Suara Warga

Relevansi Ilmu Hukum dan Psikologi

Artikel terkait : Relevansi Ilmu Hukum dan Psikologi

Mari memulainya dengan sebuah contoh kasus; “apabila seorang si A menghadapi masalah di mana nyawanya terancam akibat perlakuan dari si B, maka dalam keadaan seperti itu psikologi si A akan merespon untuk membela dirinya sendiri, terlepas apakah itu nantinya perbuatan tersebut melawan hukum atau tidak.” Seperti contoh kasus tadi, inilah yang dipelajari dalam psikologi hukum. Ruang lingkup dan subjek pembahasan psikologi hukum menurut Brian L. Cutler terbagi menjadi 17 bahasan pokok yaitu kompetensi kriminal, pertanggungjawaban pidana, pidana mati, perceraian dan pemeliharaan anak, pendidikan dan perkembangan profesional, memori saksi mata, penilaian forensik dalam kasus pidana dan perdata, pelanggaran hukum yang masih anak-anak, dan banyak lainnya.

Jenis-Jenis Pendekatan Psikologi Hukum

Menurut pendapat Blackburn (1995,1996) bidang-bidang psikologi hukum mencakup;

1. Psychology in law (psikologi di dalam hukum) adalah penerapan spesifik dalam psikologi hukum. Contohnya seperti kehandalan saksi mata.

2. Psychology and law (psikologi dan hukum) contohnya seperti riset psikologi para pelanggar hukum.

3. Psychology of law (psikologi tentang hukum) adalah riset psikologi mengenai isu-isu hukum. Contohnya seperti mengapa seseorang menaati hukum? Hal ini berkaitan dengan teori H. C Kelman mengenai 4 alasan seseorang mengapa menaati hukum yaitu; bersifat compliance (karena takut sanksi), identification (karena untuk menjaga hubungan), internalization (karena sesuai dengan kesadaran sendiri), dan karena kebutuhannya (untung dan ruginya).

4. Forensic psychology (psikologi forensik) adalah penyediaan informasi psikologi di pengadilan. Contohnya seperti seorang hakim yang menunjuk psikiater untuk memeriksa terdakwa apakah waras apa tidak dalam melakukan suatu tindak pidana, karena seseorang tidak dapat dipidana apabila seseorang tersebut tidak waras. Karena ketidakwarasan ada dua jenis yaitu psikopat (seluruh/sebagian kejiwaanya abnormal/sakit) dan neurosis (hanya salah satu sub kejiwaannya yang abnormal/sakit).

Pertemuan Hukum dan Psikologi

Pada mulanya psikologi hukum hanya masuk dalam sub psikologi sosial. Dijelaskan pula perbedaan psikolog dan psikiater. Psikolog mempelajari perilaku manusia dan mengapa terjadi (ahli psikologi teoritis). Sedangkan psikiater adalah seseorang yang mempelajari spesialisasi sarjana hukum dan mempelajari psikologi hukum dalam kajian empiris (ahli psikologi praktis). Kajian dalam psikologi hukum mencakup jurisprudensi, hukum substantif, proses-proses hukum, dan pelanggaran.

Psikologi hukum awal mulanya terkendala pada sulitnya menyatu kedua disiplin ilmu hukum dan psikologi. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang tentunya diikuti oleh perkembangan pola kejahatan, para psikolog menganggap hal ini penting karena membahas mengenai proses-proses manusiawi seperti desepsi (tindakan mengelabui) pendekteksiannya, pengambilan verdicf (putusan juri), keakuratan saksi mata dan pertimbangan dalam vonis penjatuhan pemidanaan.

Saksi Mata dalam Perspektif Psikologi Hukum

Kesaksian saksi mata sangat penting dalam persidangan, terutama bagi pengacara. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadinya kesalahan putusan dalam suatu dakwaan. Seperti suatu negara yang menganut sistem common law, dimana para saksi saling dihadapkan bahkan dapat dipertanyakan di muka sidang oleh pembela terdakwa. Adapun suatu negara yang menganut sistem hukum lain yang tidak dapat mempertemukan para saksi hal ini dimaksudkan agar dapat dibandingkannya kesaksian antara saksi yang satu dengan lainnya. Dengan ini pula hakim dapat mempertimbangkan mana kesaksian yang asli dan palsu.

Karakterisitik saksi sangat beragam dan dibutuhkan serta patut dijadikan pertimbangan. Karena menurut beberapa pendapat ahli hukum kesaksian saksi mata lebih kuat dibandingkan dengan alat bukti lainnya. Riset kesaksian mata membutuhkan metodelogis. Seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa mempertanyakan kesaksian mata membutuhkan berbagai macam cara. Dan dalam kesaksian saksi mata sangat penting karena dia sendiri yang mengalami peristiwa/ kejadian tertentu. Metode-metode riset yang digunakan berbagai macam diantaranya presentasi slide, menampilkan peristiwa, kajian-kajian lapangan, kajian arsip, dan kajian status tunggal. Variabel mengenai kesaksian saksi mata memiliki informasi untuk disimpan dan dimana untuk diingat kembali.

Pengadilan dalam Perspektif Psikologi Hukum

Dari perspektif psikologi hukum, putusan pengadilan dapat diramalkan akan seperti apa nantinya. Setiap putusan hukum merupakan kumpulan dari berbagai macam pengalaman hakim maupun penegak hukum. Putusan juga dipengaruhi oleh pandangan moral hakim atau penegak hukum. Sebagai penutup, menarik kita cermati suatu kutipan hukum terkenal dan sarkastik dari Jerome Frank yang berbunyi; keputusan pengadilan ditentukan oleh menu sarapan pagi hakim.

Semoga bermanfaat!




Sumber : http://ift.tt/YvbP4o

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz