Nah, Gitu donks Kubu Jokowi Akui Keberhasilan SBY!
Saat helatan Pilpres 2014 lalu, di serangkaian acara debat capres dan cawapres, capres dan cawapres nomor urut 1 lebih banyak mengidentikkan diri dengan pemerintahan saat ini (SBY) yang sudah berjalan 10 tahun. Selain karena faktor Hatta Rajasa, Prabowo juga kerap menyampaikan akan melanjutkan program-program yang baik dari pemerintahan SBY. Itu merupakan bentuk apresiasi yang tinggi Prabowo kepada SBY.
Sebaliknya, capres dan cawapres nomor urut 2, Jokowi dan JK, dalam beberapa kali debat kerap mengambil posisi bersebrangan dengan pemerintahan SBY. Nampaknya itu merupakan bagian dari strategi untuk memenangkan hati pemilih. Bisa jadi kubu Jokowi-JK berasumsi banyak pemilih yang kecewa dengan pemerintahan SBY.
Seiring usainya hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), walau kini masih berproses di MK, pasangan Jokowi-JK unggul suara dan sudah membuat Rumah Transisi. Seiring itu, mulai muncul “pengakuan” akan keberhasilan SBY di 10 tahun masa pemerintahannya. Maka, Rumah Transisi pun menyatakan akan melanjutkan program-program pemerintahan SBY yang positif.
Hal itu dikemukakan oleh Deputi Tim Transisi Jokowi-JK Hasto Kristiyanto. “Hal-hal positif yang dilakukan oleh Pemerintahan SBY, sebagai hal yang dilanjutkan. Pemerintahan yang efektif, dengan demikian merupakan suatu proses dialektis dengan muara keberpihakan pada kepentingan rakyat,” kata Hasto.
Hasto mencontohkan, dalam menghadapi berbagai skenario kebijakan fiskal ke depan, pengalaman 10 tahun terakhir pemerintahan SBY sangat penting untuk menjadi dasar kebijakan pemerintahan Jokowi. Oleh karena itu, Tim Transisi membuka tangan lebar-lebar untuk bekerja sama, berkoordinasi, dan menyusun inisiatif baru bersama dengan pemerintahan saat ini.
Demi kepentingan rakyat, bukan kelompok
Untuk mewujudkan tercapainya kepentingan rakyat, pemerintahan Presiden SBY dan Jokowi-JK pun menyatakan siap duduk bersama membangun koordinasi dan komunikasi yang intens. Dengan kerjasama yang intens, kedua tim bisa meletakkan dasar kelembagaan transisi pemerintahan yang demokratis.
Yang harus ditekankan adalah KEPENTINGAN RAKYAT. Jangan sampai hanya untuk kepentingan kelompok. Soalnya, bisa saja apa yang dikatakan Hasto adalah bentuk rayuan agar Demokrat mau berkoalisi dengan PDIP Cs, demi melancarkan kursi Ketua DPR RI di genggaman PDIP, misalnya.
Jangan juga lalu pernyataan Hasto ini berlanjut dengan “bagi-bagi kursi” kabinet lagi. Mesti diingat janjai kampanye Jokowi bahwa tidak akan “bagi-bagi kursi” dan koalisi tanpa syarat. Harus konsisten, tak boleh karena pertimbangan lain, lalu berubah!
Nah, jika berbicara kepentingan rakyat, maka kita akan bermuara di kepentingan bangsa dan negara. Maka, proses transisi dari pemerintahan lama ke pemerintahan baru (siapapun), harus berjalan dengan mulus, dan tidak terputus.
Satu contoh menurut saya, karena program BPJS bagus dan mulai terbukti efektif berjalan, maka pemerintahan baru (Jokowi, misalnya) sebaiknya tidak bersikeras merubahnya menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS). Nanti jadi ribet dan lama lagi. Rakyat yang butuh pengobatan segera bagaimana coba? Kan kasihan!
Walaupun memang kesannya nanti tidak membuktikan janji, tapi demi kepentingan bersama, ya resiko lah dibully sana-sini dulu…hehe. Begitu gak sih menurut Abang semua?
Sumber : http://ift.tt/1rVRZs1
Sebaliknya, capres dan cawapres nomor urut 2, Jokowi dan JK, dalam beberapa kali debat kerap mengambil posisi bersebrangan dengan pemerintahan SBY. Nampaknya itu merupakan bagian dari strategi untuk memenangkan hati pemilih. Bisa jadi kubu Jokowi-JK berasumsi banyak pemilih yang kecewa dengan pemerintahan SBY.
Seiring usainya hasil penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), walau kini masih berproses di MK, pasangan Jokowi-JK unggul suara dan sudah membuat Rumah Transisi. Seiring itu, mulai muncul “pengakuan” akan keberhasilan SBY di 10 tahun masa pemerintahannya. Maka, Rumah Transisi pun menyatakan akan melanjutkan program-program pemerintahan SBY yang positif.
Hal itu dikemukakan oleh Deputi Tim Transisi Jokowi-JK Hasto Kristiyanto. “Hal-hal positif yang dilakukan oleh Pemerintahan SBY, sebagai hal yang dilanjutkan. Pemerintahan yang efektif, dengan demikian merupakan suatu proses dialektis dengan muara keberpihakan pada kepentingan rakyat,” kata Hasto.
Hasto mencontohkan, dalam menghadapi berbagai skenario kebijakan fiskal ke depan, pengalaman 10 tahun terakhir pemerintahan SBY sangat penting untuk menjadi dasar kebijakan pemerintahan Jokowi. Oleh karena itu, Tim Transisi membuka tangan lebar-lebar untuk bekerja sama, berkoordinasi, dan menyusun inisiatif baru bersama dengan pemerintahan saat ini.
Demi kepentingan rakyat, bukan kelompok
Untuk mewujudkan tercapainya kepentingan rakyat, pemerintahan Presiden SBY dan Jokowi-JK pun menyatakan siap duduk bersama membangun koordinasi dan komunikasi yang intens. Dengan kerjasama yang intens, kedua tim bisa meletakkan dasar kelembagaan transisi pemerintahan yang demokratis.
Yang harus ditekankan adalah KEPENTINGAN RAKYAT. Jangan sampai hanya untuk kepentingan kelompok. Soalnya, bisa saja apa yang dikatakan Hasto adalah bentuk rayuan agar Demokrat mau berkoalisi dengan PDIP Cs, demi melancarkan kursi Ketua DPR RI di genggaman PDIP, misalnya.
Jangan juga lalu pernyataan Hasto ini berlanjut dengan “bagi-bagi kursi” kabinet lagi. Mesti diingat janjai kampanye Jokowi bahwa tidak akan “bagi-bagi kursi” dan koalisi tanpa syarat. Harus konsisten, tak boleh karena pertimbangan lain, lalu berubah!
Nah, jika berbicara kepentingan rakyat, maka kita akan bermuara di kepentingan bangsa dan negara. Maka, proses transisi dari pemerintahan lama ke pemerintahan baru (siapapun), harus berjalan dengan mulus, dan tidak terputus.
Satu contoh menurut saya, karena program BPJS bagus dan mulai terbukti efektif berjalan, maka pemerintahan baru (Jokowi, misalnya) sebaiknya tidak bersikeras merubahnya menjadi Kartu Indonesia Sehat (KIS). Nanti jadi ribet dan lama lagi. Rakyat yang butuh pengobatan segera bagaimana coba? Kan kasihan!
Walaupun memang kesannya nanti tidak membuktikan janji, tapi demi kepentingan bersama, ya resiko lah dibully sana-sini dulu…hehe. Begitu gak sih menurut Abang semua?
Sumber : http://ift.tt/1rVRZs1