Iklan Capres Jadi Bumerang bagi Media
Sebelum berlangsungnya pemilihan presiden pada 9 Juli yang lalu, persaingan belanja iklan dan pemberitaan tentang kedua pasangan capres di media massa sangatlah sengit. Dan seperti biasa, belanja iklan-iklan capres itu dipengaruhi oleh dukungan pemilik media kepada kubu masing-masing. Semuanya dapat kita lihat di berbagai media, mulai dari tv, radio, media cetak, media online, blog, hingga jejaring sosial di internet.
Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID), Jajat Nurjaman, mengatakan bahwa iklan dan pemberitaan yang berlebihan tentang capres 2014 telah membuat masyarakat bosan, bahkan terkesan mengurangi kualitas calon presiden itu sendiri.
Juga, menurut Jajat, anggapan tidak netralnya beberapa media televisi dalam memberitakan seorang calon presiden sudah ditangani oleh pihak yang lebih berwenang seperti KPI maupun Dewan Pers. Jajat menambahkan, sebenarnya permasalahan yang sebenarnya adalah bukan tentang isi dari pemberitaan tersebut. Tapi yang jadi persoalan adalah jumlah penayangan pemberitaan dan iklannya yang berlebihan. Dan hal itu justru membuat masyarakat tidak empati kepada kedua calon.
Selain itu, pemberitaan maupun iklan yang berlebihan juga akan mengurangi kredibilitas media. Dengan kata lain, iklan yang tidak proporsional bisa menjadi bumerang bagi media yang bersangkutan. Sebab, kenetralan media dalam pemilihan calon presiden 2014 menjadi sorotan utama di masyarakat.
Contoh ketidaknetralan itu salah satunya bisa dilihat pada getolnya MetroTV menayangkan iklan Jokowi-JK. Bisa dibilang, belanja iklan capres di MetroTV didominasi oleh Jokowi-JK. Lihat saja data hasil perhitungan jumlah iklan capres yang diungkapkan oleh Anwari Natari, Project Coordinator Pemantauan Iklan Capres di Media Massa dari SatuDunia, di Kantor KPU, pada 25 Juni 2014 lalu. Ternyata, dari 67 iklan capres yang ada di Metro TV, seluruhnya merupakan iklan Jokowi-JK.
“Dalam perhitungan ini, kami mengabaikan diskon atau harga khusus dari media massa tertentu kepada pasangan tertentu. Angka kami munculkan berdasarkan rate resmi dari setiap media massa yang kami pantau,” kata Anwari.
Seperti diketahui, MetroTV dimiliki oleh Surya Paloh (Ketua Umum Partai Nasdem) yang berkoalisi mengusung Jokowi-JK. Sementara TVOne dimiliki oleh Grup Bakrie yang mengusung Prabowo-Hatta.
Sumber foto: http://ift.tt/1xlbUYl
Sumber : http://ift.tt/Wo9kQp