Siapkah Kita Berdemokrasi ?
Hingga saat ini, hubungan antar teman banyak yang masih terganggu karena pro dan kontra capres tertentu.
Yang lebih ironis, banyak komen2 di socmed yang dibuat hanya karena tau sebagian kecil dari deretan fakta besar tentang sesuatu atau seseorang. Akhirnya, kita berdemokrasi masih dengan cara primitif yaitu dengan budaya verbal. Akibatnya, opini mudah digiring karena sebagian rakyat Indonesia percaya dengan katanya-katanya. Hal ini menjadi fatal ketika media yang seharusnya memberikan pendidikan politik malah berpihak dengan melupakan nalar.
Padahal, kalau sedikit mau kritis, ada beberapa kesalahan elementer yang harus dipertanyakan pada capres sehingga kita memiliki basis data dan informasi yang benar. Bukan sekedar melihat seseorang naik kuda - lgs menghina, atau isu komunis - lgs percaya dan antipati. Aneh, memilih presiden yang tugas dan tanggungjawabnya berat dalam era global sekarang, hanya karena senang atau tidak melihat gayanya.
Budaya instan memang sudah beberapa tahun terakhir ini mewabah. Orang tidak mau kerja keras mencari informasi yang benar. Hanya dengan mengandalkan twitter atau bbm atau sms yang jumlah karakternya terbatas dengan verifikasi yang tidak jelas, opini langsung terbentuk. Siapa yang menang kalau seperti itu ? Pihak yang punya sumber daya untuk membentuk opini. Karena walaupun ada teknologi informasi seperti sekarang, budaya kita masih verbal. percaya dengan katanya-katanya, mengambil keputusan berdasarkan rasa bukan nalar.
Saya tidak keberatan kalau ada yang tidak memilih Prabowo karena dia pernah melanggar HAM, menculik aktivis dengan data a,b,c yang berasal dari sumber yang bisa diverifikasi. Saya juga tidak keberatan kalau ada yang tidak memilih Jokowi karena ternyata Mobil Esemka nya hanya tipuan pencitraan semata (btw, tuh mobil ke mana yah?), tapi juga harus dengan informasi yang terstruktur dengan data, bukan sekedar info dari broadcast bbm atau bahkan gak tau itu hoax atau bukan.
Suatu hari saya sampai berantem dengan teman yang menuding Jokowi komunis. Alasannya, tau dari bbm broadcast. Lah ? Pertama, masak gampang banget percaya gitu aja. kedua, katanya boneka amrik kok komunis - kontradiktif kan. ketiga, apa bukti kerasnya kalau jokowi komunis ? saya aja yang punya kaos palu arit gak merasa komunis dan gak mau jadi komunis.
Saya juga berantem ama teman lain yang mengatakan, prabowo akan melakukan kudeta kalau nggak kepilih jadi presiden. prabowo akan mengerahkan kopassus utk merebut kekuasaan. Yaela. Tau gak jumlah kopassus seluruh indonesia brapa ? 5000 cuy. plus kopassus itu bukan dewa, digebukin 10 orang juga pasti mampus, dan itu berarti kita hanya butuh 50.000 orang. enteng….
yang paling konyol, hinaan dan celaan soal prabowo-hatta ke MK. Lah, wong itu proses demokrasi kok malah dicela2 ?
saya nggak bisa menjawab pertanyaan di atas dengan optimis.
Sumber : http://ift.tt/1mY969j
Yang lebih ironis, banyak komen2 di socmed yang dibuat hanya karena tau sebagian kecil dari deretan fakta besar tentang sesuatu atau seseorang. Akhirnya, kita berdemokrasi masih dengan cara primitif yaitu dengan budaya verbal. Akibatnya, opini mudah digiring karena sebagian rakyat Indonesia percaya dengan katanya-katanya. Hal ini menjadi fatal ketika media yang seharusnya memberikan pendidikan politik malah berpihak dengan melupakan nalar.
Padahal, kalau sedikit mau kritis, ada beberapa kesalahan elementer yang harus dipertanyakan pada capres sehingga kita memiliki basis data dan informasi yang benar. Bukan sekedar melihat seseorang naik kuda - lgs menghina, atau isu komunis - lgs percaya dan antipati. Aneh, memilih presiden yang tugas dan tanggungjawabnya berat dalam era global sekarang, hanya karena senang atau tidak melihat gayanya.
Budaya instan memang sudah beberapa tahun terakhir ini mewabah. Orang tidak mau kerja keras mencari informasi yang benar. Hanya dengan mengandalkan twitter atau bbm atau sms yang jumlah karakternya terbatas dengan verifikasi yang tidak jelas, opini langsung terbentuk. Siapa yang menang kalau seperti itu ? Pihak yang punya sumber daya untuk membentuk opini. Karena walaupun ada teknologi informasi seperti sekarang, budaya kita masih verbal. percaya dengan katanya-katanya, mengambil keputusan berdasarkan rasa bukan nalar.
Saya tidak keberatan kalau ada yang tidak memilih Prabowo karena dia pernah melanggar HAM, menculik aktivis dengan data a,b,c yang berasal dari sumber yang bisa diverifikasi. Saya juga tidak keberatan kalau ada yang tidak memilih Jokowi karena ternyata Mobil Esemka nya hanya tipuan pencitraan semata (btw, tuh mobil ke mana yah?), tapi juga harus dengan informasi yang terstruktur dengan data, bukan sekedar info dari broadcast bbm atau bahkan gak tau itu hoax atau bukan.
Suatu hari saya sampai berantem dengan teman yang menuding Jokowi komunis. Alasannya, tau dari bbm broadcast. Lah ? Pertama, masak gampang banget percaya gitu aja. kedua, katanya boneka amrik kok komunis - kontradiktif kan. ketiga, apa bukti kerasnya kalau jokowi komunis ? saya aja yang punya kaos palu arit gak merasa komunis dan gak mau jadi komunis.
Saya juga berantem ama teman lain yang mengatakan, prabowo akan melakukan kudeta kalau nggak kepilih jadi presiden. prabowo akan mengerahkan kopassus utk merebut kekuasaan. Yaela. Tau gak jumlah kopassus seluruh indonesia brapa ? 5000 cuy. plus kopassus itu bukan dewa, digebukin 10 orang juga pasti mampus, dan itu berarti kita hanya butuh 50.000 orang. enteng….
yang paling konyol, hinaan dan celaan soal prabowo-hatta ke MK. Lah, wong itu proses demokrasi kok malah dicela2 ?
saya nggak bisa menjawab pertanyaan di atas dengan optimis.
Sumber : http://ift.tt/1mY969j