‘Melek’ Politik, tapi Tak Harus Seperti Politikus
Antusiasme masyarakat dalam pesta demokrasi beberapa waktu lalu begitu besar. Menurut pengamatan sederhana saya, pemilu kali ini paling tinggi ‘daya sedotnya. Pemilu, terutama Pilpres 2014 banyak merangsang rakyat dari berbagai kalangan untuk ikut aktif, tidak hanya dalam aktif menuju bilik suara, akan tetapi secara aktif pula dalam mempromosikan tokoh yang didukungnya.
Tak jarang, kita dapati perdebatan-perdebatan sengit di media sosial. Mulai dari diskusi berbobot hingga adu pendapat yang terasa kurang substantif bahkan tak jarang dijumpai saling serang dengan nada-nada tidak sopan. Bahkan, saya dengar ada yang karena perdebatan-perdebatan di facebook atau twitter membuat seseorang memutus tali pertemanan, sungguh ini luar biasa.
Atmosfir politik saat itu begitu panas. Masyarakat seakan dipetakan hanya menjadi dua bagian, masyarakat pro nomer satu dan masyarakat pro nomer dua. Sejujurnya, saat itu pun saya kesulitan menempatkan diri ketika saya berusaha untuk netral. Saya memberi kritik untuk nomer satu, saya disangka pendukung nomer dua, begitupun sebaliknya. Saya berusaha memuji sikap capres nomer satu, para pendukung capres nomer dua ‘menuduh’ saya pendukung rivalnya, begitu pula sebaliknya.
Sampai pada level ini saya masih bisa memahami atas apa yang terjadi, meski ada beberapa hal yang menurut saya sudah pada tingkatan yang sangat memprihatinkan. Upaya saling mencaci, menyebar fitnah hingga berusaha untuk menutup diri pada kebenaran-kebenaran yang ada. Apa yang bukan kubu yang didukung, sudah pasti dianggap salah.
Pertarungan telah usai, KPU memutuskan dan MK juga sudah ketok palu. Akan tetapi masih ada sisa-sisa semangat kampanye, hingga saling cela dan olok-olok sesekali masih didapati di media sosial.
Bagi saya, ketika pertempuran Pilpres telah berakhir, sudah tidak ada lagi pendukung capres ini dan capres itu, semua kembali pada satu posisi, yaitu sebagai rakyat. Rakyat memang sepantasnya melek politik, namun tak harus bersikap layaknya politikus.
Apa yang terjadi saat ini sungguh membuat saya mengerutkan dahi. Jika dulu saya maklum ketika mengkritik Pak Jokowi, sudah pasti saya akan panen tuduhan bahwa saya ‘orangnya’ Pak Prabowo. Namun ternyata fenomena itu belum berakhir hingga saat ini. Pemetaan politik bahwa hanya ada dua kubu di masyarakat itu masih terasa hingga kini.
Isu soal kenaikan haraga BBM nonsubsidi menjadi isu paling menarik untuk digoreng saat ini. Kubu Pak Jokowi diisukan setuju jika harga BBM tersebut dinaikan sesegera mungkin. Suara-suara politisi dari PDIP mulai terdengar untuk pro terhadap kenaikan ini.
Wacana ini kemudian menjadi bahan pergunjingan dikalangan masyarakat. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ternyata banyak masyarakat yang belum bisa move on terhadap suasana kampanye. Ada masyarakat yang kemudian jadi agak malu untuk tidak setuju dengan sikap PDIP ini karena sebelumnya mendukung Pak Jokowi. Lantas yang sebelumnya teridentifikasi sebagai pendukung Pak Prabowo mencoba menyalahkan para pendukung Pak Jokowi. Seakan-akan ingin mengungkapkan kekesalan: “salah kalian telah memilih dia jadi Presiden”
Selayaknya kita semua menjadi rakyat biasa kali ini, tidak lagi dipetakan oleh kecenderungan pilihan politik kita sebelumnya. Jika memang ada yang pro terhadap kenaikan harga BBM, sebaiknya berdasarkan analisa obyektif, bukan pemaksaan logika karena sebelumnya mendukung PDIP. Kalau memang tidak setuju atas kenaikan harga BBM, selayaknya didukung oleh argumen-argumen yang sehat, tidak dilandasi atas ketidaksenangan terhadap mereka yang saat ini setuju dengan kenaikan harga BBM.
Mari sama-sama bergandengan tangan, entah sebelumnya kalian dipihak mana, tetapi kita saat ini berada pada satu pihak, sebagai rakyat. Kita berada pada satu kubu, yaitu bagian dari kontrol terhadap pemerintahan yang ada, jika salah kita jewer rame-rame, jika benar kita sorong bersama-sama.
Tak perlu sungkan untuk mengkritik hanya karena dulu dikenal sebagai pendukung. Serta pihak yang saat pilpres jagoannya kalah, tak perlu menyalahkan mereka yang sebelumnya mendukung capres pemenang. Jika suatu saat Pak Jokowi melakukan kesalahan, jangan salahkan pendukungnya, karena para pendukung itu dulu menyampaikan suaranya berdasar apa yang mereka yakini pada saat itu, bahwa Pak Jokowi adalah orang terbaik.
Mendukung namun tak obyektif, semata hanya karena dulu berada pada satu kubu sesungguhnya tidak lebih baik dibanding para penentang yang hanya berdasar pada kebencian dan ketidakrelaan atas kekalahan sebelumnya.
Sumber : http://ift.tt/1nChETG
Tak jarang, kita dapati perdebatan-perdebatan sengit di media sosial. Mulai dari diskusi berbobot hingga adu pendapat yang terasa kurang substantif bahkan tak jarang dijumpai saling serang dengan nada-nada tidak sopan. Bahkan, saya dengar ada yang karena perdebatan-perdebatan di facebook atau twitter membuat seseorang memutus tali pertemanan, sungguh ini luar biasa.
Atmosfir politik saat itu begitu panas. Masyarakat seakan dipetakan hanya menjadi dua bagian, masyarakat pro nomer satu dan masyarakat pro nomer dua. Sejujurnya, saat itu pun saya kesulitan menempatkan diri ketika saya berusaha untuk netral. Saya memberi kritik untuk nomer satu, saya disangka pendukung nomer dua, begitupun sebaliknya. Saya berusaha memuji sikap capres nomer satu, para pendukung capres nomer dua ‘menuduh’ saya pendukung rivalnya, begitu pula sebaliknya.
Sampai pada level ini saya masih bisa memahami atas apa yang terjadi, meski ada beberapa hal yang menurut saya sudah pada tingkatan yang sangat memprihatinkan. Upaya saling mencaci, menyebar fitnah hingga berusaha untuk menutup diri pada kebenaran-kebenaran yang ada. Apa yang bukan kubu yang didukung, sudah pasti dianggap salah.
Pertarungan telah usai, KPU memutuskan dan MK juga sudah ketok palu. Akan tetapi masih ada sisa-sisa semangat kampanye, hingga saling cela dan olok-olok sesekali masih didapati di media sosial.
Bagi saya, ketika pertempuran Pilpres telah berakhir, sudah tidak ada lagi pendukung capres ini dan capres itu, semua kembali pada satu posisi, yaitu sebagai rakyat. Rakyat memang sepantasnya melek politik, namun tak harus bersikap layaknya politikus.
Apa yang terjadi saat ini sungguh membuat saya mengerutkan dahi. Jika dulu saya maklum ketika mengkritik Pak Jokowi, sudah pasti saya akan panen tuduhan bahwa saya ‘orangnya’ Pak Prabowo. Namun ternyata fenomena itu belum berakhir hingga saat ini. Pemetaan politik bahwa hanya ada dua kubu di masyarakat itu masih terasa hingga kini.
Isu soal kenaikan haraga BBM nonsubsidi menjadi isu paling menarik untuk digoreng saat ini. Kubu Pak Jokowi diisukan setuju jika harga BBM tersebut dinaikan sesegera mungkin. Suara-suara politisi dari PDIP mulai terdengar untuk pro terhadap kenaikan ini.
Wacana ini kemudian menjadi bahan pergunjingan dikalangan masyarakat. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ternyata banyak masyarakat yang belum bisa move on terhadap suasana kampanye. Ada masyarakat yang kemudian jadi agak malu untuk tidak setuju dengan sikap PDIP ini karena sebelumnya mendukung Pak Jokowi. Lantas yang sebelumnya teridentifikasi sebagai pendukung Pak Prabowo mencoba menyalahkan para pendukung Pak Jokowi. Seakan-akan ingin mengungkapkan kekesalan: “salah kalian telah memilih dia jadi Presiden”
Selayaknya kita semua menjadi rakyat biasa kali ini, tidak lagi dipetakan oleh kecenderungan pilihan politik kita sebelumnya. Jika memang ada yang pro terhadap kenaikan harga BBM, sebaiknya berdasarkan analisa obyektif, bukan pemaksaan logika karena sebelumnya mendukung PDIP. Kalau memang tidak setuju atas kenaikan harga BBM, selayaknya didukung oleh argumen-argumen yang sehat, tidak dilandasi atas ketidaksenangan terhadap mereka yang saat ini setuju dengan kenaikan harga BBM.
Mari sama-sama bergandengan tangan, entah sebelumnya kalian dipihak mana, tetapi kita saat ini berada pada satu pihak, sebagai rakyat. Kita berada pada satu kubu, yaitu bagian dari kontrol terhadap pemerintahan yang ada, jika salah kita jewer rame-rame, jika benar kita sorong bersama-sama.
Tak perlu sungkan untuk mengkritik hanya karena dulu dikenal sebagai pendukung. Serta pihak yang saat pilpres jagoannya kalah, tak perlu menyalahkan mereka yang sebelumnya mendukung capres pemenang. Jika suatu saat Pak Jokowi melakukan kesalahan, jangan salahkan pendukungnya, karena para pendukung itu dulu menyampaikan suaranya berdasar apa yang mereka yakini pada saat itu, bahwa Pak Jokowi adalah orang terbaik.
Mendukung namun tak obyektif, semata hanya karena dulu berada pada satu kubu sesungguhnya tidak lebih baik dibanding para penentang yang hanya berdasar pada kebencian dan ketidakrelaan atas kekalahan sebelumnya.
Sumber : http://ift.tt/1nChETG