Suara Warga

Prabowo Sudah Kalah

Artikel terkait : Prabowo Sudah Kalah



Sejak awal Probowo sudah tahu kalau kalah. Tanda apa yang menguatkan pendapat ini, yaitu, adanya pengerahan massa untuk menulis di media sosial dan media massa dengan berbagai propaganda, sejak masa kampanye hingga hari ini. Pemenang akan yakin dengan apa yang ada pada dirinya sehingga tidak akan memberikan tekanan dan menekan siapa yang lebih kuat, jelas dia tahu bahwa dia kalah dan berjuang untuk menyakinkan diri mampu bersaing.

Menunjukkan kelompoknya yang lebih besar dan itu diyakini sebagai kekuatan yang pasti dan absolut, lupa bahwa kelompoknya terdiri atas manusia yang bisa berpikir dna memiliki pilihan masing-masing. Pemenang akan merasa yakin dengan apa yang dimiliki, kelompok pendukung tidak perlu banyak dan besar, yang penting cukup memenuhi syarat pemilihan. Mengakomodasi banyak parpol demi membesarkan hati dan kepercayaan dirinya yang sejak awal sudah goyah.

Mempersoalkan pihak lawan terus menerus, bukannya membangun dirinya agar makin kuat dan besar. Setiap kampanye hanya berorientasi pada propaganda menonjolkan kejelekan pihak lawan. Pemenang akan konsentrasi pada apa yang dimiliki dan diyakini cukup meyakinkan dirinya memang menarik massa untuk memilihnya. Kemampuan diri terbaca di dalam program, kemampuan mengelola emosi, pendukung, dan pilihan kata-kata yang bersifat membangun. Menjelekan pihak lain, KPU, negara lain, mengatasnamakan rakyat hanyalah kedok atas diri yang kecil. Kesalahan pribadi akan ditimpakan kepada orang lain, sebagai ungkapan ketidakberanian menerima kenyataan kalau dirinya telah bersalah.

Mempersoalkan pendaftaran, status lawan sebagai pejabat negara, dan perjanjian pada pemilu sebelumnya. Pemenang tidak akan mempersoalkan hal-hal yang ada pada pihak lain, namun meyakini dirinya mampu dengan apa yang ada pada diri dan kelompoknya.

Salah mengambil keputusan dan menyangkalnya sebagai hal yang kontraproduktif. Pemenang akan mengakui kesalahan dan mengambil keputusan dengan penuh kedewasaan, bijaksana, penuh perhitungan dan bukan emosional sesaat.

Mengancam namun menyatakan penuh kedamaian. Pemenang tidak akan melakukan sesuatu yang berstandard ganda seperti itu. Menuntut orang lain, sedang dia tidak melakukan. Konsentrasi diri rendah, sehingga melihat apapun dengan kacamata yang tidak pas, keputusan dan tindakan tidak sejalan.

Ancaman-ancaman yang terlontar atas sikap emosional menunjukkan ketidakdewasaan dan bukan mental pemenang. Menyatakan hendak menuntut ke MA, PN, dan wacana legeslatif, ini bentuk ancaman memboikot pemerintahan. Sikap kekanak-kanakan yang dibungkus atas nama rakyat dan pemilih.

Memboikot bukan ciri pemenang. Pemenang akan mendukung siapapun yang secara sah telah menyelesaikan pertandingan dengan baik. Pemenang tidak akan menuduh siapapun demi kemenangannya sendiri.

Salam Damai..




Sumber : http://ift.tt/1oPWYgm

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz