Suara Warga

Pengantin Politik

Artikel terkait : Pengantin Politik

Lagi sibuk-sibuknya presiden terpilih dan wakilnya menyusun kabinet. Ramping atau tidak terserah presiden terpilih, toh akan menjadi catatan buat masyarakat siapa yang pernah berjanji. Biarlah kita menilai kinerjanya ke depan. Membicarakan tentang koalisi dalam sebuah pemerintahan tentu tak terlepas dari kontrol partai politik pemenang pemilu. Itu sudah rumus politik, semua partai pendukung harus tunduk pada mahar politik yang sudah di sepakati.

Mahar politik harus mengacu pada prospektif partai pendukung bukan hanya pemilih semata. Mahar politik harus didahului proses ‘lamar-melamar’. Proses pelamaran ini tentu saja harus melewati beberapa tahapan untuk mencapai mufakat dan melangsungkan ‘pernikahan politik’. Tentu saja partai pemenang harus menentukan siapa pengantin politik yang akan diajukan, dan partai yang melakukan mahar politik harus mengetahui agar tak membeli kucing dalam karung.

Sepanjang sejarah kepemimpinan di negara ini, baru Presiden SBY yang berhasil menjaga keutuhan ‘pengantin politik’ nya agar tidak ada perceraian sampai ke talak tiga. Ini menarik, presiden terpilih harus bertanya kepada SBY rahasia dibalik kelanggengan pernikahan politiknya. Tidak perlu menjaga ego untuk belajar pada yang sudah punya pengalaman. Bukankah pengalaman itu guru yang terbaik? Jangan sampai ada cerita cerai sebelum menikmati masa bulan madu.

Kembali ke soal mahar politik, sebenarnya kalau dibilang tak ada deal politik tidak juga benar. Mahar politik kan digunakan untuk menjaga keutuhan koalisi. Persoalannya adalah terkadang mahar politik membuka peluang terjadinya praktik kotor seperti korupsi. Belum lagi harus mengembalikan modal politik yang habis ‘terbuang’ saat pemilu. Apakah kita kemudian menjadi munafik mengabaikan hal tersebut? apa ada diera sekarang ada sekumpulan manusia berhati malaikat yang mendonorkan hartanya untuk perjuangan politik jika tak ada imbalan? Cerita cerita tersebut tentu hanya ada di zaman memperjuangkan kemerdekaan, terpatri di buku-buku memoar para pahlawan kita. Yach ..berjuang tanpa pamrih.

Kita hanya bisa mendoakan agar pengantin politik yang terpilih melalui pemilihan langsung bisa langgeng lima tahun ke depan. Jika ada cekcok di internal rumah tangga, jangan sampai merugikan ‘anak-anak’ bangsa hanya karena bagi bagi kekuasaan yang tak adil. Ingat, mahar politik bisa menjadi ’senjata makan tuan’. Wibawa pengantin politik dipertaruhkan untuk menjaga nama baiknya. (@iswanto_1980)




Sumber : http://ift.tt/ZyeZW8

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz