Merdeka Lagi Merdeka Lagi
Ketika membaca sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia, saya dapati bahwa pekik “merdeka” menjadi sebuah kata paling populer pada saat itu. Contohnya adalah ketika peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Pada saat itu para pemuda berjuang mengorbankan jiwa raga demi merobek bendera Belanda yang berwarna Merah-Putih-Biru hingga warnanya hanya tinggal Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia. Selain karena jiwa kebangsaan yang tinggi, para pemuda begitu bersemangat karena pekikan “merdeka atau mati” yang digelorakan oleh Bung Tomo.
Walaupun 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta sudah memplokamirkan kemerdekaan Indonesia, perjalanan kemerdekaan tidak segampang itu. Ternyata Belanda yang datang kembali ke Indonesia dengan memboncengi NICA belum rela Indonesia merdeka. Sehingga sejarah mencatat tahun 1945-1950 merupakan masa mempertahankan kemerdekaan yang intinya adalah mengusir sisa-sisa penjajah keluar dari Indonesia. Dan sejak tahun 1950 sampai dengan sekarang adalah masa-masa “mengisi kemerdekaan”.
Lalu bagaimana jika sekarang masih ada yang minta merdeka karena masih merasa terjajah? Rasa-rasanya kelompok yang masih minta merdeka perlu untuk ditendang jauh-jauh atau jika tidak mau capek tidak perlu dihiraukan.
Lahir dan besar di Papua, saya sangat sedih ketika masih ada sebagian saudara-saudara saya yang menuntut merdeka. Baik yang memakai cara kekerasan dengan menembaki aparat keamanan dan rakyat maupun yang hobinya berkoar-koar membuang energi dengan turun ke jalan. Mereka sangatlah membuang-buang energi, jauh dari semangat memajukan Papua seperti yang mereka gembor-gemborkan.
Lau kebiasaan teriak-teriak “merdeka” ini ternyata ditiru oleh sebagian masyarakat yang lain untuk mengancam pemerintah. Lho, kenapa saya bisa bilang begitu? Mungkin bagi yang sudah lama tinggal di Papua tidak heran dengan fenomena ini. Pekik “merdeka” sering digunakan oleh tokoh masyarakat maupun pejabat, dengan membawa massa yang telah dihasu tentunya, untuk memperjuangkan tuntutan. Contohnya peristiwa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Beberapa oknum mengatakan bahwa jika RUU Otsus Plus tidak disahkan pemerintah maka Papua akan minta merdeka. Atau jika permintaan untuk pemekaran beberapa Daerah Otonom Baru (DOB) atau provinsi/kabupaten tidak dikabulkan maka rakyat Papua akan menuntut merdeka.
Ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baik. Tokoh/massa yang mempunyai sikap seperti itu sangatlah kekanak-kanakan. Mereka sangat “tidak dewasa. Aspirasi atau tuntutan bukanlah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh pemerintah. Apalagi aspirasi yang berhubungan dengan undang-undang dan pemekaran wilayah. Tentu harus dipikirkan, dibahas dan diputuskan secara matang. Hasilnya tentu saja ada tiga: dipenuhi seluruhnya, diputuskan dengan beberapa koreksi, atau ditolak seluruhnya. Para penuntut atau penyampai aspirasi harus mengerti dengan resiko seperti ini. Sebenarnya kalu ingin Papua maju, rakyat cukup melakukan kerja keras sesuai dengan bidangnya. Bagi pelajar/mahasiswa, belajarlah dengan giat, carilah ilmu setinggi dan sebanyak mungkin, karena kalianlah yang akan memegang tampuk kepemimpinan di Papua nantinya.
Kepada pemerintah pun jangan mudah terpengaruh dengan gertak sambal sekelompok massa tersebut. Jangan membuat kebijakan atau undang-undang hanya karena mendapat desakan sekelompok massa dengan pekik “merdeka” nya. Buatlah kebijakan dengan sebijak-bijaknya dengan tujuan yang baik dan berjangka panjang. Apa yang telah dilakukan untuk Papua sampai saat ini, yang baik teruskan dan yang kurang baik segera adakan perbaikan seperlunya. Terakhir saya tekankan kepada pemerintah. “JANGAN GENTAR DENGAN PEKIK MERDEKA MILIK SEBAGIAN KELOMPOK MASSA DI PAPUA”.
Sumber : http://ift.tt/1E7AjBF