Suara Warga

Hikmah Dari Fu’ad Amin Imron

Artikel terkait : Hikmah Dari Fu’ad Amin Imron

Saya teringat dengan acara Mario Teguh dalam acara Golden Ways. Mario Teguh memberi suatu pilihan dalam acara saat itu. Pilihan itu antara kekayaan, jabatan, kehormatan. Disuruh pilih manakah yang paling penting dimiliki dalam hidup.

Penonton tampak kebingungan saat itu ketika disuruh pilih salah satunya. Hingga akhirnya Mario Teguh sendiri menjawab dan menjelaskan manakah yang paling penting dimiliki dalam hidup. Dalam uraiannya Mario Teguh menjelaskan bahwa yang paling penting dimiliki dalam hidup diantara yang tiga itu adalah kekayaan. Kenapa? Karena kekayaan itu bukan hanya menyangkut materi, akan tetapi kekayaan itu menyangkut segalanya. Termasuk kesehatan, kebagahagiaan, jabatan, dan kehormatan.

Memang benar. Coba kita pikir, apakah seseorang bisa bahagia kalau seandainya seseorang itu ada penyakit di dalam tubuhnya? Apakah seseorang bisa meraih jabatan kalau seandainya seseorang itu terkena penyakit keras dalam dirinya? Apakah seseorang bisa melaksanakan ibadah dengan sempurna kalau seandainya ada penyakit kronis dalam tubunya? Tidak bisa berbuat apa-apa bukan!

Nah, kesehatan ini merupakan kekayaan yang amat besar. Agama pun memerintahkan kita meletakkan kesehatan nomer dua setelah iman dalam berdo’a. Kalau diukur dengan materi anggota tubuh yang kita miliki tak terbayangkan betapa besarnya. Tangan misalnya, tidak mungkin rela tangan kita ditukar dengan nilai rupiah meski dengan volume yang amat besar. Kesehatan dan sempurnanya tubuh kita adalah merupakan pemberian Tuhan yang amat besar. Dengan kesehatan kita bisa melakukan segala hal.

Jadi yang penting dalam hidup itu memiliki kekayaan. Dari segi materi, Rasulullah Swt juga menyatakan lewat salah satu haditsnya bahwa kita supaya selalu seanantiasa menjauh dari kemiskinan. Karena kemiskinan mendekatkan kita kepada kekufuran.

Akan tetapi, disaat orang memiliki kekayaan itu terkadang lupa untuk disyukurinya. Disaat kekayaan baik berupa kesehatan, jabatan, dan kehormatan dimiliki acap kali tidak disyukuri dan diselewengkan. Misalnya orang yang menurut saya kaya adalah KH. Fu’ad Amin Imron ketua DPRD Bangkalan dan mantan Bupati Bangkalan itu. Jabatan, beliau sudah menjadi orang nomer satu di Bangkalan. Kesehatan masih sempurna. Dalam usianya ± 62 tahun beliau masih sanggup menjadi ketua DPRD. Kehormatan, kurang terhormat bagaimana, kalau dilihat dari garis keturunannya. Beliau seorang cucu dari Syeikhona Khalil Abdul Latif yang merupakan ulama terkemuka di Indonesia ini. Syeikhona Khalil Abdul Latif asal Madura yang merupakan guru ulama sekelas KH. Hasyim Asy’ari dan KH. As’ad Samsul Arifin.

Sungguh kekayaan sempurna yang dimiliki oleh KH. Fu’ad Amin Imron. Akan tetapi dalam kekayaan yang dimilikinya itu beliau tidak sempat mensyukuri. Beliau tenggelam dalam manisnya kekayaan itu hingga akhirnya menyimpan uang yang bukan miliknya. Ratusan juta uang disimpan dalam tembok di balik lukisan dalam rumahnya. Tindakannya ini merugikan orang banyak termasuk rakyatnya sendiri.

Kekayaan yang dimiliki KH. Fu’ad Amin Imron merupakan kekayaan yang tidak dihiasi rasa syukur sampai akhirnya diselewengkan. Sebagai orang Madura, penulis sungguh merasa malu. Tak terbayangkan ketika ada ungkapan KH. FU’AD AMIN IMRON adalah seorang koruptor. Seorang keterunan ulama besar pula.

Pelajaran

Disatu sisi penulis merasa malu, namun disisi yang lain penulis mewajarkan. Artinya garis keterunan itu bukanlah suatu jaminan bagi kita terlepas dari tindakan jahat. Kalau kita menelaah ke masa lampau. Seorang Kan’an bukan hanya cucu seorang Nabi, akan tetapi Kan’an adalah seorang putra dari Nabi Nuh. Akan tetapi Kan’an pula yang menghianati keyakinan agama yang diyakinan oleh ayahnya, Nuh. Hingga akhirnya Kan’an mati dalam keadaan tidak beriman kepada Allah Swt.

Intinya kita harus selalu ekstra hati-hati dalam setiap tindakan. Apalagi bertindak sebagai pejabat dalam perpolitikan. Politik itu ibarat seorang gadis yang cantik dan selalu menggoda. Menghadapi gadis cantik itu tidak mudah. Seringkali akan menjerumuskan kita.

KH. Fu’ad Amin Imron dalam pemerintahannya masih memberlakukannya sistem dinasti. Birokrasi di Bangkalan dikuasai oleh sanak saudaranya. Namun dilihat sepintas Bangkalan tampak berdemokrasi. Sistem memang diatur sedemikian bagus. Sehingga tak salah kalau ada ungkapan bahwa KH. Fu’ad Amin Imron adalah orang pintar dan terkuat dari Madura.

Berangkat dari kasus KH. Fu’ad Amin Imron itu, tampak bahwa Indonesia ini betapa masih belum sepenuhnya berdemokrasi. Ini cerminan bahwa Indonesia harus banyak belajar tentang demokrasi ke depan.




Sumber : http://ift.tt/16lQPl3

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz