SBY Lengser, KMP bubar, Indonesia Cerah
Harapan Pencerahan Pasca SBY Lengser
KMP kini masih ada di genggaman SBY, hidup dan matinya KMP sangat di tentukan oleh alur permainan SBY.
Goyangan2 menjelang lengsernya SBY dari Presiden secara definitip, jelas membawa pengaruh yang besar kepada konstelasi politik, Hukum dan keamanan.
Bahwa kekuatan SBY sebenarnya bukan karena kekuatan yang melekat pada dirinya sendiri pribadi, namun lebih banyak dikarenakan jabatannya sebagai Presiden terpilih dalam Pemilu Presiden.
Kekuatan yang sebenarnya sangat besar dimilikinya, secara sadar atau tidak sadar ternyata tak menghasilkan hasil maksimal, malah cenderung terabaikan dan tersingkirkan dari pertimbangannya sendiri.
Yang jelas secara yuridis Formil, kekuatan Presiden dalam konstelasi politik Nasional khususnya, memiliki kekuatan yang sangat besar dan terpusat. Presidensiil adalah kata kunci kenapa Presiden memiliki begitu besar kekuasaan
Sangat wajar apabila masyarakat begitu gemas dengan langkah2 Presiden yang menggambarkan demikian lemahnya posisi yang diambilnya di konstelasi politik nasional.
Malah terlihat tidak percaya diri dan sering melampiaskan dengan bentuk Curhat, yang justru semakin menampakkan kelemahan dirinya dalam mensikapi kedudukan yang dimilikinya.
Secara Yuridis formil begitu kuat posisinya, namun harus diimbangi dengan Nyali yang besar dari seseorang yang menduduki jabatan sebagai Presiden, menjadi sangat aneh dan menggemaskan ketika sikap yang didasari oleh nyali yang sekecil biji jagung.
Terkadang ada rasa kecewa yang mendalam, namun juga kadang jadi menggelikan, seringkalai menjadi bahan tertawaan dalam pergunjingan. Ujung2nya semakin mempurukkan kredibilitas lembaga kepresidenan yang demikian tinggi dan terhormat.
Keberhasilan memperjuangkan Perppu Pilkada langsung terhadap KMP, dengan bangga dan seolah perjuangan yang susah payah. sementara semua orang tahu bahwa KMP tidak memiliki kekuatan apapun, selain menggantungkan diri kepada kekuatan SBY sendiri.
Bisa dikatakan bahwa merah hitamnya KMP tergantung SBY, mati hidupnya KMP juga sangat ditentukan oleh SBY. KMP sama sekali tidak memiliki kekuatan dan kredibilitas politik yang cukup pasca Pilpres, kecuali perilaku yang aneh dan heboh, malah terkesan melakukan politik balas dendam pasca kekalahannya pada Pilpres.
Dan yang paling aneh lagi, justru semua itu ditampilkan dan ditampakkan dengan sepenuhnya menggunakan kewibawaan SBY beserta lembaga kepresiden yang melekat pada dirinya.
Dan yang teraneh dari yang paling aneh, seolah SBY tidak tahu menahu dan merasa tidak pernah memberikan apapun kepada KMP.
Itulah sebabnya kenapa Rakyat begitu geram dengan tuduhan2 yang menyakitkan namun masuk diakal, SBY dituduh berlagak Pilon, dan bermain di dua kaki, meloloskan RUU Pilkada tidak langsung dengan cara yang tidak kesatria.
Semakin menjadi jadi kegeraman masyarakat, ketika SBY merasa tidak pernah mendorong lolosnya RUU Pilkada tidak langsung, melalui Curhatnya yang tidak terima perlakuan Netizen terhadap dirinya.
Oleh karena itulah, SBY dan lembaga kepresidenan yang melekat pada dirinya, mesti harus selalu disadari dengan terus menerus menjaga kewibawaannya dari pandangan masyarakat Internasional maupun nasional.
10 hari lagi lembaga kepresidenan itu melekat pada dirinya, dengan waktu tinggal sedikit, tunjukkan dan tinggalkanlah kesan dan tindakan tindakan yang tidak menunjukkan kesadarannya, atas lembaga yang melekat pada dirinya bersama dengan kewibawaan yang harus tetap terjaga.
10 Hari lagi Presiden terpilih Jokowi, segera mengambil alih lembaga kepresidenan dan membawanya ketempat yang seharusnya dalam konstelasi politik kenegaraan yang sesuai dengan Konstitusi yang ada.
Kesadaran diri menjadi Presiden yang memiliki kekuasaan tertinggi dan luas didalam konteks NKRI dengan Pemerintahan system Presidensiil. Menggunakannya sesuai dengan amanat penderitaan rakyat yang diembannya, dengan didasari oleh jiwa dan Nyali yang besar.
Jokowi tak boleh lagi mengulang kesalahan yang sama, tetap menjaga kewibawaan lembaga kepresidenan yang melekat pada dirinya, dengan menggunakan kekuasaannya secara tepat, untuk menyelesaikan amanah yang diembannya selama 5 tahun kedepan.
Boleh mulai berharap kepada Jokowi, ketika persepsi awalnya ” tidak ada konsesi dan bagi bagi kekuasaan “, adalah upaya Jokowi mempertahankan kewibawaan lembaga kepresidenan yang memiliki kekuasaan dalam system Pemerintahan Presidensiil.
Dan yang lebih istimewanya jargon yang didengungkan sejak awal itu, justru mengkristal didalam setiap hati sanubari masyarakat, dan timbul harapan akan terjadi perubahan yang lebih baik dimasa depan.
Lembaga Kepresidenan yang kini tampak tak memiliki wibawa, harus dikembalikan kepada posisi semula pada kedudukan yang semestinya, dalam konstelasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang taat asas kepada konstitusi Negara.
Presiden sebagai penerima mandat dan amanah penderitaan rakyat, merupakan penjelmaan kedaulatan rakyat yang dijalankan oleh seorang presiden pilihan rakyat.
Menjaga kewibawaan lembaga kepresidenan, berarti juga menjaga kewibawaan Rakyat, eksistensi dan kedaulatannya.
Itulah tugas utama dan yang pertama seorang Presiden NKRI.
Semoga Alloh selalu memberi limpahan barokah dan rakhmatnya kepada kita semua bangsa indonesia.
Amiin.
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !
Jakarta, 10 Oktober 2014
Zen Muttaqin.
Sumber : http://ift.tt/10Ya0ys