Harga BBM Naik 1 November? Kencangkan Ikat Pinggangmu!
Harga BBM bersubsidi bakal naik. Menurut kabar, kenaikan akan dilakukan Presiden Jokowi 1 November nanti. Apa pula pilihan kita (rakyat) selain mengencangkan ikat pinggang karena sudah pasti kenaikan harga BBM pastinya akan berimbas pada naiknya harga-harga yang lain, terutama sembako. Menyesakkan memang, tapi menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kenaikan itu mutlak harus.
Kebijakan tak populer itu terpaksa diambil demi meringankan beban keuangan negara dan mengalihkan subsidi pada target yang lebih tepat. “Kalau Anda ingin tahu, subsidi untuk BBM itu sekitar Rp 1 triliun setiap hari. Jika kita terlambat menaikkan harga BBM, maka ada Rp 1 triliun uang rakyat yang terbuang setiap hari,” kata JK, Sabtu (18/10).
Silakan selengkapnya baca pernyataan JK di sini: http://ift.tt/1s1IKVt
Masih menurut JK, besarnya anggaran untuk subsidi BBM terbukti jelas tak membawa manfaat yang berkeadilan di mana 70 persen penikmat subsidi BBM adalah masyarakat yang secara ekonomi relatif telah mapan. “Makin cepat (harga BBM) naik, makin menghemat, minimal Rp 1 triliun perhari. Bisa saja bulan depan (harga BBM dinaikkan),” ujarnya.
Berapa naiknya?
JK belum mau menjawab berapa besaran kenaikan harga BBM. Kalau merujuk pada kabar sebelumnya, kenaikan diprediksi sebesar Rp.3000,- sesuai usulan asosiasi pengusaha Apindo. Jadi, harga premium dari Rp.6500,- menjadi Rp.9.500,”.
Lalu berapa banyak kenaikan beras ya? Susu naik berapa? Ikan asin naik berapa? Garam berapa? Telur berapa? Pusing deh!
Sebagai “hiburan”…
Kemungkinan akan ada lagi semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai) di era SBY dulu. Kata JK, pemerintah akan mengalokasikan subsidi ke sektor lain dan memberikan bantuan langsung berupa uang tunai selama periode tertentu. “Apapun namanya, kompensasi untuk rakyat harus ada. Modelnya bantuan uang langsung,” ucapnya.
Bantuan uang tunai diberikan tentunya untuk meredam gejolak. Dengan demikian, sejauh itu belum ada hal yang baru dari Presiden Jokowi, masih meniru pola lama yang dilakukan mantan presiden SBY. Pemberian bantuan tunai langsung yang dulu banyak diprotes oleh kalangan politisi terutama dari PDIP, nampaknya masih dianggap paling efektif untuk meredam sesaat.
Setelah itu, atau bagi rakyat lain yang tidak kebagian BLT, mangga silakan mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan harga BBM tidak akan disertai kenaikan gaji. Yang bisa dilakukan ya memotong berbagai alokasi pengeluaran. Beras masih bisa beli yang Rp.7000,- per kilo, tapi ya kualitasnya jauh dari sebelumnya. Telur, ya biasanya makan telur satu butir satu orang, kini satu butir untuk dua orang. Biar kenyang, tambah terigu saja goreng telurnya. Beli terigu juga yang curah saja, agak murah.
Untuk bayi dan anak-anak, susunya ya dikurangi sedikit. Asal jangan sampai minum air tajin saja. Hadeuh, jadi ingat lagunya Iwan Fals. “BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi!” (*)
Sumber : http://ift.tt/1w1l3Ei
Kebijakan tak populer itu terpaksa diambil demi meringankan beban keuangan negara dan mengalihkan subsidi pada target yang lebih tepat. “Kalau Anda ingin tahu, subsidi untuk BBM itu sekitar Rp 1 triliun setiap hari. Jika kita terlambat menaikkan harga BBM, maka ada Rp 1 triliun uang rakyat yang terbuang setiap hari,” kata JK, Sabtu (18/10).
Silakan selengkapnya baca pernyataan JK di sini: http://ift.tt/1s1IKVt
Masih menurut JK, besarnya anggaran untuk subsidi BBM terbukti jelas tak membawa manfaat yang berkeadilan di mana 70 persen penikmat subsidi BBM adalah masyarakat yang secara ekonomi relatif telah mapan. “Makin cepat (harga BBM) naik, makin menghemat, minimal Rp 1 triliun perhari. Bisa saja bulan depan (harga BBM dinaikkan),” ujarnya.
Berapa naiknya?
JK belum mau menjawab berapa besaran kenaikan harga BBM. Kalau merujuk pada kabar sebelumnya, kenaikan diprediksi sebesar Rp.3000,- sesuai usulan asosiasi pengusaha Apindo. Jadi, harga premium dari Rp.6500,- menjadi Rp.9.500,”.
Lalu berapa banyak kenaikan beras ya? Susu naik berapa? Ikan asin naik berapa? Garam berapa? Telur berapa? Pusing deh!
Sebagai “hiburan”…
Kemungkinan akan ada lagi semacam BLT (Bantuan Langsung Tunai) di era SBY dulu. Kata JK, pemerintah akan mengalokasikan subsidi ke sektor lain dan memberikan bantuan langsung berupa uang tunai selama periode tertentu. “Apapun namanya, kompensasi untuk rakyat harus ada. Modelnya bantuan uang langsung,” ucapnya.
Bantuan uang tunai diberikan tentunya untuk meredam gejolak. Dengan demikian, sejauh itu belum ada hal yang baru dari Presiden Jokowi, masih meniru pola lama yang dilakukan mantan presiden SBY. Pemberian bantuan tunai langsung yang dulu banyak diprotes oleh kalangan politisi terutama dari PDIP, nampaknya masih dianggap paling efektif untuk meredam sesaat.
Setelah itu, atau bagi rakyat lain yang tidak kebagian BLT, mangga silakan mengencangkan ikat pinggang karena kenaikan harga BBM tidak akan disertai kenaikan gaji. Yang bisa dilakukan ya memotong berbagai alokasi pengeluaran. Beras masih bisa beli yang Rp.7000,- per kilo, tapi ya kualitasnya jauh dari sebelumnya. Telur, ya biasanya makan telur satu butir satu orang, kini satu butir untuk dua orang. Biar kenyang, tambah terigu saja goreng telurnya. Beli terigu juga yang curah saja, agak murah.
Untuk bayi dan anak-anak, susunya ya dikurangi sedikit. Asal jangan sampai minum air tajin saja. Hadeuh, jadi ingat lagunya Iwan Fals. “BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi!” (*)
Sumber : http://ift.tt/1w1l3Ei