Kisah Boneka Menerkam Sang Macan
Pemilu presiden 2014 sudah usai bahkan sudah di umumkan pemenangnya oleh KPU. Tetapi kita melihat resistensi yang kuat dari kubu nomor 1 melalui capres nya Prabowo. Bahkan resistensinya sudah terasa sejak penetapan Jokowi menjadi capres tetap PDIP. Sikap Prabowo ketika berurusan dengan Jokowi menjadi sangat berbeda dengan dirinya sewaktu tampil di publik. Dia kehilangan sikap santai , dingin , elegannya. Bahkan ketika dia di hadang dengan isu HAM tanggapannya tidak seemosional kalau sudah berurusan Jokowi. Hal ini memberi saya inspirasi untuk membuat sebuah perspektif baru terhadap jalannya demokrasi di negeri kita tercinta.
Bicara Jokowi pasti tidak lepas dari Pilgub DKI 2012 yang membawa dia menjadi Gubernur DKI untuk periode 2012-2017. Dan pada saat Pilgub ini lah kolaborasi Jokowi dan Prabowo di mulai. Dimana Jokowi yang di temanin Ahok sebagai wakilnya di usung oleh PDIP dan Gerindra. Awal pencalonan Jokowi menjadi Cagub sebenarnya mendapat banyak hambatan. Karena masih ada calon yang lebih di sukai di PDIP sendiri, sebut saja Nono Sempono yang merupakan pensiunan jendral dan mantan Danpampres era Megawati, kemudian Boy Sadikin yang merupakan anak dari mantan Gubernur DKI 1966-1977 Ali Sadikin dan juga ada Priyanto merupakan Wagub periode sebelumnya. Tetapi secara mengejutkan Jokowi bisa terpilih menjadi Cagub yang di usung PDIP dan Gerindra. Ini mungkin tidak lepas dari hasil pertemuan antara Megawati dan Prabowo. Karena hasil Pilgub DKI 2012 ini mungkin akan mengubah konstelasi politik di Indonesia untuk Pemilu 2014.
Dalam pembicaraan tersebut mungkin ada deal –deal yang dilakukan kedua pemimpin parpol tersebut. Salah satunya mungkin tentang kelanjutan Perjanjian Batu Tulis yang menyebutkan bahwa Megawati akan mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Gaya kepemimpinan Jokowi yang unik dan banyak menarik perhatian masyarakat akan banyak mengundang pemberitaan di media. Sangat cocok untuk mendongkrak citra partai pengusungnya. Dan juga Prabowo sebagai Capres yang akan di usung kedua partai tersebut. Mungkin dalam deal terbaru ini megawati juga memasukan Puan Maharani sebagai kandidat Cawapresnya sebagai pembelajaran politik yang kemudian pada 2019 atau 2024 akan jadi Capres berikutnya.
Singkat cerita, sejak proses Pilgub sampai Jokowi jadi Gubernur. Kita melihat banyak sekali sepak terjang Prabowo juga. Bahkan bisa di katakan dimana Jokowi melakukan sebuah kebijakan akan ada Prabowo yang muncul di media juga. Mungkin buat pembaca yang sering mengikuti berita politik tidak akan lupa dengan kata-kata seperti “Saya yang bawa Jokowi dari Solo ke Jakarta”. Atau juga “Saya siap pasang badan” setiap Jokowi dan wakilnya Ahok mendapat perlawanan dalam membuat kebijakan-kebijakan fenomenalnya. Dari kata tersebut seakan ingin publik tidak melupakan jasa dia dalam terbentuknya seorang “Jokowi”. Jadi kesimpulan yang saya dapat adalah Jokowi memang sebuah boneka yang di persiapkan untuk mendongkrak suara Prabowo pada 2014. Mungkin beda dengan anggapan orang umumnya yang mengatakan bahwa dia boneka Megawati. Karena jarang sekali kita melihat Megawati muncul dalam pemberitaanya Jokowi baik untuk membela ataupun ikut “mengklaim” sebagian prestasi dia.
Namun manusia hanya bisa berencana tetap yang di atas yg memutuskan. Popularitas jokowi yang terus naik tidak di ikutin Prabowo. Prabowo yang pada saat sebelum pilgub dki hanya memiliki elektabilitas 7-8% kemudian setelah pilgub naik menjadi 11-12%. Dan pada pertengahan tahun 2013 elektabilitasnya menjadi 16-17%. Setelah itu kenaikannya sangat lambat. Sedangkan suara di masyarakat meminta Jokowi menjadi capres semakin besar. Bahkan ketika di survey tingkat elektabilitasnya jauh meninggalkan Prabowo. Pada awal 2013 elektabilitas Jokowi masih skitar 17% tetapi menjelang akhir 2013 elektabilitasnya mencapi 37% hampir 2 kali dari Prabowo. Hal ini membuat Prabowo menjadi was-was. Dan kita bisa melihat, mendekati tahun 2014 dan 2014 awal perlakuan Prabowo ke Jokowi mulai berbeda. Dia tidak lagi membela habis-habisan seperti sebelumnya. Bahkan tidak jarang juga memberikan kritikan ke pemerintahan Jokowi-Ahok. Dan puncaknya ketika megawati sendiri mengumumkan pencalonan Jokowi menjadi Capres tetap PDIP. Kewibawaan prabowo menjadi tidak terlihat. Dia menjadi membabi buta menghina, mencaci maki Jokowi. Berbagai macam kata-kata yang harusnya tidak pantas di ucapkan di depan publik pun keluar dari mulutnya. Tetapi wajar saja, karena segala pengorbanan dan usahanya seperti terkhianatin. Apalagi jika yang mengkhianatin kalau boneka yang di persiapkan untuk membantu dirinya, rasa sakit yang mungkin susah terobati.
Sekarang kita liat dari perspektif Megawati, Megawati mungkin mendapatkan dilemma cukup besar menghadapi Pemilu 2014. Salah satu kadernya yang di plot cuma sebuah “boneka” berubah menjadi magnet besar yang di elu elukan masyarakat luas. Teriakan untuk menjadikannya Capres semakin keras, tetapi di lain pihak jika dia lakukan akan mengkhianatin Prabowo. Belum lagi rencana awal yang melibatkan Puan Maharani sebagai cawapres. Dengan popularitas jokowi bukan hal sulit mencalonkannya jadi capres, tetapi jika ingin mengusung juga Puan menjadi cawapres maka PDIP butuh suara minimal 30% dalam Pileg 2014. Walaupun popularitas Jokowi yang tinggi, sayangnya tidak sejalan dengan peningkatan suara PDIP. Megawati sendiri sudah mencoba dengan berbagai cara seperti mengatakan bahwa Jokowi adalah petugas partai atau pun pemberian mandat dll. Tujuannya agar rakyat tahu, bahwa Jokowi itu orang PDIP dan jika ingin dia jadi capres anda juga harus memilih PDIP. Tetapi sayang sekali walaupun udah bermacam cara di lakukan target 30% suara di Pileg tidak tercapai. Impian mengusung Capres dan Cawapres sendiri pun sirna. Dengan Cuma mengantongin 19% suara nasional maka mau tidak mau harus berkoalisi dengan partai lain. Dan target paling realistis adalah JK yang merupakan kader golkar dan punya basis pendukung setia.
Kembali ke Jokowi dan Prabowo. Jokowi yang sejak pilgub DKI selalu menjadi “anak emas” media. Bahkan setelah menjadi Gubernur pun kita melihat dia tidak berhenti muncul di media. Yang oleh sebagian orang di sebut pencintraan. Akan tetapi semua berubah ketika memasuki tahun 2014. Media yang biasa selalu meliput positif jokowi mendadak mulai menyerangnya. Berbagai kampanye hitam ikut diedarkan luas ke masyarakat. Yang membuat elektabilitas jokowi sendiri tidak ada perubahan berarti masih berkutat sekitar 45%. Sebaliknya, Prabowo sendiri di tahun 2014 malah mengalami kenaikan elektabilitas yg signifikan. Dalam setengah tahun yang dari “cuma” skitar 19% meroket sampai 43% menjelang pilpres. Hal ini tidak terlepas dari media yang banyak menayangkan kampanye hitam ke Jokowi dan juga citra positif Prabowo sebagai sosok yang pemberani, tegas dan cerdas. Ironis sebenarnya karena yang di lakukan Prabowo sebenarnya hampir sama dengan pencitraan Jokowi ketika Pilgub dulu. Tetapi publik seakan lupa karena title pencitraan seperti sudah milik Jokowi seorang. Sama seperti pelanggar HAM menjadi milik Prabowo, penjual BUMN untuk Megawati ataupun peragu/lambannya SBY. Sehingga orang lain tidak boleh mendapatkan sebutan serupa.
Singkatnya, Pilpres 2014 pun usai dan KPU memenang kan Jokowi. Kemudian pihak yang kalah tidak dapat menerimanya sehingga banyak di warnai insiden-insiden yang bisa di bilang cukup lucu kalau tidak mau di bilang aneh. Mulai dari saling klaim pemenang berdasarkan quick countnya sesaat setelah Pilpres 9 Juli. Ataupun pernyataan mundur dari Pilpres 2014 sesaat sebelum pengumuman hasil pemilu oleh kubu Prabowo-Hatta karena menganggap ada kecurangan di KPU. Dan kemudian mendadak berubah pikiran dan menggugat KPU ke MK. Dan jika di MK tetap memenangkan Jokowi maka. Dengan terpilihnya Jokowi berdasarkan perspektif saya di atas maka pantas di sebutkan. “Boneka Yang Menerkam Sang Macan.” Jadi siapa yang benar dan siapa yang salah? Semua menjadi tidak jelas karena di politik semua adalah abu-abu. Tergantung dari sisi mana anda memandangnya.
Sumber : http://ift.tt/1xPaYX9
Bicara Jokowi pasti tidak lepas dari Pilgub DKI 2012 yang membawa dia menjadi Gubernur DKI untuk periode 2012-2017. Dan pada saat Pilgub ini lah kolaborasi Jokowi dan Prabowo di mulai. Dimana Jokowi yang di temanin Ahok sebagai wakilnya di usung oleh PDIP dan Gerindra. Awal pencalonan Jokowi menjadi Cagub sebenarnya mendapat banyak hambatan. Karena masih ada calon yang lebih di sukai di PDIP sendiri, sebut saja Nono Sempono yang merupakan pensiunan jendral dan mantan Danpampres era Megawati, kemudian Boy Sadikin yang merupakan anak dari mantan Gubernur DKI 1966-1977 Ali Sadikin dan juga ada Priyanto merupakan Wagub periode sebelumnya. Tetapi secara mengejutkan Jokowi bisa terpilih menjadi Cagub yang di usung PDIP dan Gerindra. Ini mungkin tidak lepas dari hasil pertemuan antara Megawati dan Prabowo. Karena hasil Pilgub DKI 2012 ini mungkin akan mengubah konstelasi politik di Indonesia untuk Pemilu 2014.
Dalam pembicaraan tersebut mungkin ada deal –deal yang dilakukan kedua pemimpin parpol tersebut. Salah satunya mungkin tentang kelanjutan Perjanjian Batu Tulis yang menyebutkan bahwa Megawati akan mendukung Prabowo dalam Pilpres 2014. Gaya kepemimpinan Jokowi yang unik dan banyak menarik perhatian masyarakat akan banyak mengundang pemberitaan di media. Sangat cocok untuk mendongkrak citra partai pengusungnya. Dan juga Prabowo sebagai Capres yang akan di usung kedua partai tersebut. Mungkin dalam deal terbaru ini megawati juga memasukan Puan Maharani sebagai kandidat Cawapresnya sebagai pembelajaran politik yang kemudian pada 2019 atau 2024 akan jadi Capres berikutnya.
Singkat cerita, sejak proses Pilgub sampai Jokowi jadi Gubernur. Kita melihat banyak sekali sepak terjang Prabowo juga. Bahkan bisa di katakan dimana Jokowi melakukan sebuah kebijakan akan ada Prabowo yang muncul di media juga. Mungkin buat pembaca yang sering mengikuti berita politik tidak akan lupa dengan kata-kata seperti “Saya yang bawa Jokowi dari Solo ke Jakarta”. Atau juga “Saya siap pasang badan” setiap Jokowi dan wakilnya Ahok mendapat perlawanan dalam membuat kebijakan-kebijakan fenomenalnya. Dari kata tersebut seakan ingin publik tidak melupakan jasa dia dalam terbentuknya seorang “Jokowi”. Jadi kesimpulan yang saya dapat adalah Jokowi memang sebuah boneka yang di persiapkan untuk mendongkrak suara Prabowo pada 2014. Mungkin beda dengan anggapan orang umumnya yang mengatakan bahwa dia boneka Megawati. Karena jarang sekali kita melihat Megawati muncul dalam pemberitaanya Jokowi baik untuk membela ataupun ikut “mengklaim” sebagian prestasi dia.
Namun manusia hanya bisa berencana tetap yang di atas yg memutuskan. Popularitas jokowi yang terus naik tidak di ikutin Prabowo. Prabowo yang pada saat sebelum pilgub dki hanya memiliki elektabilitas 7-8% kemudian setelah pilgub naik menjadi 11-12%. Dan pada pertengahan tahun 2013 elektabilitasnya menjadi 16-17%. Setelah itu kenaikannya sangat lambat. Sedangkan suara di masyarakat meminta Jokowi menjadi capres semakin besar. Bahkan ketika di survey tingkat elektabilitasnya jauh meninggalkan Prabowo. Pada awal 2013 elektabilitas Jokowi masih skitar 17% tetapi menjelang akhir 2013 elektabilitasnya mencapi 37% hampir 2 kali dari Prabowo. Hal ini membuat Prabowo menjadi was-was. Dan kita bisa melihat, mendekati tahun 2014 dan 2014 awal perlakuan Prabowo ke Jokowi mulai berbeda. Dia tidak lagi membela habis-habisan seperti sebelumnya. Bahkan tidak jarang juga memberikan kritikan ke pemerintahan Jokowi-Ahok. Dan puncaknya ketika megawati sendiri mengumumkan pencalonan Jokowi menjadi Capres tetap PDIP. Kewibawaan prabowo menjadi tidak terlihat. Dia menjadi membabi buta menghina, mencaci maki Jokowi. Berbagai macam kata-kata yang harusnya tidak pantas di ucapkan di depan publik pun keluar dari mulutnya. Tetapi wajar saja, karena segala pengorbanan dan usahanya seperti terkhianatin. Apalagi jika yang mengkhianatin kalau boneka yang di persiapkan untuk membantu dirinya, rasa sakit yang mungkin susah terobati.
Sekarang kita liat dari perspektif Megawati, Megawati mungkin mendapatkan dilemma cukup besar menghadapi Pemilu 2014. Salah satu kadernya yang di plot cuma sebuah “boneka” berubah menjadi magnet besar yang di elu elukan masyarakat luas. Teriakan untuk menjadikannya Capres semakin keras, tetapi di lain pihak jika dia lakukan akan mengkhianatin Prabowo. Belum lagi rencana awal yang melibatkan Puan Maharani sebagai cawapres. Dengan popularitas jokowi bukan hal sulit mencalonkannya jadi capres, tetapi jika ingin mengusung juga Puan menjadi cawapres maka PDIP butuh suara minimal 30% dalam Pileg 2014. Walaupun popularitas Jokowi yang tinggi, sayangnya tidak sejalan dengan peningkatan suara PDIP. Megawati sendiri sudah mencoba dengan berbagai cara seperti mengatakan bahwa Jokowi adalah petugas partai atau pun pemberian mandat dll. Tujuannya agar rakyat tahu, bahwa Jokowi itu orang PDIP dan jika ingin dia jadi capres anda juga harus memilih PDIP. Tetapi sayang sekali walaupun udah bermacam cara di lakukan target 30% suara di Pileg tidak tercapai. Impian mengusung Capres dan Cawapres sendiri pun sirna. Dengan Cuma mengantongin 19% suara nasional maka mau tidak mau harus berkoalisi dengan partai lain. Dan target paling realistis adalah JK yang merupakan kader golkar dan punya basis pendukung setia.
Kembali ke Jokowi dan Prabowo. Jokowi yang sejak pilgub DKI selalu menjadi “anak emas” media. Bahkan setelah menjadi Gubernur pun kita melihat dia tidak berhenti muncul di media. Yang oleh sebagian orang di sebut pencintraan. Akan tetapi semua berubah ketika memasuki tahun 2014. Media yang biasa selalu meliput positif jokowi mendadak mulai menyerangnya. Berbagai kampanye hitam ikut diedarkan luas ke masyarakat. Yang membuat elektabilitas jokowi sendiri tidak ada perubahan berarti masih berkutat sekitar 45%. Sebaliknya, Prabowo sendiri di tahun 2014 malah mengalami kenaikan elektabilitas yg signifikan. Dalam setengah tahun yang dari “cuma” skitar 19% meroket sampai 43% menjelang pilpres. Hal ini tidak terlepas dari media yang banyak menayangkan kampanye hitam ke Jokowi dan juga citra positif Prabowo sebagai sosok yang pemberani, tegas dan cerdas. Ironis sebenarnya karena yang di lakukan Prabowo sebenarnya hampir sama dengan pencitraan Jokowi ketika Pilgub dulu. Tetapi publik seakan lupa karena title pencitraan seperti sudah milik Jokowi seorang. Sama seperti pelanggar HAM menjadi milik Prabowo, penjual BUMN untuk Megawati ataupun peragu/lambannya SBY. Sehingga orang lain tidak boleh mendapatkan sebutan serupa.
Singkatnya, Pilpres 2014 pun usai dan KPU memenang kan Jokowi. Kemudian pihak yang kalah tidak dapat menerimanya sehingga banyak di warnai insiden-insiden yang bisa di bilang cukup lucu kalau tidak mau di bilang aneh. Mulai dari saling klaim pemenang berdasarkan quick countnya sesaat setelah Pilpres 9 Juli. Ataupun pernyataan mundur dari Pilpres 2014 sesaat sebelum pengumuman hasil pemilu oleh kubu Prabowo-Hatta karena menganggap ada kecurangan di KPU. Dan kemudian mendadak berubah pikiran dan menggugat KPU ke MK. Dan jika di MK tetap memenangkan Jokowi maka. Dengan terpilihnya Jokowi berdasarkan perspektif saya di atas maka pantas di sebutkan. “Boneka Yang Menerkam Sang Macan.” Jadi siapa yang benar dan siapa yang salah? Semua menjadi tidak jelas karena di politik semua adalah abu-abu. Tergantung dari sisi mana anda memandangnya.
Sumber : http://ift.tt/1xPaYX9