Kembali pada Kedaulatan Rakyat, Daulah Rakyat yang diujudkan melalui sebuah tata nilai “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.“

Manifesto Politik Pancasila Bung Karno yang tegas, menetapkan HARGA MATI untuk UUD 45, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia yang kemudian terkenal dengan Manipol USDEK, adalah pukulan telak bagi antek Imperialisme Modern, membawa Kapitalisme liberalistic, untuk kembali menjarah Bumi Indonesia.

Limapuluh Sembilan tahun kemudian.

Pemilu paling amburadul sepanjang pernah ada Pemilu di Indonesia, Pemilu yang sarat dengan berbagai intrik, pemilu yang suaranya harus dibeli. Pemilu yang penuh dengan janji-janji. Pemilu dari sebuah Negeri yang katanya paling DEMOKRATIS. Pemilu yang katanya melahirkan Bung Karno baru.

Telah lahir Bung Karno abad dua puluh satu, telah lahir Bung Joko penerus cita-cita Bung Karno?

Beda Bung Karno Beda pula Bung Jokowi :

· Bung Karno berjuang dulu sepanjang umur, mengabdi dulu sepanjang hayat, kenyang masuk penjara dan diinternir ( dibuag ) dari masyarakat, maka dia dicintai Rakyat dan dipilih menjadi Presiden.

· Bung Jokowi dikenal mendunia melalui pemberitaan, yang disusun dengan sebuah keahlian, Diangkat dari bentukan opini berkelanjutan. Bahkan berita besarnya seribu kali dari kenyataan. Bahkan bila masyarakat Solo yang hidup dalam keseharian ternyata mengenal kehebatan Bung Joko, justru dari pemberitaan Media Internasional.

· Bila Bung Karno dikenal, menjadi kebanggaan dari mulut kemulut, kemudian mendunia, maka Bung Jokowi telah mendunia lebih dulu baru melalui media local dan mulut kemulut menjangkau orang per orang kemudian orang terbius dalam satu kebanggaan.

Bung Karno Produk Kedaulatan Rakyat dan Bung Jokowi Produk Demokrasi Liberal.

· Melalui seleksi alam yang melewati proses panjang, baru kemudian RAKYAT YANG BERDAULAT menemukan sosok pemimpin yang diidamkan. Munculah Sosok Idaman Rakyat bernama Bung Karno.

· Melalui jual beli suara, janji dan tipu daya bahkan ancaman terselubung rakyat kemudian BERDEMOKRASI memilih pemimpin yang telah membayar dengan harga sepiring nasi, atau janji setinggi langit bahkan karena takut pada Preman jalanan. Munculah Sosok hasil Propaganda Media bernama Bung Jokowi.

Mengapa DEMOKRASI yang di “NABI” kan oleh Negara Barat justru menjadi “SETAN” paling jahat di Negeri ini ?

Jawab nya : kesenjangan pendidikan, kesenjangan ekonomi.

Dari berbagai data yang diolah dari hasil sensus Penduduk 2010 menunjukkan :

Belum tamat atau tidak tamat SD : 18.04 % Tamat SD : 38.07 % Tamat SMP: 19.07 % Tamat SMA: 20.05 % Tamat Perguruan Tinggi ; dari D 1 sampai S 3: 4.77 %

Disisi lain struktur penduduk berdasarkan kelompok usia menunjukkan, usia dibawah 15 tahun yang pada tahun 2010 belum mencapai usia 17 tahun pada 2014 dan belum mempunyai hak pilih dalam Pemilu mencapai angka 28,87% dengan asumsi bahwa mereka belum tamat SMP, maka angka kumulatif yang mempunyai hak pilih dengan pendidikan SMP kebawah mencapai 65,11 % Tamat SMA 28,19 % dan sisanya sebesar 6,7% adalah mereka yang berhasil menamatkan pendidikan dari D 1 sampai S3.

Kesenjangan pendidikan inilah biang kerok yang menyebabkan DEMOKRASI yang di”NABI” kan, di Indonesia justru menjadi “SETAN” paling jahat yang membawa sebuah Tyrani Minoritas intelektual merampas Daulat Rakyat yang mayoritas masih dalam kondisi lemah ilmu pengetahuan,dan lemah ekonomi kemudian menjadi bulan-bulanan kelompok minoritas yang menguasai hampir segalanya, yang saling berebut kekuasaan mengatas namakan Demokrasi yang sebenarnya hanya adu pintar menipu rakyat dan adu kuat membeli suara rakyat.

Itulah mengapa Para Pendiri Negara membuat kesepakatan menempatkan Kedaulatan ditangan Rakyat dan dilakukan melalui bentuk Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Bukan untuk DEMOKRASI.

Jangan kaget bila DEMOKRASI memang diperjuangkan hanya oleh beberapa gelintir kalangan Elit untuk menjadikan Rakyat Kecil sebagai sapi perah dan kuda tunggangan untuk sebuah kekuasaan menggapai “KEPUASAN” bagi mereka semata.

Salam Prihatin untuk Demokrasi.




Sumber : http://ift.tt/13dvjgo

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz