ISIS Bakal Jadi Penyakit Kanker Bangsa
Kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang bikin heboh dunia telah masuk ke Indonesia. Mereka kini sudah ada di Solo dan Banten. Tentu mengherankan, bagaimana mereka dengan mulusnya berdiri di tanah air Indonesia yang sedang membangun dan cinta perdamaian.
Masuknya kelompok ini ke Indonesia bukan tanpa sebab. Menurut Profesor Greg Barton, pakar keamanan dan ahli Indonesia dari Monash University, dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, kelompok tersebut melihat potensi yang cukup besar untuk mendapat dukungan dan berkembangnya ajaran mereka. Bahkan Abu Bakar Baasyir yang saat ini dipenjara Nusakambangan karena kasus makar Jaringan Islamiyah dan teror bom secara terang-terangan menyatakan dukungannya dan menghimbau pengikutnya untuk mengikuti ajaran ISIS.
Pada wilayah Timur Tengah sendiri tercatat kelompok ISIS telah berhasil menguasai wilayah Timur Syiria, bagian Utara dan Barat Irak. Di wilayah kekuasaannya itu mereka menerapkan Syariah Islam dan mengintimidasi kelompok-kelompok minoritas Kristen, komunitas Syiah Shabak, etnis lokal Yazidiz, Turkmenistan dan lainnya. Di kota Mosul, kota terbesar kedua Irak kini diperkirakan hanya tersisa 20 keluarga Kristen. Sebagian telah mengungsi dan sebagaian lagi dipaksa memeluk Islam dan yang lain memilih tinggal dan membayar pajak non-muslim. Salah satu maksud awal ISIS menguasai wilayah tersebut adalah untuk bisa monopoli atas energi dan peningkatan kekuatan militer akan memudahkan penghimpunan kekuatan di tempat lain.
Melihat tujuan dan cara perjuangan kelompok ISIS yang berasal dari Timur-Tengah ini sangat tidak sesuai dengan konteks bangsa Indonesia saat ini. Tujuan mereka adalah membangun Kekalifahan Islam dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti aksi kekerasan, teror dan pemaksaan kehendak terhadap masyarakat yang dikuasainya, baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Dikhawatirkan kegiatan mereka akan merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah dengan susah payah kita bangun.
Sikap pemerintah sendiri sampai saat ini nampaknya masih ’wait and see’. Belum ada tindakan nyata melarang atau mencegah secara langsung gerakan ini melakukan kegiatan di Indonesia.
Kementerian Agama (Kemenag) belum bisa memastikan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan agama terlarang atau tidak. Padahal aliran itu mulai memperluas pengaruh di berbagai daerah seperti di Solo dan Banten. Sekretaris Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Muhammadiyah Amin di Jakarta, Kamis (31/7/2014), mengatakan Kemenag mau mempelajari terlebih dahulu ajaran ISIS. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui apakah keberadaannya terhubung atau mengganggu suatu agama atau tidak.
Sampai sat ini pihak Polri masih memantau pergerakan kelompok ini. Salah satunya adalah dengan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berkaitan beredarnya situs Youtube berisi ajakan kepada orang Indonesia untuk bergabung ke ISIS. Namun pihak Kemenkominfo sampai saat ini belum bisa melakukan pemblokiran karena terlebih dahulu harus berdasarkan pengaduan dari pihak masyarakat.
Pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) lewat Ansyaat Mbai kepalanya bandannya masih memperlajari kegiatan mereka. Dia mengatakan kelompok radikal di Indonesia potensial direkrut jaringan ini. Sudah ada warga negara Indonesia yang masuk ke Syiriah dan Irak untuk ‘berguru”. Kelak mereka akan kembali ke Indonesia lagi untuk mengembangkan ajaran dan perjuangan ISIS.
Sementara ISI terus melakukan konsolidasi dan mengembangkan dirinya dalam rantai-rantai kecil, menanam dan menyebar akar faham mereka di beberapa daerah yang dianggap potensial. Pada saatnya nanti akan menjadi kekuatan besar untuk mewujudkan tujuan utama mereka di Indonesia, yakni mendirikan Kekalifahan Islam yang menjadi bagian Pan-Islamic seluruh dunia.
Rantai kecil dan akar yang menyebar ini seperti penyakit kanker yang perlahan-lahan dan pada situasi tertentu akan bertumbuh cepat menggerogoti kesehatan tubuh kebangsaan Indonesia. Akibatnya tentu bisa diduga, rusaknya negara dan bangsa. Penanganannya akan sangat menguras biaya, pikiran dan tenaga.
Saat ini yang terjadi adalah masuk dan berkembangnya gerakan ISIS seakan berlomba dengan pemerintah sedang sibuk “mempelajari ISIS “. Dikuatirkan, kalau semakin lama pemerintah belajar tanpa melakukan tindakan masif dan nyata pelarangan, maka semakin berkembang biaklah jaringan ISIS di tanah air. Ketika pemerintah selesai belajar, maka ISIS pun sudah besar dan siap untuk menghancurkan bangsa ini. Kalau sudah begitu, akan sulit kita bisa melakukan pembangunan guna mengejar ketertinggalan kita dengan negara-negara maju lain dalam mensejahterakan rakyat.
Salam Perdamaian
Sumber referensi tulisan :
kompas.com
metrotvnews.com
tribunews.com
tempo.co
Sumber : http://ift.tt/1tBfKtM