Suara Warga

Islam Bukan Agama dan Agama Bukan Islam

Kira-kira ada tidak orang yang marah membaca judul diatas? Kemungkinan besar pasti ada. Apalagi mereka yang terlalu sensitive perasaannya.

Kalau anda jujur pada diri sendiri tentu anda akan mengatakan bahwa anda marah dan anda akan menuliskannya pada kolom komentar dibawah. Tapi kalau anda tidak jujur, anda akan membaca artikel ini hingga selesai, lalu meninggalkannya. Tapi saya yakin anda akan memikirkan kalimat-kalimat tersebut diatas.

Buat yang bukan pemarah, silahkan membaca paparan selanjutnya.

Islam itu artinya Selamat. Islam itu adalah ajaran tentang kebaikan. Dan Islam itu adalah tata cara untuk berkomunikasi dengan Allah sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, disertai dengan menjalankan Rukun-rukunnya.

Sampai disini anda yang sudah terlanjur naik darah mendadak tidak marah lagi kan?

Secara Etimologi Judul artikel diatas itu tidak salah. Etimologi adalah Ilmu yang menelusuri asal dari suatu kata. Jadi menurut Ilmu Terminologi kata “Islam” itu tidak identik dengan kata “Agama”. Jadi sah saja kalau ada orang mengatakan Islam bukan Agama. (secara Etimologi tentunya).

Tetapi secara Terminologi, Islam dapat diterjemahkan sebagai suatu agama sehingga siapapun boleh mengatakan Islam adalah Agama. Atau lebih tepatnya, Islam adalah salah satu Agama yang dianut mayoritas penduduk Indonesia.

Lalu berikutnya, apa itu Agama? Apa defenisi sebenarnya dari agama?

Kata “Agama” bukan berasal dari bahasa Arab tetapi berasal dari bahasa Sansekerta. Secara Etimologi kata Agama berasal dari dua kata yaitu A dan Gama. Arti langsungnya A adalah “Tidak” sedangkan Gama artinya “Kacau”. Jadi arti Agama secara langsung atau secara Etimologi adalah Tidak Kacau.

Sedangkan berdasarkan Terminologi, arti Agama adalah Aturan yang dipegang dan ditaati oleh seseorang berdasarkan landasan dirinya memiliki hubungan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Sampai disini sudah sangat jelas bukan? Bahwa Islam tidak identik dengan kata Agama. Islam hanyalah salah satu Agama dari berbagai Agama yang ada.

Perjalanan waktu dari zaman sebelum Masehi hingga saat sekarang ini membuat kita semua mengenal banyak agama. Kita punya agama, tetangga kita punya agama, orang China punya agama, orang Jepang punya agama, Orang Amerika dan Eropa juga punya agama.

Meskipun agama kita tidak sama satu sama lainnya, apakah hal itu akan membuat kita bermusuhan antara satu dengan lainnya? Apakah gara-gara Agama kita tidak sama, lalu kita harus berperang antara satu dengan lainnya?

Tentu tidak, karena semua Agama yang ada dan kita kenal, kesemuanya mengajarkan kebaikan. Dan bukan sekali-sekali mengajarkan perang ataupun permusuhan.

PENTINGKAH KOLOM AGAMA PADA KTP?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu harus menimbang dari sudut mana kepentingannya. KTP adalah Kartu Tanda Penduduk yang berarti Kartu yang memuat Identitas dari seorang penduduk.

Apa saja yang termasuk Identitas seorang penduduk? Tentu bisa disebut antara lain : Siapa namanya, Dimana Tinggalnya (alamat jelasnya), Lahir dimana dan kapan kelahirannya. Itulah Identitas utama dari seseorang.

Identitas itu dibutuhkan untuk menjelaskan bahwa orang tersebut adalah Penduduk Indonesia. Identitas itu juga dibutuhkan untuk membedakan antara satu orang dengan orang lainnya yang kebetulan bernama sama atau beralamat sama dan lainnya. Identitas itu harus Unik. (Unik berarti tidak ada yang menyamainya).

Secara teknologi telah ditemukan bahwa setiap manusia punya hal-hal unik yang melekat pada dirinya seperti Sidik Jari, Retina Mata dan DNA. Itulah Identitas Biologis dari seorang manusia yang menjadi penduduk suatu Negara.

Artikel terkait : Islam Bukan Agama dan Agama Bukan Islam

Tetapi untuk mengetahui Identitas Biologis dari seseorang butuh beberapa peralatan khusus untuk mengindetifikasinya sehingga akan lebih mudah bila orang tersebut memiliki sebuah Tanda Pengenal yang dibawa orang tersebut kemana saja bila dirinya bepergian. Dan itulah fungsinya KTP.

Selanjutnya dalam sebuah KTP selama ini juga terdapat keterangan tambahan lainnya yaitu Status Menikah atau Tidak, Golongan Darah dan Agama. Pentingkah itu semua?

Sebenarnya bukan penting dan tidak penting, tetapi keterangan-keterangan tambahan itu cukup berguna untuk beberapa hal, terutama untuk kejadian-kejadian insidentil dan lainnya.

Lalu kenapa Kolom Agama pada KTP mau dihapus pemerintah???!!

Kalimat Tanya itu adalah Isyu. Isyu yang sangat jahat tentunya. Belum pernah ada informasi resmi dari pemerintah bahwa Kolom Agama pada KTP hendak dihapus. Mungkin pernah ada wacana atau usulan dari beberapa pihak agar Pemerintah membuat Kartu Tanda Penduduk yang lebih simple tetapi lebih valid. Tapi yang pasti belum pernah ada informasi bahwa Kolom KTP akan dihapus pemerintah.

Sebenarnya pernyataan Mendagri kemarin adalah Kolom Agama pada KTP diperbolehkan dikosongkan bagi penduduk yang merasa keyakinan/ agama nya tidak termasuk dalam daftar 6 Agama yang telah diakui pemerintah. Kebijakan itu diambil atas dasar bahwa Pemerintah menjamin Setiap warga Negara dapat memiliki KTP meskipun mereka memeluk Agama selain 6 Agama yang sudah diakui oleh Pemerintah. Khususnya untuk mereka diperbolehkan untuk tidak mengisi kolom agama pada KTP miliknya. Apa yang salah dari kebijakan tersebut? Mengapa harus menjadi diributkan banyak pihak?

Kemungkinan besar saat ini ada kelompok-kelompok masyarakat yang sangat gemar menghujat pemerintah. Pemerintahan Jokowi yang baru berjalan 2 minggu sudah berkali-kali dihujat oleh kelompok ini. Mereka juga sering sekali menghebohkan masalah-masalah kecil dan meniup-niupkannya menjadi masalah besar. Sungguh mereka-mereka ini sangat jauh dari Agamanya, sangat jauh dari kebaikan.

POLITIK UNTUK AGAMA ATAU AGAMA UNTUK POLITIK?

Agama dan Politik adalah dua hal yang jauh berbeda. Baik secara Etimologi maupun Terminologi kedua kata itu sangat jauh artinya. Defenisi Politik secara Terminologi saat ini sangat luas dan bisa diartikan sebagai Aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk meraih Kekuasaan sedangkan Agama adalah aktivitas dari seseorang untuk menjalankan kebaikan-kebaikan sesuai aturan Tuhan yang disembahnya.

Bagaimana mungkin seseorang atau sekelompok orang ingin berkuasa tetapi berdalih melakukan hal tersebut demi agamanya?Sangat sulit bagi orang awam untuk mempercayai sebuah Partai Politik yang mengaku berjuang demi Agamanya.

Hal itu terbukti saat ini di Indonesia. Penduduk Indonesia 90% adalah penganut agama Islam tetapi dari berkali-kali Pemilu diadakan belum pernah mayoritas penduduk Indonesia memilih partai-partai Islam sebagai saluran hak politiknya. Pengalaman 15 tahun terakhir Partai-partai Islam hanya diminati oleh sekitar 30%-35% dari penduduk Indonesia. Itu berarti sekitar 60% penduduk Islam Indonesia kurang percaya dengan Partai Islam.

Bagaimana mungkin mereka percaya dengan Partai-partai Islam karena Para Pemimpin-pemimpin Partai Islam mayoritas tidak mencerminkan KeIslamannya. Beberapa dari Ketua Partai Islam terlibat kasus Korupsi sedangkan lainnya sangat terlihat sikapnya begitu haus akan kekuasaan.

Bahkan ada partai Islam yang kader-kadernya sangat jauh dari sifat-sifat Islam. Mereka gemar bergunjing, gemar menghasut dan gemar memfitnah. Ini sungguh tragedy bagi umat Islam secara keseluruhan.

Semoga mereka diberi petunjutk agar dapat kembali ke jalan yang benar.




Sumber : http://ift.tt/1stIIqO

Artikel Kompasiana Lainnya :

Copyright © 2015 Kompasiana | Design by Bamz