Suara Warga

Prabowo Subianto: ambisi yang tertunda, kesedihan dan narsisme tv0ne

Artikel terkait : Prabowo Subianto: ambisi yang tertunda, kesedihan dan narsisme tv0ne

Demokrasi sebuah sistim yang dituhankan di Indonesia harus ditelan konsekwensinya. Salah satunya dalam Pemilu langsung baik Legislatif maupun Presiden pil pahit itu akan terus berulang dan melahirkan kekecewaan dan dendam. Begitukah apa yang dirasakan Prabowo Subianto saat ambisinya tercapai lalu dirundung kesedihan dan sebuah media televisi nasional terus membangun opini dan menyeret-nyeret Prabowo pada sebuah mimpi yang gugur di meja Mahkamah Konstitusi.

Apa yang dilakukan Prabowo dengan keras kepalanya menyatakan bahwa beliau merasa didzalimi dan dicurangi dalam pilpres secara terstruktur, sistematis dan massip dan dengan optimis meminta keadilan kepada lembaga tertinggi hukum negara untuk membatalkan hasil pemilu, inikah sikap ambisi yang menunjukan pribadi/karakter beliau. Tentu hanya Prabowo dan Tuhan yang tahu niat baik Prabowo itu untuk siapa?

Demokrasi sedang tidak memihak Prabowo Subianto karena selisih 6,3 % atau delapan juta lebih tak menjadikan beliau Presiden. Prabowo dan pendukung koalisinya harus gigit jari menatap kekalahannya, sementara pemilih beliau yang 62 juta lebih itu mau dibawa kemana? Ini yang dinamakan konsekwensi demokrasi walau pahit harus ditelan dan bersikap ksatria menerima hasil kesepakatan rakyat.

Sebagai manusia Prabowo patut sedih, beliau wajib gondok dan menelan ludah dan harus marah pada partai koalisinya yang tidak bekerja. Karena sudah bertahun-tahun Prabowo bekerja meyakinkan rakyat bahwa dirinya punya konsep dan niat baik untuk mensejahterakan rakyat. Beliau punya konsep untuk membangun negara berdaulat dan mengaum lagi menjadi Macan Asia. Prabowo patut bersedih karena triliunan rupiah sudah dikeluarkannya untuk modal menduduki kursi Presiden RI.

Lalu setelah rakyat menentukan pilihan, Prabowo wajib mengevaluasi diri dan menerima keputusan takdir yang maha kuasa dan mengambil hikmah dari setiap kekalahan. Prabowo tetap Presiden bagi dirinya sendiri, bagi pendukungnya, termasuk presiden TV One dan Prabowo berhak berlaga seperti Presiden seperti apa yang dilakukannya di Istana kediamannya Hambalang Bogor melaksanakan upacara kemerdekaan bersama mitra koalisinya, walau upacara itu terkesan kurang sakral. Terbukti di belakang Prabowo wakilnya Hatta Rajasa duduk sambil mengobrol dan Prabowo menerima teks proklamasi dengan tangan sebelah kirinya dan membacakan tek proklamasi sambiul memegang mik miring.

Pemandangan yang menyedihkan sekaligus membanggakan, Prabowo memeriksa pasukan dengan bak mobil terbukanya dan memang begitulah gaya Prabowo sebagai mantan Danjen Kopasus, harus tetap bersikap tegak, tegas dan keras. Tapi rasanya sangat hambar sekali sebuah optimisme yang perlahan luruh dan layu menjelang detik-detik keputusan Mk, walau TV One tak lelah membangun opini mencitrakan diri bahwa Prabowo sebagai pemenang yang didzalimi pesaingnya Joko Widodo.




Sumber : http://ift.tt/1uIrmeR

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz