Suara Warga

DEMOKRASI MACET PADA KETOKAN MAGIC AKLAMASI

Artikel terkait : DEMOKRASI MACET PADA KETOKAN MAGIC AKLAMASI

Memperbaiki kualitas demokarsi seharusnya dapat dilihat dari kurva grafik menunjukkan kemajuan (dari standart normative demokrasi prosedural naik setingkat ke demokrasi partisipatif selanjutrnya bergerak pada level demokrasi terkonsolidasi yang substantive), begitulah gambaran besar siklus idealnya.

Tetapi faktanya bangunan sistem ini justeru mengalami kondisi yang timbun paradoksal, akar problemnya ialah demoralisasi terjadi pada partai-partai politik sebagai institusi penunjang utama pilar demokrasi sedang dalam fase ironik (organ tubuh internalnya sama sekali tidak menunjukkan/mencerminkan prinsip demokratisasi). Fenomena klasik ini untuk diketahui hampir semua partai politik mengalami gejala krisis yang sama saat ini, hal tersebut dapat di buktikan dari proses pergantian kepemimpinan dengan model konsensus lewat cara aklamasi (dialog faksi kepentingan yang monolog), yaitu otoriter menyelesaikan konflik dengan sikap destruktif. Itu artinya partai politik saat ini belum dapat di kategorisasikan sebagai sebuah institusi politik skala matang (organisasi moder). Mengapa demikian? Di dalam demokrasi konflik itu absah, benar hal tersebut kita pahami, maka munas, kongres, atau muktamar dsb (forum tertinggi dalam sebuah organisasi) adalah pada dasarnya harus di pahami/maknai sebagai sebuah wadah konflik yang di lembagakan untuk merepresetansikan aspirasi stakeholdersnya.

Ada yang berpendapat bahwa pola pelembagaan politik baru terkonsolidasi manakala demokrasi menjadi satu-satunya metode permainan atau “gelanggang perjudian” yang disepakati. Sebab itu, the game via democracy berfungsi untuk mengkonfrontasi keterdesakan ambisi kekuasaan kontestan yang dipentaskan. Sedangkan sebaliknya definisi versi aklamasi (anak kalimat yang sembunyi dibalik ketiak demokrasi) dalam perspektif fundamental demokrasi adalah sebetulnya proses “cerdik lobbying-mobilisasi massa” yang potensial memiliki kelamin transaksional karena lazim dalam prakteknya berlangsung terkunci di ruang antara “secrecy” dan “publicity”. Meniscayakan trah primordial (tradisi konservatif) memonopoli, sehingga pada akhirnya fenomena aklamasisasi (cara ekstrim), alternative memilih ‘jalan tikus’ ini yang dominan menguasai arena mempertahankan (status quo) olirgarkis _lu lagu lu lagi_.




Sumber : http://ift.tt/1uNANFZ

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz