Suara Warga

Sah Presiden ke-7 RI: Pak Jokowi -hafizhohulloh-

Artikel terkait : Sah Presiden ke-7 RI: Pak Jokowi -hafizhohulloh-

Bismillahirrohmanirrohhiiim

Sah Presiden ke-7 RI: Pak Jokowi -hafizhohulloh-

“… Sebagai nahkoda yang dipercaya oleh rakyat, saya mengajak semua warga bangsa untuk naik ke atas kapal Republik Indonesia dan berlayar bersama menuju Indonesia Raya. Kita akan kembangkan layar yang kuat. Kita akan hadapi semua badai dan gelombang samudera dengan kekuatan kita sendiri…,” tutur Presiden RI terpilih Joko Widodo pada acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Presiden yang juga kelahiran Surakarta (21 Juni 1961) ini bicara sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB.

Alhamdulillah, kini Indonesia memiliki pemimpin baru. Atau sebut saja presiden ke-7 di RI. Yang mana kaum muslimin wajib taat kepada beliau sebagai pemerintahan yang sah. Baik dalam konteks aqidah ahlussunnah wal jamaah dan juga konstitusi yang diaplikasikan di negara RI.

Maka, setelah terpilihnya Pak Jokowi sebagai Presiden RI ke-7 ini, mari kita kembali mengulang ayat,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa) di antara kalian.”

(QS. An-Nisa`: 59)

Dan Nabi shollallohu alayhi wasallam bersabda,

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.”

(HR. Al-Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)

Sehingga, mulai hari ini, kita wajib taat kepada Pak Jokowi.

Mengapa?

Ustadz Hammad Abu Muawiyah -hafizhohulloh- berkata karena ini perintah Alloh azza wa jalla dan sudah menjadi hak mereka.

Sehingga, jangan ada lagi pemberontakan kepada penguasa. Karena ini pembeda antara ahlussunnah dan khawarij.

Jangan lagi ada pembongkaran aib penguasa, karena ini pun sifat memamerkan kebodohan pribadi. Dan ini juga merupakan jalan pikir para khawarij.

Mungkin ada yang bertanya, bukankah beliau Pak Jokowi produk demokrasi (pemilu)?

Maka hal ini dijawab oleh al-Ustadz Dzulqarnain hafizhohulloh,

“… Demokrasi bukanlah bagian dari syariat Islam. Adapun ketaatan kepada pemimpin muslim -walaupun berkuasa dengan cara paksa atau melalui cara keliru seperti pemilu-, itu adalah hal yang dijelaskan dalam Al-Qur`an, hadits yang mutawatir, dan kesepakatan ulama, selama pemimpin tersebut memerintah dalam hal yang ma’ruf, bukan dalam hal maksiat.”

(Sumber: dzulqarnain(dot)net/menjawab-syubhat-tuduhan-bahwa-salafy-menolak-demokrasi.html)

Kini, Pak Jokowi telah sah jadi presiden. Sosok yang dikenal senantiasa blusukan.

Karena itulah, mari kita mengenal sedikit dari Presiden RI ke-7 ini.

Pak Jokowi yang lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo dan merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama kecil Mulyono.

Ayahnya berasal dari Karanganyar , sementara kakek dan neneknya berasal dari sebuah desa di Boyolali. Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 111 Tirtoyoso yang dikenal sebagai sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.

Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun.

Jokowi kecil telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Penggusuran yang dialaminya sebanyak tiga kali di masa kecil memengaruhi cara berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta saat harus menertibkan permukiman warga.

Pak Jokowi menikah dengan Iriana di Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu (1991), dan Kaesang Pangarep (1995).

Na’am, inilah catatan ringkas dari biografi Pak Joko Widodo.

Terakhir, mari kita mengingat pesan Imam Ath-Thahawi dalam kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiah terkait tentang pemimpin,

“Kami memandang bahwa menaati penguasa yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Azz wa Jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kami mendoakan mereka agar mendapatkan kesalehan

dan kebaikan.”

Karena itulah, kita mendoakan Pak Jokowi: hafizhohulloh.

–Bontote’ne, Dzulhijjah 1435 H




Sumber : http://ift.tt/1qYwwO6

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz