Menanti Setelah 21/22 Agustus 2014
Mahkamah Konstitusi belum memutuskan kapan hari H paling bersejarah bagi bangsa Indonesia memiliki presiden ke tujuhnya. Hadiah ulang tahun ke enam puluh sembilan yang paling dinanti-nantikan. Saat ini memang Jokowi-JK masih presiden terpilih, namun proses penantian Prahara hingga tanggal 21/22 nanti.
Patut dicermati dan dinantikan dengan bahagia sebenarnya karena hadiah terbesar ulang tahun ke enam puluh sembilan ialah presiden ketujuh. Siapapun dia merupakan hadiah seluruh bangsa dan siapapun dia ialah presiden kita bersama bukan presidennya PDI-P dan kawan-kawan dan bila MK memutuskan lain dengan pilhan rakyat selama ini dan keputusan KPU, itu adalah keputusan final, bahwa Prabowo bukan lagi presidennya Gerindra dan kawan-kawan saja, namun presiden bangsa Indonesia.
Bila Jokowi memang tetap dinyatakan sebagai presiden, bersegera untuk membangun negara ini, tanpa melupakan pihak nomor satu untuk diajak kembali berangkulan, kalau memang ada kesulitan yakinlah waktu dan kesetiaan seluruh rakyat negeri akan membantu menyatukan dan menyembuhkannluka pihak lain itu.
Presiden bangsa Indonesia berarti seluruh rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke, dan jangan lupa bagian dari dunia. Oleh karena itu ketika kemarin sudah telanjur banyak menyinggung pihak-pihak lain, baik asing ataupun sesama anak negeri siap-siap untuk rekonsiliasi dan menjalin relasi kembali sebagai satu kesatuan.
Sedih rasanya membaca komentar-komentar di media sosial ataupun media on line saat hari kemerdekaan, ketika ada yang merayakan hari kemerdekaan dengan cara masing-masing, para penonton yang sama sekali tidak punya andil apapun bagi negeri ini, malah menghujat calon presiden dan presiden terpilih, seperti mereka itu tidak berharga. Bagaimanapun mereka berdua, baik yang pro Jokowi ataupun pro Prabowo yang kita hujat adalah masih presiden dan calon presiden terpilih kita semua.
Apa yang akan terjadi nanti ketika sudah diumumkan secara resmi? Bagaimana orang yang kemarin menjelek-jelekan secara berlebihan akan salah satu pasang itu, ketika harus melihat presiden yang bukan pilihannya? Karena hanya ada dua pasang, maka paling tidak setengah dari bangsa ini akan kecewa, karena yang didukung tidak berhasil menjadi presiden. Sebenarnya istilah pencitraan, saling dukung dan klaim, saling hujat dan cela itu sudah tidak ada gunanya. Semua tinggal menunggu keputusan sembilan orang hakim konstitusi yang sudah diberi mandat oleh bangsa ini untuk menentukan siapa yang akan jadi presiden kita dan siapa yang harus menunggu lagi lima tahun ke depan.
Marilah kurang dari seminggu ini kita isi dengan doa dan permohonan agar para Hakim Konstitusi dapat bekerja dan memutuskan dengan hati nurani yang jernih, terbuka, dan demi kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya. Masa kita sudah berakhir 9 Juli lalu melalui pencoblosan. Peran kita sudah tidak diperlukan lagi, selain doa. Intimidasi, hujat, cela, klaim, pengerahan massa, perang opini, mari kita singkirkan dan kesampingkan. Saatnya untuk tenang dan tidak ada lagi saling serang dan cari benar masing-masing.
Semua adalah pemenang, semua adalah pemimpin, semua sudah memberikan hal yeng terbaik. Kekurangan yang terjadi untuk pembelajaran bukan untuk ajang caci maki, hujat menghujat, dan cela mencela. Ketersalingan yang tidak akan berujung itu, sudah saatnya dihentikan dan menatap ke depan untuk membangun negeri tercinta ini dengan apa yang kita miliki.
Salam Damai….
Sumber : http://ift.tt/1vZ05Gx