Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di Amerika dan Indonesia
Setiap kali ajang pesta demokrasi pilpres diseluruh belahan dunia ini selalu saja tak luput dari praktik-praktik politik busuk yang dihidangkan dengan hangat dan masih mengepul diatas meja perjamuan panggung politik.
Praktik politik kotor dan busuk ini menerjang siapa saja tak kenal ampun, siapapun orangnya, siapapun calon kandidat Presiden yang tampil keatas pentas.
Praktik politik busuk bukan hanya terjadi di Indonesia saja, akan tetapi juga diseluruh belahan dunia ini, termasuk di negaranya Paman Sam itu untuk mematikan deru laju langkah sang Kandidat menuju kursi orang nomor satu.
Presiden United States of America saat ini, Barrack Obama, pun pernah merasakan sakitnya ulu hatinya akibat ditikam isu SARA yang menerjang dirinya dengan membabi buta ketika akan maju menjadi Presiden Amerika dulu.
Barrack Obama diisukan beragama Islam, agama yang sudah terstigma secara paten pada alam bawah sadar mayoritas rakyat Amerika sebagai agamanya Osama Bin Laden yang meluluh lantakan WTC sehingga menimbulkan kengerian yang mendalam pada setiap warga negara Amerika sampai detik ini.
Tim Sukses Kompetitor Obama menggoreng isu ini dengan sedemikian licinnya bahwa Obama harus ditolak jadi calon Presiden karena ia beragama Islam.
Bukan hanya agamanya saja yang diserang, akan tetapi juga warna kulitnya. Orang Afrika dianggap haram memimpin Amerika karena orang Afrika identik dengan perbudakandimasa lalu.
Status kewarganegaraan Barrack Obama pun diragukan. Tim Sukses kompetitornya Obama gencar meracuni alam bawah sadar rakyat Amerika bahwa Obama bukan orang Amerika karena lahir Obama di Indonesia dan orang tuanya lahir di Kenya.
Para kelompok konservatif yang sudah tak nyaman dengan kharismanya Obama yang menyihir dunia kala itu secara gencar dan massive terus menyerang pria kurus berwajah tirus itu tanpa ampun. Mereka bahkan menuduh Obama adalah pemakai narkoba, homo, dan negro.
Namun bagaimanapun juga, Man proposed God Disposed. Manusia boleh merencanakan, tapiTuhan yang menetukan. Memang garis tangan dan takdir seseorang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, sekalipun dihantam bertubi-tubi kiri kanan dengan kampanye hitam, Barrack Obama sukses melenggang maju menuju Gedung Putih di Washington sana dan duduk di singgasana kursi orang nomor satu dinegaranya Guns ‘n Roses itu sampai detik ini.
Pada tahun 2000 yang silam, McCain sebagai kandidat Presiden Amerika pun pernah tumbang kelimpungan terkapar tak berdaya akibat dihantam isu kampanye negatif.
McCain dituding sebagai penjahat kelamin bahwa ia sering main perempuan nakal sehingga kena penyakit spilis sampai-sampai istrinya pun terjangkit. McCain disebut punya anak negro dari hasil hubungan gelap di luar nikah.
Yang lebih sadis lagi, McCain diberitakan pada perang Vietnam dulu pernah ditangkap oleh Vietkong (prajurit tempur vietnam) lalu menyiksanya sehingga kejiwaannya terganggu.
Akibatnya fatal, fitnah pun berjalan mulus diatas aspal hotmix yang mulus, citra McCan pun tumbang rata dengan tanah dan hancur berkeping-keping.
Lantas bagaimana dengan situasi dan kondisi semasa pilpres di negara tercinta kita ini?
Ternyata situasi dan kondisinya pun sama saja dengan yang terjadi di Amerika alias Beti (beda-beda tipis), pinjam istilahnya bang Ruhut Sitompul yang selalu diucapkannya diacara ILC nya bang Karni Illyas itu.
Presiden SBY pernah merasakan sesaknya dadanya akibat dihujam isu yang menyakitkan ketika ia maju sebagai kandidat Presiden pada tahun 2004 yang silam. SBY dihantam isu bahwa Ibu Ani Yudhoyono beragama Kristen.
Bukan hanya SBY saja, Budiono pun juga pernah kena giliran ditusuk sembilu praktik politik busuk ketika bertarung dengan JK-Wiranto yang juga maju sebagai calon presiden. Istrinya Budiono, Herawati, dituding beragama Katolik. Sehingga sempat bikin heboh negeri ini.
Pada pilpres 2014 ini, bukan hanya Jokowi saja yang merasakan pedihnya hatinyaditerjang isu kampanye negatif, akan tetapi juga Prabowo Subianto pun sampai keliyeng-keliyeng akibat dihantam serangan bertubi-tubi parktik politik busuk di negeri zamrud khatulistiwa ini.
Ibunya kanndungnya Prabowo yang beragama Kristen diangkat ke permukaan secara massive, terstruktur, dan terencana. Bukan hanya itu saja, putranya Prabowo dianggap homo karena berprofesi sebagai perancang mode di negeri seberang lautan.
Prabowo yang tak punya istri, masalah HAM masa lalu, dan status kewarganegaraan Jordania menjadi sasaran empuk para tim sukses yang bermain cantik, lincah, dan licin bagaikan belut yang kecipratan minyak zaitun.
Cilakanya, berbagai media massa dan media cetak pun ikutan andil bermain cantik sebagai Cheerleaders dalam pesta pora yang mengharu biru perasaan ini. Tak ayal lagi, Prabowo pun dikeroyok tanpa ampun.
Rival Prabowo semasa pilpres, Jokowi, pun juga tak luput kena hantaman dan serangan politik kotor busuk yang bertubi-tubi. Jokowi dituding sebagai keturunan cina, anak dari keturunan PKI, bukan beragama Islam, dan status hajinya dipertanyakan. Revolusi mental yang digagas Jokowi pun dituding berasal dari paham Marxisme.
Inilah sadisnya politik busuk dinegeri yang dikenal dunia memiliki adat ketimuran yang kental dengan sopan santun dan welas asih terhadap sesama. Sadar atau tidak, kita sebagai warga biasa yang buta politik pun ikut-ikutan latah tergiring dalam pusaran arus jeram opini politk akibat terseret euphoria yang semu yangseolah-olah tak berkesudahan.
Berbagai isu digoreng sedemikian rupa dengan tambahan bumbu, garam, cabai, dan vitsin supaya lebih nikmat disajikan dalam keadaan hangat diatas meja perjamuan pentas panggung politik di negeri ini.
Isu yang sudah basi didaur ulang sedemikian rupa menjadi bahan baku yang siap dijual ke pasaran dengan satu tujuan; menimbulkan rasa benci dan rasa iba terhadap kandidat capres tertentu yang diusung.
Tak ayal lagi, kawan pun menjadi lawan, begitu pula sebaliknya. Timbulnya jarak dan jurang pemisah antar Ikatan persaudaraan dan keluarga pun tak terhindarkan.
Sadar atau tidak, hidup di dunia ini hanya sementara saja, lantas sebenarnya apa sih yang kita cari?
Sumber : http://ift.tt/1AoSkIl
Praktik politik kotor dan busuk ini menerjang siapa saja tak kenal ampun, siapapun orangnya, siapapun calon kandidat Presiden yang tampil keatas pentas.
Praktik politik busuk bukan hanya terjadi di Indonesia saja, akan tetapi juga diseluruh belahan dunia ini, termasuk di negaranya Paman Sam itu untuk mematikan deru laju langkah sang Kandidat menuju kursi orang nomor satu.
Presiden United States of America saat ini, Barrack Obama, pun pernah merasakan sakitnya ulu hatinya akibat ditikam isu SARA yang menerjang dirinya dengan membabi buta ketika akan maju menjadi Presiden Amerika dulu.
Barrack Obama diisukan beragama Islam, agama yang sudah terstigma secara paten pada alam bawah sadar mayoritas rakyat Amerika sebagai agamanya Osama Bin Laden yang meluluh lantakan WTC sehingga menimbulkan kengerian yang mendalam pada setiap warga negara Amerika sampai detik ini.
Tim Sukses Kompetitor Obama menggoreng isu ini dengan sedemikian licinnya bahwa Obama harus ditolak jadi calon Presiden karena ia beragama Islam.
Bukan hanya agamanya saja yang diserang, akan tetapi juga warna kulitnya. Orang Afrika dianggap haram memimpin Amerika karena orang Afrika identik dengan perbudakandimasa lalu.
Status kewarganegaraan Barrack Obama pun diragukan. Tim Sukses kompetitornya Obama gencar meracuni alam bawah sadar rakyat Amerika bahwa Obama bukan orang Amerika karena lahir Obama di Indonesia dan orang tuanya lahir di Kenya.
Para kelompok konservatif yang sudah tak nyaman dengan kharismanya Obama yang menyihir dunia kala itu secara gencar dan massive terus menyerang pria kurus berwajah tirus itu tanpa ampun. Mereka bahkan menuduh Obama adalah pemakai narkoba, homo, dan negro.
Namun bagaimanapun juga, Man proposed God Disposed. Manusia boleh merencanakan, tapiTuhan yang menetukan. Memang garis tangan dan takdir seseorang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, sekalipun dihantam bertubi-tubi kiri kanan dengan kampanye hitam, Barrack Obama sukses melenggang maju menuju Gedung Putih di Washington sana dan duduk di singgasana kursi orang nomor satu dinegaranya Guns ‘n Roses itu sampai detik ini.
Pada tahun 2000 yang silam, McCain sebagai kandidat Presiden Amerika pun pernah tumbang kelimpungan terkapar tak berdaya akibat dihantam isu kampanye negatif.
McCain dituding sebagai penjahat kelamin bahwa ia sering main perempuan nakal sehingga kena penyakit spilis sampai-sampai istrinya pun terjangkit. McCain disebut punya anak negro dari hasil hubungan gelap di luar nikah.
Yang lebih sadis lagi, McCain diberitakan pada perang Vietnam dulu pernah ditangkap oleh Vietkong (prajurit tempur vietnam) lalu menyiksanya sehingga kejiwaannya terganggu.
Akibatnya fatal, fitnah pun berjalan mulus diatas aspal hotmix yang mulus, citra McCan pun tumbang rata dengan tanah dan hancur berkeping-keping.
Lantas bagaimana dengan situasi dan kondisi semasa pilpres di negara tercinta kita ini?
Ternyata situasi dan kondisinya pun sama saja dengan yang terjadi di Amerika alias Beti (beda-beda tipis), pinjam istilahnya bang Ruhut Sitompul yang selalu diucapkannya diacara ILC nya bang Karni Illyas itu.
Presiden SBY pernah merasakan sesaknya dadanya akibat dihujam isu yang menyakitkan ketika ia maju sebagai kandidat Presiden pada tahun 2004 yang silam. SBY dihantam isu bahwa Ibu Ani Yudhoyono beragama Kristen.
Bukan hanya SBY saja, Budiono pun juga pernah kena giliran ditusuk sembilu praktik politik busuk ketika bertarung dengan JK-Wiranto yang juga maju sebagai calon presiden. Istrinya Budiono, Herawati, dituding beragama Katolik. Sehingga sempat bikin heboh negeri ini.
Pada pilpres 2014 ini, bukan hanya Jokowi saja yang merasakan pedihnya hatinyaditerjang isu kampanye negatif, akan tetapi juga Prabowo Subianto pun sampai keliyeng-keliyeng akibat dihantam serangan bertubi-tubi parktik politik busuk di negeri zamrud khatulistiwa ini.
Ibunya kanndungnya Prabowo yang beragama Kristen diangkat ke permukaan secara massive, terstruktur, dan terencana. Bukan hanya itu saja, putranya Prabowo dianggap homo karena berprofesi sebagai perancang mode di negeri seberang lautan.
Prabowo yang tak punya istri, masalah HAM masa lalu, dan status kewarganegaraan Jordania menjadi sasaran empuk para tim sukses yang bermain cantik, lincah, dan licin bagaikan belut yang kecipratan minyak zaitun.
Cilakanya, berbagai media massa dan media cetak pun ikutan andil bermain cantik sebagai Cheerleaders dalam pesta pora yang mengharu biru perasaan ini. Tak ayal lagi, Prabowo pun dikeroyok tanpa ampun.
Rival Prabowo semasa pilpres, Jokowi, pun juga tak luput kena hantaman dan serangan politik kotor busuk yang bertubi-tubi. Jokowi dituding sebagai keturunan cina, anak dari keturunan PKI, bukan beragama Islam, dan status hajinya dipertanyakan. Revolusi mental yang digagas Jokowi pun dituding berasal dari paham Marxisme.
Inilah sadisnya politik busuk dinegeri yang dikenal dunia memiliki adat ketimuran yang kental dengan sopan santun dan welas asih terhadap sesama. Sadar atau tidak, kita sebagai warga biasa yang buta politik pun ikut-ikutan latah tergiring dalam pusaran arus jeram opini politk akibat terseret euphoria yang semu yangseolah-olah tak berkesudahan.
Berbagai isu digoreng sedemikian rupa dengan tambahan bumbu, garam, cabai, dan vitsin supaya lebih nikmat disajikan dalam keadaan hangat diatas meja perjamuan pentas panggung politik di negeri ini.
Isu yang sudah basi didaur ulang sedemikian rupa menjadi bahan baku yang siap dijual ke pasaran dengan satu tujuan; menimbulkan rasa benci dan rasa iba terhadap kandidat capres tertentu yang diusung.
Tak ayal lagi, kawan pun menjadi lawan, begitu pula sebaliknya. Timbulnya jarak dan jurang pemisah antar Ikatan persaudaraan dan keluarga pun tak terhindarkan.
Sadar atau tidak, hidup di dunia ini hanya sementara saja, lantas sebenarnya apa sih yang kita cari?
Sumber : http://ift.tt/1AoSkIl