Pilpres … Oh Pilpres…
Setelah pilpres berlangsung kemudian dilakukan penghitungan hasil suara dalam waktu yang cukup singkat lalu muncullah hasil akhirnya. Dan ternyata pasangan Jokowi&JK lah yang paling banyak pemilihnya untuk menjadi presiden dan wapres terpilih.
Tetapi sayang, dari kubu pesaing, Prabowa&Hatta ternyata tidak dapat menerima hasil keputusan hasil penghitungan suara dengan alasan ada indikasi kecurangan. Artinya mereka menganggap bahwa kemenangan adalah seharusnya milik mereka. Bahkan mengklaimnya hingga kemeja hijau. Sungguh miris melihat mereka yang begitu ambisius ingin “berkuasa” sampai-sampai mempermasalahkan hasil penghitungan suara.
Begitukah wajah Demokrasi yang dianut dan bahkan diagungkan?
Dengan konsep “kebebasan” yang diterapkan, “kekuasaan” (cinta kekuasaan) seolah menjadi tujuan hidup tertinggi dengan harapan mendapatkan sejumlah besar materi meskipun dengan menghalalkan segala cara. Dan mereka yang menjalankan demokrasi ternyata juga seorang yang ber-Islam!
Padahal dalam Islam, menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah yang serius. Seringan apapun akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat, apalagi amanah dalam hal memimpin rakyat!!
Hadits mengatakan bahwa “Seorang pemimpin itu satu kakinya berada di surga dan satu kakinya berada di neraka. Nabi saw pernah mengatakan bahwa 1 dari 7 golongan penghuni surga adalah Imaamun Adil atau Pemimpin yang adil. Artinya jika seorang pemimpin bersikap adil maka dia berhak menjadi penghuni surga. Namun sebaliknya jika dia berkhianat dan tidak adil maka dia berada dalam neraka dan dimurkai oleh Allah swt.”
Sesungguhnya, kepemimpinan dalam sistem Islam, seorang pemimpin bukanlah orang yang ambisius. Bahkan mereka akan merasa sangat khawatir tatkala diamanati untuk memimpin negara. Sehingga tidak akan terjadi bentuk-bentuk perebutan kekuasaan bahkan pencalonan diri dengan biaya yang fantastis, klaim hasil penghitungan suara dan mengumbar bergagai janji manis yang “kosong”. Sehingga tidak ada korupsi & segala bentuk pencurian halus atas harta Negara dimana pemiliknya adalah rakyat. Bahkan tidak akan pernah ada diskriminasi terhadap selain muslim.
Semua hal itu hanya akan terwujud hanya dalam naungan Khilafah Islamiyah yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW. InsyaAllah, aamiin
Wallahu’alam bisshowab.
Sumber : http://ift.tt/1rIO0Pe
Tetapi sayang, dari kubu pesaing, Prabowa&Hatta ternyata tidak dapat menerima hasil keputusan hasil penghitungan suara dengan alasan ada indikasi kecurangan. Artinya mereka menganggap bahwa kemenangan adalah seharusnya milik mereka. Bahkan mengklaimnya hingga kemeja hijau. Sungguh miris melihat mereka yang begitu ambisius ingin “berkuasa” sampai-sampai mempermasalahkan hasil penghitungan suara.
Begitukah wajah Demokrasi yang dianut dan bahkan diagungkan?
Dengan konsep “kebebasan” yang diterapkan, “kekuasaan” (cinta kekuasaan) seolah menjadi tujuan hidup tertinggi dengan harapan mendapatkan sejumlah besar materi meskipun dengan menghalalkan segala cara. Dan mereka yang menjalankan demokrasi ternyata juga seorang yang ber-Islam!
Padahal dalam Islam, menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah yang serius. Seringan apapun akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat, apalagi amanah dalam hal memimpin rakyat!!
Hadits mengatakan bahwa “Seorang pemimpin itu satu kakinya berada di surga dan satu kakinya berada di neraka. Nabi saw pernah mengatakan bahwa 1 dari 7 golongan penghuni surga adalah Imaamun Adil atau Pemimpin yang adil. Artinya jika seorang pemimpin bersikap adil maka dia berhak menjadi penghuni surga. Namun sebaliknya jika dia berkhianat dan tidak adil maka dia berada dalam neraka dan dimurkai oleh Allah swt.”
Sesungguhnya, kepemimpinan dalam sistem Islam, seorang pemimpin bukanlah orang yang ambisius. Bahkan mereka akan merasa sangat khawatir tatkala diamanati untuk memimpin negara. Sehingga tidak akan terjadi bentuk-bentuk perebutan kekuasaan bahkan pencalonan diri dengan biaya yang fantastis, klaim hasil penghitungan suara dan mengumbar bergagai janji manis yang “kosong”. Sehingga tidak ada korupsi & segala bentuk pencurian halus atas harta Negara dimana pemiliknya adalah rakyat. Bahkan tidak akan pernah ada diskriminasi terhadap selain muslim.
Semua hal itu hanya akan terwujud hanya dalam naungan Khilafah Islamiyah yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW. InsyaAllah, aamiin
Wallahu’alam bisshowab.
Sumber : http://ift.tt/1rIO0Pe