Mental Pejabat, Anang, dan Penyakit Gegabah
Salah satu kelebihan pejabat dan kes pejabat di era sekarang sekarang adalah gampang menyalahkan pihak lain sebagai orang yang paling bertanggungjawab terhadap suatu persoalan. Contohnya sudah banyak. Mendagri menyalahkan pejabat sebelunya soal server yang katanya ada di luar negeri. Padahal setelah di cek servernya ada di “kavlingan” departemen sendiri. Mantan menteri Perikanan dan Kelautan Fredddy Numberi terkesan menyalahkan SBY dan menganggapnya tak punya nyali untuk menenggelamkan kapal illegal fishing asal Vietnam.
Dan sekarang saat rupiah melemah, lagi-lagi SBY yang disalahkan. Padahal rupiah melemah baru kisaran hari sedangkan pemerintahan yang sekarang sudah berjalan lebih dari dua bulan. Orang awam pun pasti sepakat hal ini tak ada kaitannya dengan SBY yang sedang menjalani sisa-sia pengabdian di hari tua dengan menimang cucu. Jadi jangan suka mengusik ketenteraman yang sedang dijalani orang lain kalau tak mau diusik.
Kebiasaan suka menyalahkan orang lain adalah ciri pribadi yang gagal. Gagal menganalisa masalah, gagal mencari solusi dan gagal untuk bersikap bijak. Penyakit gegabah ini tak hanya milik pejabat dan eks pejabat saja. Rakyat biasa sudah terkena virus penyakit yang satu ini. Misalnya, menyalahkan Anang karena siaran langsung prosesi kelahiran anaknya lalu dianggap tak pantas menjadi wakil rakyat. Lho, emang kita-kita ini siapa suka memberikan cap pantas atau tidak. Setuju ataui tidak Anang sudah terpilih didapilnya, mengalahkan jagoan anda didapil tersebut. Atau karena kekalahan itu membuat penyakit gegabah anda menjadi kambuih kembali?
Sebenarnya Anang mau siaran langsung atau tidak tak ada urusan dengan posisinya sebagai anggota dewan. Rafli Ahmad saja yang bukan anggota dewan bias kok siaran langsung prosesi perkawinannya, kenapa Anang yang secara bakat dan talenta, juga kedudukan lebih oke dibanding Fahri malah tak boleh? Anda sirik karena tak suka dengan kesuksesan seseorang? Silahkan, tapi jangan suka menyerang personalnya.
Kebiasaan suka mengkaitkan jabatan politik seseorang dengan kehidupan keluarga mereka adalah ciri penyakit gegabah yang lain. Tak ada kaitannya sama sekali kecuali dalam kasus Anang, prosesi kelahiran anaknya dibiayai oleh anggaran Negara, nah kalo begitu bolehlah anda teriak-teriak. Tapi kalau dibiayai oleh iklan, kenapa kita merasa dirugikan? Ngawur. Tak suka menonton prosesi Perkawinan Rafli atau persalinan anak Anang tersebut di layar kaca, silahkan ambil remote, pindah channel atau matikan tivi. Selesai. Jadi ngapain cerewet kayak emak-emak?
Sumber : http://ift.tt/1AKmVjr