Jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan, Punya Siapa?
Suatu hari di sebuah grup facebook, ada seseorang yang bertanya, “Apa kelebihan kabinet Jokowi?” saya jawab singkat, “Kelebihan kabinet jokowi adalah, mereka kelebihan dikritik sebelum bekerja”. Kabinet Jokowi ini memang menarik. Barangkali semenjak pelantikan presiden yang terdahulu, kabinet inilah yang paling banyak menerima caci-maki.
Salah satu yang paling fenomenal mungkin Susi Pudjiastuti, sang Menteri Perikanan dan Kelautan. Ibu Susi ini sejak hari pengenalan sudah menjadi sumber berita karena gayanya menghisap sebatang rokok ketika diwawancarai para jurnalis. Ibarat mendapat cipratan bensin, gerombolan massa pun menyerang membabi buta mengenai sikapnya. Tema kritikpun sambung menyambung seperti mata rantai. Mulai dari rokok, tatto, hingga yang paling mutakhir adalah kritik tentang sekolahnya yang hanya hingga SMP. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah kritik dari seorang dosen ITB bahwa Ibu Susi tidak layak menjadi menteri karerna tidak paham teknologi kelautan seperti marine products economics, coastal processes, dan underwater technology. Saya sendiri belum berani memberi komentar tentang kinerja karena mereka memang belum melakukan apa-apa. Namun saya tertarik membahas mengenai variabel penting dalam penunjukan menteri pada kabinet.
Kesalahan tafsir yang paling pokok adalah mengenai jabatan kementerian. Jabatan kementerian adalah jabatan publik, bukan jabatan akademis. Dalam jabatan akademis, seorang akademisi mesti menguasai bidang tertentu lalu ditunjukkan melalui karya pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, juga melalui jenjang studi yang ditempuhnya. Namun, menteri adalah jabatan publik. Menjadi menteri berarti memimpin kementerian dalam bidang tertentu, dalam hal ini kelautan dan perikanan. Oleh karena itu keliru jika pendekatan yang digunakan pendekatan kemampuan akademik semata. Penguasaan terhadap teknologi kelautan tidak menjamin seseorang untuk dapat menjadi menteri yang cakap, sebab penguasaan bidang yang digeluti hanyalah salah satu variabel. Kepemimpinan memiliki multi variabel yang mesti dipertimbangkan. Dalam hal ini, pendekatan juga dilakukan melalui teori kepemimpinan (leadership). Karakter dan gaya kepemimpinan juga penting dalam menunjuk menteri.
Dalam teori kepemimpinan, seorang pemimpin dapat berbeda gaya sesuai situasi yang dihadapinya (situational theory). Karena seperti dikatakan Woodward, tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik untuk semua situasi. Saat ini mungkin saja pertimbangan kepemimpinan yang kita butuhkan sebagai menteri bukanlah orang yang mendalami teknologi kelautan secara mendalam. Mungkin kita lebih membutuhkan orang yang memiliki karakter kuat, tegas terhadap nelayan tetangga yang melanggar batas laut, keras terhadap industri ikan yang merusak habitat laut, berintegritas membuka jalur perdagangan ekspor, serta cukup lunak dan mau mendengar keluhan para nelayan. Variabel-variabel seperti itu tidak akan kita temukan dalam pendekatan akademik. Seseorang mungkin jago dalam teori pengelolaan ekonomi kelautan, atau hebat konsepnya dalam teknologi pengelolaan hasil laut, namun karena kelemahan dalam variabel kepemimpinan, gagal mengintegrasikan aspek-aspek non-teknikal sehingga konsepnya tidak bisa jalan dilapangan.
Di negara maju sekalipun, seringkali kepemimpinan dalam satu bidang kementerian tidak mesti linear dengan bidang ilmu yang kita kuasai. Di Norwegia, negara skandinavia yang merupakan penghasil ikan terbesar di Eropa, Menteri Perikanan dijabat oleh Elisabeth Aspaker yang latar belakang pendidikannya amat jauh dari perikanan. Aspaker merupakan sarjana bidang teacher training, master di bidang media, dan doktor bidang keorganisasian. Di Jepang, bidang perikanan yang tergabung dalam Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dikomandoi oleh Yoshimasa Hayashi yang latar belakang akademiknya adalah ilmu pemerintahan. Di Amerika, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dipimpin oleh Tom Vilsack. Latar belakang pendidikannya? Vilsack adalah sarjana dan praktisi hukum. Di Indonesia? Kita tahu bahwa Jakarta pernah dipimpin oleh Foke yang latar belakang pendidikannya (S2 dan S3) adalah Perencanaan Kota. Namun hasilnya, cobalah ditanyakan ke warga Jakarta.
Kita bisa saja beranggapan, Ibu Susi mungkin tidak pernah membaca buku tentang fisheries management, dan Bu Susi mungkin tidak pernah menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah seperti professor-professor kita di kampus. Tapi satu hal yang pasti, Ibu Susi pernah sukses membuktikan kepemimpinannya, dengan meraih gelar Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia, Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006, serta Indonesia Berprestasi Award 2009 dari PT Exelcomindo.
Tidak ada sosok menteri yang sempurna, itu pasti. Tapi jika harus memilih, variabel manakah yang akan lebih diprioritaskan ketika memilih menteri, itu dulu yang mesti dijawab. Presiden Jokowi pasti punya pertimbangan mengapa memilih orang berkarakter seperti Ibu Susi. Mungkin saja Ibu Susi dianggapnya paling tepat dalam memimpin dan menyelesaikan persoalan pelik dalam kelautan dan perikanan di negara ini. Jika sang menteri lemah di variabel lainnya, akan ada timnya yang membantu menutupi kelemahan tersebut. Ibu Susi mungkin saja tidak mengerti sama sekali tentang apa itu aquaculture and foreshore management, atau modeling and simulation of harsh environments, tapi toh jika beliau membutuhkan masukan tentang hal tersebut, sebagai menteri tentu tidak sulit bagi Bu Susi untuk mencari para ahli di bidang tersebut dari kampus-kampus ternama di Indonesia untuk meminta pertimbangan dan rekomendasi.
Jika di Cina ada legenda dewi laut bernama Ma Zu (bunda pelindung) yang berbudi luhur, sosok penolong bagi kaum nelayan. Mudah-mudahan Ibu Susi adalah dewi laut Indonesia yang akan membawa kesejahteraan bagi nelayan kita. Jadi, berilah dulu ruang bagi kabinet untuk bekerja. Karena jika suatu saat Ibu Susi melanggar sumpah jabatannya, jangankan rakyat, langit pun akan menggugat sang dewi.
Selamat bekerja Ibu Susi.
Tulisan lain:
Antara kupu-kupu di Reiman Gardens dan di Bantimurung
Nikmatnya Wisata Ramadhan di Kota Nabi Yusuf A.S
Andalusia: Pesona Sejarah dan Budaya Bangsa Spanyol
Isi Dapur Indonesia Laris Manis di Belanda
Lantunan Angklung Bercerita tentang Budaya Indonesia di Belanda
Pasar Malam Indonesia di Belanda Perkenalkan Tari Indonesia
FLORIADE 2012, Sekali dalam Sepuluh Tahun
Sumber : http://ift.tt/1zG9Z1C
Salah satu yang paling fenomenal mungkin Susi Pudjiastuti, sang Menteri Perikanan dan Kelautan. Ibu Susi ini sejak hari pengenalan sudah menjadi sumber berita karena gayanya menghisap sebatang rokok ketika diwawancarai para jurnalis. Ibarat mendapat cipratan bensin, gerombolan massa pun menyerang membabi buta mengenai sikapnya. Tema kritikpun sambung menyambung seperti mata rantai. Mulai dari rokok, tatto, hingga yang paling mutakhir adalah kritik tentang sekolahnya yang hanya hingga SMP. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah kritik dari seorang dosen ITB bahwa Ibu Susi tidak layak menjadi menteri karerna tidak paham teknologi kelautan seperti marine products economics, coastal processes, dan underwater technology. Saya sendiri belum berani memberi komentar tentang kinerja karena mereka memang belum melakukan apa-apa. Namun saya tertarik membahas mengenai variabel penting dalam penunjukan menteri pada kabinet.
Kesalahan tafsir yang paling pokok adalah mengenai jabatan kementerian. Jabatan kementerian adalah jabatan publik, bukan jabatan akademis. Dalam jabatan akademis, seorang akademisi mesti menguasai bidang tertentu lalu ditunjukkan melalui karya pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, juga melalui jenjang studi yang ditempuhnya. Namun, menteri adalah jabatan publik. Menjadi menteri berarti memimpin kementerian dalam bidang tertentu, dalam hal ini kelautan dan perikanan. Oleh karena itu keliru jika pendekatan yang digunakan pendekatan kemampuan akademik semata. Penguasaan terhadap teknologi kelautan tidak menjamin seseorang untuk dapat menjadi menteri yang cakap, sebab penguasaan bidang yang digeluti hanyalah salah satu variabel. Kepemimpinan memiliki multi variabel yang mesti dipertimbangkan. Dalam hal ini, pendekatan juga dilakukan melalui teori kepemimpinan (leadership). Karakter dan gaya kepemimpinan juga penting dalam menunjuk menteri.
Dalam teori kepemimpinan, seorang pemimpin dapat berbeda gaya sesuai situasi yang dihadapinya (situational theory). Karena seperti dikatakan Woodward, tidak ada gaya kepemimpinan yang terbaik untuk semua situasi. Saat ini mungkin saja pertimbangan kepemimpinan yang kita butuhkan sebagai menteri bukanlah orang yang mendalami teknologi kelautan secara mendalam. Mungkin kita lebih membutuhkan orang yang memiliki karakter kuat, tegas terhadap nelayan tetangga yang melanggar batas laut, keras terhadap industri ikan yang merusak habitat laut, berintegritas membuka jalur perdagangan ekspor, serta cukup lunak dan mau mendengar keluhan para nelayan. Variabel-variabel seperti itu tidak akan kita temukan dalam pendekatan akademik. Seseorang mungkin jago dalam teori pengelolaan ekonomi kelautan, atau hebat konsepnya dalam teknologi pengelolaan hasil laut, namun karena kelemahan dalam variabel kepemimpinan, gagal mengintegrasikan aspek-aspek non-teknikal sehingga konsepnya tidak bisa jalan dilapangan.
Di negara maju sekalipun, seringkali kepemimpinan dalam satu bidang kementerian tidak mesti linear dengan bidang ilmu yang kita kuasai. Di Norwegia, negara skandinavia yang merupakan penghasil ikan terbesar di Eropa, Menteri Perikanan dijabat oleh Elisabeth Aspaker yang latar belakang pendidikannya amat jauh dari perikanan. Aspaker merupakan sarjana bidang teacher training, master di bidang media, dan doktor bidang keorganisasian. Di Jepang, bidang perikanan yang tergabung dalam Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dikomandoi oleh Yoshimasa Hayashi yang latar belakang akademiknya adalah ilmu pemerintahan. Di Amerika, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) dipimpin oleh Tom Vilsack. Latar belakang pendidikannya? Vilsack adalah sarjana dan praktisi hukum. Di Indonesia? Kita tahu bahwa Jakarta pernah dipimpin oleh Foke yang latar belakang pendidikannya (S2 dan S3) adalah Perencanaan Kota. Namun hasilnya, cobalah ditanyakan ke warga Jakarta.
Kita bisa saja beranggapan, Ibu Susi mungkin tidak pernah membaca buku tentang fisheries management, dan Bu Susi mungkin tidak pernah menerbitkan jurnal-jurnal ilmiah seperti professor-professor kita di kampus. Tapi satu hal yang pasti, Ibu Susi pernah sukses membuktikan kepemimpinannya, dengan meraih gelar Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young Indonesia tahun 2005, Primaniyarta Award for Best Small & Medium Enterprise Exporter 2005 dari Presiden Republik Indonesia, Metro TV Award for Economics, Inspiring Woman 2005 dan Eagle Award 2006, serta Indonesia Berprestasi Award 2009 dari PT Exelcomindo.
Tidak ada sosok menteri yang sempurna, itu pasti. Tapi jika harus memilih, variabel manakah yang akan lebih diprioritaskan ketika memilih menteri, itu dulu yang mesti dijawab. Presiden Jokowi pasti punya pertimbangan mengapa memilih orang berkarakter seperti Ibu Susi. Mungkin saja Ibu Susi dianggapnya paling tepat dalam memimpin dan menyelesaikan persoalan pelik dalam kelautan dan perikanan di negara ini. Jika sang menteri lemah di variabel lainnya, akan ada timnya yang membantu menutupi kelemahan tersebut. Ibu Susi mungkin saja tidak mengerti sama sekali tentang apa itu aquaculture and foreshore management, atau modeling and simulation of harsh environments, tapi toh jika beliau membutuhkan masukan tentang hal tersebut, sebagai menteri tentu tidak sulit bagi Bu Susi untuk mencari para ahli di bidang tersebut dari kampus-kampus ternama di Indonesia untuk meminta pertimbangan dan rekomendasi.
Jika di Cina ada legenda dewi laut bernama Ma Zu (bunda pelindung) yang berbudi luhur, sosok penolong bagi kaum nelayan. Mudah-mudahan Ibu Susi adalah dewi laut Indonesia yang akan membawa kesejahteraan bagi nelayan kita. Jadi, berilah dulu ruang bagi kabinet untuk bekerja. Karena jika suatu saat Ibu Susi melanggar sumpah jabatannya, jangankan rakyat, langit pun akan menggugat sang dewi.
Selamat bekerja Ibu Susi.
Tulisan lain:
Antara kupu-kupu di Reiman Gardens dan di Bantimurung
Nikmatnya Wisata Ramadhan di Kota Nabi Yusuf A.S
Andalusia: Pesona Sejarah dan Budaya Bangsa Spanyol
Isi Dapur Indonesia Laris Manis di Belanda
Lantunan Angklung Bercerita tentang Budaya Indonesia di Belanda
Pasar Malam Indonesia di Belanda Perkenalkan Tari Indonesia
FLORIADE 2012, Sekali dalam Sepuluh Tahun
Sumber : http://ift.tt/1zG9Z1C